Dakwah Nabi Muhammad: Dakwah Multidimensi

Kalam 4 Jun 2021 1 126x
Ilustrasi dakwah

Ilustrasi dakwah (foto: masrafli.com)

Oleh: Mohammad Damami Zain

Jama’ah Rahimakumullah.

Untuk memetakan “bangunan utuh” dakwah Nabi Muhammad saw., tampaknya  bukan perkara mudah. Sebab, dalam konsep “dakwah” yang diajarkan agama Islam yang bersumber utama dari al-Quran, ada dua faktor utama yang sama sekali tidak dapat dipisahkan, yaitu faktor “sosok orang” yang dalam hal ini adalah Nabi Muhammad selaku Rasulullah (utusan Allah) dan faktor “substansi risalah” berupa ajaran yang disampaikan Rasulullah saw. Dengan demikian, secara teoretis, untuk memetakan bangunan utuh dakwah Nabi Muhammad saw. paling tidak harus melibatkan bagian-bagian dari biografi beliau dalam proses berdakwah, mulai periode Makkah sampai periode Madinah. Hal yang tidak kalah penting lagi adalah menggambarkan substansi ajaran agama Islam yang tertabur dalam kitab suci al-Quran.

Tabligh dan Dakwah

Secara garis besar (makro), dapat ditafsirkan bahwa sebenarnya diutusnya para rasul, termasuk kerasulan Nabi Muhammad saw., adalah pemenuhan janji Allah swt. sendiri dalam al-Quran. Allah swt. menjanjikan kepada Nabi Adam as. dan istrinya (QS. al-Baqarah [2]: 38) bahwa mereka berdua dan anak keturunannya tidak perlu merasa takut dan khawatir tidak dapat lagi kembali masuk surga. Sepanjang mau taat kepada petunjuk yang disampaikan, mereka berdua dan anak keturunannya tidak perlu bersedih hati.

Berdasarkan ayat di atas, maka para rasul pada umumnya, Nabi Muhammad saw. khususnya, memiliki tugas utama untuk “menyampaikan petunjuk” Allah swt. Tugas ini diberi istilah “tablīgh“ (QS. al-Maidah [5]: 67). Adapun respons terhadap penyampaian petunjuk (tabligh) tersebut, umat manusia memiliki hak untuk memilih, apakah bersedia menerimanya atau menolak-nya (QS. Ali-Imran [3]: 20; QS. al-Maidah [5]: 92, 99). Dalam tabligh, tidak ada unsur pemaksaan dalam proses penerimaan substansi yang disampaikannya, melainkan lewat kesadaran dalam menerimanya (QS. al-Baqarah [2]: 256).

Baca Juga

Dakwah Moderasi Islam Muhammadiyah-’Aisyiyah

Karena sifat “tablīgh” seperti ini, maka diperlukan “sosok orang”, yaitu para rasul, yang dalam keutuhan biografinya, tidak pernah memiliki cacat kepribadian, watak, sifat, mental, sehingga patut dijadikan “teladan hidup” (QS. al-Ahzab [33]: 21). Dengan demikian, dapat dipahami sepenuhnya jika al-Quran menegaskan pribadi Nabi Muhammad saw. sebagai pribadi yang unggul akhlaknya (QS. al-Qalam [68]: 4). Di samping itu, Nabi Muhammad saw. sendiri menegaskan bahwa diangkatnya beliau sebagai utusan Allah swt. adalah dalam rangka menuntaskan tercapainya keluhuran akhlak umat manusia (HR. Imam Ahmad). Oleh sebab itu, beliau harus berposisi sebagai teladan kehidupan.

Sementara itu, muatan “tablīgh” adalah berupa kumpulan apa saja yang diturunkan kepada Rasulullah saw. berupa “risālah”, yaitu firman dan ajaran-ajaran-Nya yang dapat mengantarkan orang-orang untuk mendapatkan petunjuk atau hidayah (QS. al-Maidah [5]: 67). Dengan pengertian ini, maka muatan “tablīgh” merupakan substansi ajaran yang perlu disampaikan untuk ditawarkan dan diajakkan oleh Rasulullah saw. Tugas menyampaikan ini juga melekat pada setiap orang muslim atau setiap kelompok muslim (QS. an-Nahl [16]: 125) yang kemudian diberi istilah “da’wah”.

Dengan demikian, kalau disederhanakan pengertiannya, “tablīgh” adalah penyampaian petunjuk dalam hal tertentu atau bidang tertentu agar dapat diterima dengan penuh kesadaran dan tanpa pemaksaan. Sementara itu, pelaku “tablīgh” disebut “muballigh” yang sosok pribadinya patut diteladani secara terus-menerus tanpa jeda selama hidupnya, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Baca Juga

Geliat Dakwah ‘Aisyiyah melalui Strategi Pemberdayaan

Selanjutnya, yang disebut “da’wah” adalah kumpulan hal-hal atau bidang-bidang yang telah disampaikan lewat “tablīgh” yang tujuannya adalah untuk ditawarkan dan sekaligus diajakkan dengan tujuan agar para pengapresiasi dan penerimanya memperoleh petunjuk dan hidayah yang karena itu hidup dan kehidupannya selamat, baik ketika masih hidup di dunia, maupun nanti ketika hidup dalam akhirat. Dengan demikian, antara “tablīgh” dan “da’wah” boleh disebut sebagai sebuah paket yang tidak terpisah.

Living Dakwah dan Dakwah Sistematis

Pelaku “da’wah” disebut “dā’i” untuk orang yang berjenis laki-laki dan “dā’iyah” untuk orang yang berjenis perempuan. Namun, secara umum disebut “dā’i” yang di dalamnya sudah tercakup kalangan laki-laki maupun perempuan.

Da’i, untuk selanjutnya ditulis “dai”, yang pertama kali dalam Islam adalah Nabi Muhammad saw. Ini tersebut dalam al-Quran (QS. al-Mudatsir [74]: 1-7). Tugas utama dalam menawarkan dan mengajak adalah memberi kabar gembira (basyīran) dan memberi peringatan (nadzīran) (QS. al-Baqarah [2]: 119; QS. Saba’ [34]: 28; QS. Fathir [35]: 24). Dengan demikian, pemula kegiatan dakwah adalah dai atau pelaku dakwah yang patut diteladani sebagaimana Nabi Muhammad saw. telah memberi contoh dan memberi teladan.

Jama’ah Rahimakumullah.

Pada zaman Nabi Muhammad saw. masih hidup, percontohan dan muatan dakwah adalah berpusat pada sosok Nabi Muhammad saw. sendiri. Sebab pada waktu itu, substansi, konten (isi yang bersifat teknis), sasaran atau objek, dan metodologi (cara-cara sistemik) melakukan dakwah, sepenuhnya masih bersumber dan berada di bawah bimbingan Nabi Muhammad saw. Karena itu, sosok Nabi Muhammad saw. dan dakwah itu sendiri masih menyatu. Inilah yang kita sebut “dakwah yang hidup” (living dakwah). Dakwah model Nabi Muhammad saw. dalam zamannya ini dapat ditelusuri secara kronologis lewat bahan biografi Nabi (sirah nabawiyah), urutan turunnya surah dan ayat, serta kumpulan hadis yang ada. Usaha semacam ini diakui tidaklah gampang, melainkan memerlukan keseriusan dan ketekunan yang luar biasa.

Baca Juga

Menjaga Paham Islam Berkemajuan

Setelah Nabi Muhammad saw. wafat dan perjalanan keilmuan keislaman mulai bertumbuh dan berkembang, maka dakwah model “living dakwah” bergeser menjadi dakwah yang bersifat terencana dan terukur. Substansi dakwah yang termuat dalam kitab suci al-Quran  (yang mulai disatukan menjadi satu mush-haf yaitu Mushhaf Ustmani), dan kumpulan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. yang mulai dirintis dan digalakkan (paling tidak pada abad ke-1 dan ke-2 Hijriyah serta seterusnya), mulai disistematisasikan secara “ilmiah”. Mulailah timbul berbagai ilmu keislaman, seperti ilmu akidah (fikih akbar), syari’ah (bermuatan tentang ibadah dan mu’amalah), serta akhlak (bersisian gerakan zuhud).

Selanjutnya, ketika agama Islam makin luas pengaruhnya di luar semenanjung Arab, masuk akal kalau para ulama mulai bersentuhan dengan masalah pengembangan kebudayaan Islam, seperti bahasa, ilmu pengetahuan, seni, organisasi masyarakat, sistem komunikasi, sistem rihlah, sistem pertahanan, ekonomi, serta budaya peralatan dan perlengkapan hidup yang sangat bervariasi jenis dan macamnya. Dakwah yang diwacanai dengan perkembangan keilmuan keislaman di atas disebut dakwah sistematis.

Dakwah Nabi Muhammad saw: Perspektif Makro Berkelanjutan

Dilihat dari perspektif yang lebih makro dan berkelanjutan, dakwah Nabi Muhammad saw. berlangsung dalam bingkai prinsip-prinsip umum. Prinsip-prinsip ini untuk persiapan menghadapi hukum perjalanan sejarah umat manusia kapan saja (faktor waktu), di mana saja (faktor tempat), dan dalam kondisi apa saja (faktor lingkungan dan suasana).

Pertama, prinsip pandangan hidup double track atau jalur ganda dalam satu paket. Double track yang paling pokok adalah: (1) ketuhanan dan kemanusiaan, yakni orientasi peribadahan/teologis yang dipadukan dengan orientasi amal saleh/ antropologis; (2) keakhiratan dan keduniaan, yakni orientasi terhadap keadilan hidup yang abadi yang dipadukan dengan orientasi mencari kesejahteraan hidup yang bersifat alami berdasar hukum alam seperti hukum kausalitas, hukum keterpenga-ruhan, dan hukum keseimbangan
dinamis; dan (3) rohani dan jasmani, yakni orientasi mencari kesucian dan ketenangan yang bersifat konstan yang bekerja dalam ruang batin yang dipadukan dengan orientasi mencukupi kebutuhan jasad atau tubuh yang bersifat lahir sebagaimana normalnya.

Kedua, prinsip hukum paradoks proses hidup. Tampilan dari hukum paradoks ini, misalnya: ada-tiada, muda-tua, sehat-sakit, gembira-sedih, pasang-surut, sukses-gagal, lahir-mati, senang-susah, asa besar-putus asa, dan sebagainya.

Ketiga, prinsip hukum perubahan. Hukum perubahan ini terjadi karena adanya “gerak” (movement) sebagai akibat dari bersinerginya 3 (tiga) dimensi, yaitu dimensi waktu (time), dimensi tempat (space), dan dimensi energi/kekuatan (energy). Di situlah perubahan pasti akan terjadi. Minimal, akan terjadi pergeseran.

Keempat, prinsip hukum kebebasan memilih. Di sini, manusia diberikan dua alternatif atau  lebih untuk dipilih secara bebas. Agar pilihannya terhindar dari sifat yang negatif, maka manusia diberi kemampuan untuk memadukan antara pikir dan zikir, antara nalar dan rasa, antara obyektivitas dan subjektivitas, antara pengalaman masa lalu dan harapan yang akan datang, juga antara keharusan (das Sollen) dan kenyataan (das Sein).

Baca Juga

Antara Takdir dan Ikhtiar

Apapun yang akan digali dari contoh dakwah Nabi Muhammad saw. untuk ditafsiri, dikembangkan, dan diterapkan oleh setiap generasi pengikut beliau, diberikan peluang kebebasan. Hanya saja, empat prinsip di atas perlu dipakai untuk pertimbangan utama.

Wallahu a’lam bishshawab

One thought on “Dakwah Nabi Muhammad: Dakwah Multidimensi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *