Casmini, Kader Aisyiyah yang Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Psikologi Umum

Berita 11 Nov 2021 1 101x
Pengukuhan Guru Besar Casmini

Casmini, Anggota Majelis Tabligh PP Aisyiyah dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Psikologi Umum

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Keluarga adalah sistem sosial yang menentukan gerak laju peradaban manusian. Bukan tanpa sebab, mengingat keluarga merupakan unit sosial yang menjadi tempat bagi manusia untuk saling memberikan dukungan, pengetahuan, sekaligus tempat kembali setelah lelah berjuang di tengah kerasnya hidup.

Hanya saja, fungsi (tradisional) keluarga sebagaimana disebut di atas mulai mengalami pergeseran seiring derasnya arus globalisasi. Dalam pidato pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Psikologi Umum yang disampaikan di hadapan rapat Senat Terbuka Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Casmini menyampaikan bahwa persoalan-persoalan yang dulu cukup diselesaikan secara “kekeluargaan”, bergeser ke dalam proses penyelesaian yang diatasnamakan “demokrasi”.

Fungsi tradisional keluarga lambat laun dialihkan kepada institusi sosial modern. Pergeseran ini tidak dapat dikatakan berjalan mulus, karena institusi sosial modern oleh beberapa pihak dinilai tidak cukup mampu menggantikan fungsi tradisional keluarga. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan keluarga mulai kehilangan fungsi tradisionalnya? Benarkah keluarga tidak lagi mempunyai fungsi psikologis di tengah krisis multidimensi yang terjadi dewasa ini? Pertanyaan itulah yang coba dijawab Casmini.

Di bawah judul “Resiliensi Keluarga dan Pencarian Kebahagiaan Masyarakat Jawa di Era Global”, Casmini menjelaskan bahwa resiliensi keluarga dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti adaptasi dengan lingkungan, kemampuan lingkungan untuk berubah dan merespons kebutuhan, serta adanya dukungan sosial di sekitarnya.

Baca Juga: Komitmen Keluarga Sakinah Aktivis ‘Aisyiyah

Sebagai unit sosial terkecil sekaligus terpenting, keluarga mempunyai peran untuk mengantarkan anggotanya menuju kebahagiaan. “Dalam proses formasi resiliensi, kebahagiaan adalah kualitas-kualitas hasil belajar bersama antar anggota keluarga,” jelas Casmini, Anggota Majelis Tabligh PP ‘Aisyiyah.

Eksis atau tidaknya kebahagiaan di dalam sebuah keluarga, menurut Casmini, mempengaruhi kekuatan resiliensi keluarga, dan lebih jauh menentukan gerak laju peradaban. Mengutip pendapat Seligman (2002), Casmini menyebut ada enam gagasan moral yang dapat meningkatkan kebahagiaan keluarga.

Pertama, setiap anggota mempunyai daya belajar dan/atau daya serap inspirasi dari lingkungan di sekitarnya. Kedua, mempunyai semangat menghadapi segala tantangan. Ketiga, punyai sikap mengasihi, menyayangi, dan membangun kenyamanan dengan anggota keluarga yang lain. Keempat, menjunjung nilai keadilan dan kesetaraan di tengah keluarga. Kelima, mempunyai sikap moderasi. Keenam, mempunyai kesadaran transendental.

Terpenuhinya enam gagasan itu di dalam sebuah unit keluarga akan melahirkan kebahagiaan dalam bentuk material dan immaterial. Ya, kebahagiaan memang tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh kepemilikan harta (materi). Rasa aman, damai, dan tenteram (immateri) juga menjadi penentu kebahagiaan seseorang atau sebuah keluarga. Pencapaian kebahagiaan, kata Casmini, adalah perpaduan antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.

Dalam konteks masyarakat Jawa, seseorang akan terus berproses hingga memenuhi kualifikasi sebagai “dadi wong”, “dadi Jowo”, atau “manungsa tanpa ciri”. Lebih lanjut, Casmini menyebut tiga kualitas kematangan pribadi orang Jawa, yakni sepuh, wutuh, dan tangguh.

“Pribadi sepuh adalah pribadi yang senantiasa mengoptimalkan fungsinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Pribadi wutuh adalah pribadi yang utuh tanpa kesengajaan melenceng. Pribadi tangguh adalah pribadi yang mampu melaksanakan kehidupan dengan rasa suka cita meski berada di tengah ujian, duka, dan nestapa. Ketiga kategori kualitas psikologis tersebut menunjukkan seorang yang sehat pribadi, dan merupakan wujud pencapaian tertinggi dari pencarian makna hidup orang Jawa,” kata Casmini, Kamis (11/11).

Tiga kualitas itu tak dapat dilepaskan dari nilai utama orang Jawa, yakni; (a) pengayatannya atas nilai Ilahiah; (b) usaha untuk menjaga keharmonisan, baik internal maupuan eksternal; (c) fokusnya pada perasaan, dan; (c) integrasi antara pikiran, perasaan, dan perbuatannya untuk selalu selaras aturan Tuhan. Nilai-nilai itulah yang mempengaruhi kualitas kebahagiaan orang Jawa.

Hanya saja, terutama ketika terjadi kontak budaya antara orang Jawa dan masyarakat global, konsep kebahagiaan itu mengalami tantangan. Oleh karenanya, perlu ada komitmen dan motivasi yang kuat dari orang Jawa untuk menjaga kesehatan lahir dan kebersihan batinnya. Pada waktu bersamaan, orang Jawa juga perlu mengintegrasikan antara nilai-nilai Jawa dengan nilai yang berkembang di era globalisasi.

“Problem sosial kita hari ini bergerak di lintasan yang nyaris bersifat global dan lokal sekaligus. Masalah pada daya resiliensi di tingkat keluarga dan individu adalah representasi dari suatu masalah di tingkat masyarakat regional, nasional hingga internasional. Kita, sebagai manusia kehilangan pijakan yang cukup kuat untuk melalui masa-masa transisi peradaban yang besar,” pungkas Casmini. (sb)

One thought on “Casmini, Kader Aisyiyah yang Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Psikologi Umum”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *