Covid-19 Melandai, Optimis Hadapi Gelombang Ketiga dengan Patuh 5 M, 3T, dan Vaksinasi

Berita 16 Nov 2021 0 45x

Roadshow PTMA Optimis Hadapi Covid-19Surakarta, Suara ‘Aisyiyah – Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah bersama Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Webinar Roadshow Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) Tangguh Pandemi dengan tema “Peran Mahasiswa sebagai Penggerak Gerakan Optimis Hadapi Pandemi”.

Kegiatan sebagai bagian dari semarak Milad Muhammadiyah ke-109 ini dilaksanakan Ahad, 15 November 2021, di Gedung Siti Walidah UMS dan diikuti oleh 1000 mahasiswa lebih. Narasumber yang menjadi pembicara adalah Budi Santoso dari Divisi Informasi dan Komunikasi MCCC PP Muhammadiyah dan EM Sutrisna, Wakil Rektor IV UMS sekaligus Ketua Gugus Tugas Satgas covid 19.

Agus Samsudin, Ketua MCCC PP Muhammadiyah saat memberi sambutan pembukaan mengatakan bahwa meskipun kasus Covid-19 di Indonesia sudah melandai, namun MCCC masih berhati-hati dalam mengambil sikap.

“Kami masih ingin menunggu bulan Desember – Januari. Kenapa? Karena bulan Desember ini adalah libur massal, ada Natal, kemudian ada juga muktamar ormas. Kita kepingin melihat dari kumpulan aktifitas yang mengumpulkan manusia ini apakah ada dampak atau tidak di bulan Januari. Baru kita akan mereview kembali seluruh SOP, proses yang berlaku untuk kemudian mudah-mudahan kita bisa beraktifitas lebih banyak,” kata Agus yang memberi sambutan secara online.

Terkait dengan peran PTMA, menurut Agus Samsudin, dari awal pandemi sudah cukup membantu karena ada berbagai macam program dilaksanakan dalam rangka penanganan Covid-19 seperti pembagian sembako, ada pemotongan SPP, bantuan pulsa dan support lain jika mahasiswa terpapar Covid-19 serta edukasi kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat sekitarnya.

Baca Juga: Epidemiolog: Vaksinasi dan Protokol Kesehatan Kunci Penanganan Pandemi Covid-19

Dekan FIK UMS, Umi Budi Rahayu yang sekaligus ketua panitia penyelenggara dalam sambutan singkatnya mengungkapkan adanya pandemi Covid-19 membuat lebih mudah untuk beradaptasi. “Ini sesungguhnya satu loncatan dalam kita menghadapi transformasi digital yang massif akhir-akhir ini sehingga teknologi yang mendukung proses pembelajaran benar-benar bisa kita terapkan dan pelajari,” katanya.

Narasumber pertama, Budi Santoso dalam paparannya menekankan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gelombang ketiga Covid-19, meskipun ada epidemolog yang mengatakan kemungkinan gelombang ketiga sangat kecil.

“Bulan November mulai ada kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia, walaupun tidak signifikan. Ini menjadi warning bagi kita bersama,” katanya.

Budi Santoso juga menyampaikan pentingnya kewaspadaan terhadap virus Corona varian baru yaitu Delta A.Y.4.2 (Delta Plus). “Saat ini memang belum sangat signifikan berpengaruh di Indonesia, tapi di luar negeri, Singapura, Inggris dan Eropa sudah merasakan betul dahsyatnya penyebaran virus varian ini, bahkan WHO mewanti-wanti seluruh negara,” imbuh Budi Santoso.

Oleh karena itu, Budi Santoso melanjutkan bahwa para mahasiswa dan semua civitas akademika mempunyai peran penting dalam perubahan perilaku. Ini terutama menyangkut prokes 3M, 3T, dan vaksinasi.

Sementara narasumber kedua EM Sutrisna menyampaikan optimisme ketangguhan bangsa Indonesia dalam menghadapi gelombang ketiga pandemi Covid-19. Bahkan menurutnya, data yang terakhir, Indonesia termasuk yang dipuji cukup berhasil dalam mengatasi pandemi Covid-19.

“Saya termasuk yang optimis kita akan melandai terus, dalam artian seandainya  ada gelombang ketiga karena ada situasi di bulan Desember dan Januari, Insya Alloh tidak seperti bulan Juli. Karena apa? Ada beberapa indikator, jadi pola grafiknya itu bisa terbaca. Yang kedua, sekarang kesadaran semua masyarakat sudah meningkat, tentang 5M, 3T, 1V itu sudah meningkat,” katanya.

Selanjutnya, EM Sutrisna menambahkan jumlah kasus harian Covid-19 ini sekarang sudah dibawah 500, meskipun belum teruji karena baru berjalan beberapa minggu terakhir. Kemudian kasus aktif Covid-19, di Indonesia dibawah 10 ribu.

Terakhir, berdasarkan ajaran Islam, menurut EM Sutrisna dibalik kesulitan ada kemudahan seperti tercantum dalam surat al-Insyiroh (Alam Nashroh).

“Ternyata pandemi ini luar biasa menyulitkan, di tahap awal, betapa ekonomi kemudian lumpuh, pembelajaran kaget, maka sekarang kita bisa survive ternyata ada beberapa kemudahan bahkan ada muncul kreasi baru. Ini mungkin saat tepat kita transformasi menuju era digital,” imbuhnya.

Namun, EM Sutrisna tetap mengingatkan bahwa sesuai ajaran Islam juga kita semua tetap harus waspada, berjaga-jaga meskipun kasus Covid-19 melandai. “Tetap kita waspada, kita tidak boleh kendor dengan 5M, 3T dan 1V, tetap kita berjaga-jaga,” pungkasnya. (Budi Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *