Dakwah Berkemajuan bagi Penyandang Difabilitas

Kalam 18 Jul 2020 0 69x

Oleh: Miftahulhaq (Dosen AIK UMY dan MT PPM)

Nabi saw pernah ditegur oleh Allah swt. secara langsung berkaitan dengan sikap beliau terhadap sahabat Abdullah bin Ummi Maktum. Dikisahkan bahwa pada saat Nabi saw sedang menerima kunjungan dari beberapa tokoh Quraisy, beliau menerimanya dengan penuh antusias dan berdialog dengan penuh perhatian. Di tengah dialog, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat beliau yang tunanetra. Ia memohon kepada Nabi saw agar membacakan kepadanya beberapa ayat al-Qur’an. Karena begitu seriusnya dialog Nabi saw dan para tamu tokoh Quraisy tersebut, beliau tidak memberikan respon terhadap permohonan sang sahabat itu. Abdullah bin Ummi Maktum tidak menyadari bahwa Nabi saw sedang menerima tamu dan berdialog serius dengan mereka. Dia pun memohon lagi agar Nabi saw berkenan membacakan beberapa ayat al-Qur’an kepadanya. Rupanya Nabi saw merasa terganggu. Beliau lalu memalingkan mukanya dari Abdullah bin Ummi Maktum dan terus melanjutkan dialog dengan para tamunya. Seusai para tamu pulang, Nabi saw ditegur langsung oleh Allah dengan turunnya surat ‘Abasa yang berarti bermuka masam.

Dakwah Berkemajuan bagi Penyandang Difabilitas

Setelah peristiwa tersebut, Nabi saw senantiasa memberikan pelayanan dan penghormatan yang lebih kepada Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat beliau tersebut. Apabila sahabat ini datang, Nabi saw senantiasa menyambutnya dengan antusias. Beliau kerap meng-ungkapkan salam, ”Selamat datang wahai Saudara yang menyebabkan aku ditegur oleh Tuhan-ku (ahlan biman atabany fihi Rabbii)”. Bahkan, beliau senantiasa melayani segala apa yang  diinginkan sahabatnya yang tunanetra itu dengan baik. Abdullah bin Ummi Maktum diberikan kepercayaan sebagai salah seorang muadzin Rasulullah saw. Tidak hanya itu, tatkala Nabi saw berada di luar kota Madinah, sahabat ini pernah diberikan kepercayaan untuk memimpin kota Madinah.

Selain Abdullah bin Ummi Maktum, Nabi saw juga menorehkan kisah menarik dengan sahabatnya yang lain, Julaibib. Sahabat beliau ini memiliki tubuh pendek dan tidak menawan. Karena kondisi fisik ini, masyarakat Madinah kurang menyukai keberadaannya. Namun Nabi saw tetap menyayangi Julaibib. Setelah peristiwa hijrah, Nabi saw mengangkat martabat sahabatnya itu dengan menjadikannya sebagai teman dan merawatnya. Bahkan dikisahkan juga bahwa beliau melamarkan seorang gadis cantik untuknya. Secara khusus, beliau memanjatkan doa, “Ya Allah, limpahkan kepada keduanya kebaikan, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.” (Allahumma shubba ‘alaihimaa al-khaira shobbaa, wa laa taj’al ‘aisya humaa kadda kadda)”.

Dua kisah di atas memberikan pelajaran bahwa Nabi saw telah menunjukkan sikap inklusi atau kesetaraan terhadap kaum difabel. Beliau mencontohkan bagaimana seorang muslim harus melakukan advokasi terhadap kaum difabel. Setiap muslim dituntut agar memiliki sikap untuk memuliakan, melayani, dan menyejahterakan saudaranya yang memiliki keterbatasan secara fisik.

Kisah Abdullah bin Ummu Maktum mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang itu bukan terletak pada kesem-purnaan fisik semata. Oleh karena itu,  setiap muslim harus bersikap adil dalam berhadapan dengan siapa pun tanpa memandang kondisi fisiknya. Setiap mukmin juga dilarang Allah untuk menghina dan merendahkan orang lain karena bisa jadi orang yang dihina dan direndahkan itu kondisinya lebih baik daripada yang menghina. Hal ini telah Allah tegaskan dalam surat al-Hujurat ayat 11:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. al-Hujurat: 11)

Ada sebuah kisah yang dialami oleh Sahabat Abdullah bin Mas’ud, salah satu sahabat Nabi saw yang pandai dalam menafsirkan al-Qur’an. Suatu hari dia memanjat sebuah pohon dan seketika angin berhembus sehingga kakinya terlihat. Beberapa sahabat yang melihat kaki Abdullah bin Mas’ud tertawa. Nabi saw pun menegur mereka dan beliau berkata, “Apa yang membuat kalian tertawa? Ketahuilah bahwa di hari pembalasan, kedua kaki Ibnu Mas’ud akan lebih berat di timbangan daripada Gunung Uhud.”

Kisah Abdullah bin Mas’ud secara nyata mengajarkan setiap muslim untuk tidak terjebak pada penampilan fisik. Hendaknya setiap muslim juga tidak merendahkan atau menghinakan kaum difabel. Ajaran Islam sendiri tidak membatasi kaum difabel untuk melakukan ibadah. Keterbatasan fisik bukan hambatan bagi seseorang untuk melaksanakan ibadah. Ibadah shalat, misalnya. Fiqih Islam membolehkan seseorang melakukan ibadah shalat sesuai dengan kemampuannya. Apabila tidak mampu berdiri, diperbolehkan untuk melakukan shalat dengan duduk atau berbaring. Dalam hal tersebut, shalatnya tetap sah sepanjang niat dan syarat rukunnya terpenuhi.

Islam juga menegaskan bahwa orang-orang yang akan mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan hidup bukanlah dilihat dari kondisi fisiknya, tetapi dilihat dari iman dan amal salehnya. Siapa saja, baik laki-laki atau perempuan, sempurna atau memiliki keterbatasan secara fisik, memiliki ke-
sempatan sama untuk meraih kemuliaan dan kebahagiaan hidup dari Allah Swt. Hal ini Allah sebutkan dalam surat An-Nahl ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An-Nahl: 97)

Baca selengkapnya di Rubrik Hikmah, Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2019, hal 6-8

Sumber Foto : https://borgenproject.org/developing-countries-need-raise-enrollment-disabled-children/

Leave a Reply