AnakWawasan

Cermin Buram Rumah Tangga Patriarki bagi Anak; Bagaimana Sikap Perempuan Berkemajuan?

Oleh: Zaidan Aufi Romadhoni

Membahas isu tentang perempuan selalu hangat tak lekang jaman. Selama berabad-abad, eksistensi perempuan erat kaitannya dengan berbagai paradoks yang menjelma warisan turun temurun dalam wadah ingatan kolektif masyarakat. Disorientasi pemaknaan cerita tentang Adam dan Hawa menjadi biang keladi. Khilafnya Hawa saat tergoda buah khuldi disimbolkan sebagai interpretasi bahwa perempuan adalah pemicu lahirnya dosa pertama umat manusia. Hingga pada akhirnya, budaya patriarki merebak luas dalam paradigma masyarakat; perempuan dihukum sebagai golongan manusia kelas dua, sedangkan laki-laki diberkati dengan superioritas penuh.

Mengkaji melalui perspektif Islam, sangat jelas bahwasannya patriarkisme telah lama diperangi secara terang-terangan. Sumbangsih Nabi Muhammad saat mengubah kebiasaan masyarakat jahiliyah di masa lampau, yakni mengubur bayi perempuan hidup-hidup adalah bukti kredibelnya. Bahkan, dalam hadis Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548, Rasulullah saw. menyebut hingga tiga kali posisi ibu sebagai orang pertama yang wajib dihormati. Dari situlah dapat kita simpulkan bahwa manifestasi perempuan dalam kehidupan memiliki posisi yang tak boleh dipandang remeh.

Hal tersebutlah yang agaknya mendorong kaum perempuan hari ini untuk mewujudkan gerakan “Perempuan Berkemajuan” melalui naungan payung organisasi ‘Aisyiyah. Gerakan Perempuan Berkemajuan berusaha untuk memperbaiki maraknya ketimpangan gender dalam tubuh masyarakat, baik secara kultural maupun struktural melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Namun, jika melihat lingkungan sosial kita hari ini, niat mulia untuk mewujudkan gerakan perempuan berkemajuan secara kaffah tersebut pasti akan menemui banyak jalan terjal. Karena meski telah banyak pencerahan dan usaha untuk memperbaiki, merobohkan budaya patriarki dalam pola sosial masyarakat kita tidak semudah yang dibayangkan. Praktik-praktik patriarki acap kali mencuat dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja, dalam kasus kekerasan terhadap perempuan yang ramai terjadi dalam kiwari saat ini.

Komnas Perlindungan Perempuan Indonesia mencatat, terdapat 299.911 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2020. Itu pun baru kasus yang terdokumentasi di pengadilan. Belum lagi ditambah dengan kasus yang luput dari pengawasan hukum –yang besar kemungkinan jumlahnya bejibun. Melihat suburnya patriarkisme sebagai akar berbagai permasalahan dalam masyarakat kita, maka tak heran jika Juddith Boneth dalam karyanya, History Matters, mengungkapkan bahwa patriarki adalah permasalahan paling akbar yang terjadi dalam bingkai sejarah perempuan dan manusia pada umumnya.

Baca Juga: Titik Temu Kesetaraan Gender

Statement tersebut bisa jadi ada benarnya. Karena dengan berlatar tempat dalam rumah tangga, kengerian implementasi dari segala macam bentuk patriarki yang diterima perempuan (dalam kasus ini adalah istri dalam rumah tangga), besar kemungkinan akan menjadi cermin buram bagi perkembangan si anak. Karena setiap anak merupakan aset berharga bagi masa depan bangsa dan negara. Maka, sudah seyogyanya jika anak-anak mendapat ruang tumbuh-kembang terbaik dalam keluarga, bukan malah menjadi korban tak langsung dari patriarkisme ini.

Jika masa kecil anak lelaki selalu dipertontonkan dengan adegan patriarki yang dilakukan oleh ayah kepada ibunya, maka di masa depan anak pun rawan mempraktikan ulang patriarkisme yang disimpan dalam amigdala masa kecilnya tersebut kepada perempuan lain, atau istriya sendiri. Sederhananya, karena semua anak adalah ‘peniru ulung’ bagi orang tuanya.

Feedback yang sama mengerikan pun besar kemungkinan akan diterima anak perempuan jika mendapati sang ibu menjadi korban patriarki dari ayahnya. Stimulus pahit tersebut akan mengendap dalam kepalanya, lalu menjelma menjadi pengalaman traumatis yang tentu mempengaruhi pola pikir sang puteri dalam melanjutkan hidup ke fase remaja atau dewasa. Trauma untuk menjalin hubungan ke jenjang pernikahan, misalnya.

Dalam konteks tersebut, sebagian besar dari kita pasti akan sepakat jika salah satu faktor utama yang menyebabkan tumbuh suburnya patriarkisme dalam rumah tangga adalah disorientasi pemahaman suami terhadap esensi posisi istri, utamanya melalui perspektif agama Islam. Karena dalam sudut pandang masyarakat kita yang mayoritas muslim ini, pemahaman terhadap posisi istri haruslah berada dalam kekangan penuh seorang suami. Pendapat tersebut adalah kekeliruan berbau misoginis yang tidak dapat dibenarkan.

Lalu, bagaimana sikap perempuan berkemajuan dalam menyikapi fenomena pelik ini? Perempuan muslimah hendaknya dapat memilih dengan baik dan selektif calon suami yang akan menjadi imamnya kelak. Bukan hanya lelaki yang dapat memenuhi nafkah jasmani dan rohani, namun, kriteria memilih seorang lelaki untuk dijadikan suami juga perlu melihat apakah ia dapat memahami ikhwal kesetaraan gender dalam rumah tangga yang berbasis nilai-nilai ajaran Islam yang lurus.

Hal tersebut merupakan kunci utama dalam menyelesaikan polemik ini. Karena jika kita amati, tidak sedikit perceraian yang diakibatkan oleh kesalahpahaman sepele antara suami dan istri, yang bermula dari blunder dalam memilih pasangan. Lagi-lagi, anak yang harusnya menjadi perekat dalam rumah tangga malah menjadi korban dalam perceraian tersebut. Ia pun tumbuh dalam bayang-bayang broken home yang begitu gelap tanpa kasih sayang utuh dari kedua orang tua.

Baca Juga: Perempuan Merdeka, Kemajuan Peradaban Tercipta

Setelah memastikan kriteria suami yang dapat memahami nilai-nilai Islam secara kaffah serta memiliki pemahaman terhadap kesetaraan gender, perempuan berkemajuan pun harus dapat menjadi madrasah pertama bagi anak untuk mengenal perihal dasar-dasar gender. Hal ini juga tak kalah penting dalam perjalanan menghapuskan patriarkisme. Pendidikan perihal gender memang harus bermula dari orang tua, utamanya ibu dari seorang anak. Mengingat fase anak-anak merupakan masa emas untuk dapat mencerna afirmasi positif yang dapat memengarui aspek kogitif dan sosio-emosinya.

Namun, proses dalam pendidikan gender sejak dini ini pun mendapat hambatan tersendiri. Masyarakat kita memandang bahwa gender hanya sebatas ‘alat kelamin’ belaka yang mengarah kepada ranah seksualitas. Dan kita pun tahu, membahas seks dalam ruang lingkup kita sangat dianggap tabu, apalagi dibicarakan kepada anak yang masih belia. Padahal, dengan mengenal substansi dari kesetaraan gender sejak dini pun teramat penting, agar bibit-bibit diskriminasi gender di masa mendatang dapat diminimalisir pertumbuhannya.

Maka dari itu, diperlukan pula metode pendekatan yang benar-benar relevan agar dapat menjadi promotor gender education dari orang tua terhadap anak. Rasulullah saw. pun memberikan tauladan dalam hal ini. Misalnya, dengan memisahkan tempat tidur anak lelaki dan perempuan sejak usia 7 tahun, untuk mencegah terjadinya peluang zina. Dari sana, kita belajar bahwa orang tua harus dapat menyeimbangkan antara kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak-anak tentang pemahaman gender.

Pada akhirnya, segala macam bentuk akar dari patriarkisme dalam pelbagai aspek kehidupan sosial harus dihapuskan, utamanya dalam ranah rumah tangga. Setiap dari kita memiliki peran yang sama untuk menghapuskannya, tidak terkecuali kaum perempuan berkemajuan. Mengingat bahaya langsung maupun tak langsung dari patriarkisme yang dapat beregenerasi di setiap era, maka, ada baiknya membekali setiap anak dengan dengan pendidikan intelektual yang seirama dengan akidah Islam dalam rangka mempersiapkan masa depan yang bebas dari patriarkisme. Semoga Allah swt. senantiasa merahmati segala perjuangan kita.

Related posts
Sejarah

Muktamar Ke-37 Yogyakarta, Muktamar Pertama Aisyiyah sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah

‘Aisyiyah berdiri pada 27 Rajab 1335 H atau bertepatan dengan 19 Mei 1917 M. Nama ‘Aisyiyah bermakna pengikut ‘Aisyah, istri Nabi Muhammad…
Berita

PWA Sumatera Utara Adakan Pelatihan Konseling Keluarga dan Perkawinan

Medan, Suara ‘Aisyiyah – Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sumatera Utara melalui Biro Informasi Konsultasi Keluarga Sakinah Aisyiyah (BIKKSA) mengadakan Pelatihan Konseling Keluarga…
Parenting

Mengolah Stres Pada Anak

Dewasa ini media sosial sering dihiasi dengan postingan-postingan bernuansa sendu, mulai dari masalah putus hubungan, masalah pekerjaan, hingga masalah perceraian. Postingan yang…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.