Dampak Gawai terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak

Gaya Hidup Parenting 14 Agu 2021 0 73x
dampak gawai pada anak

dampak gawai pada anak

Di era teknologi seperti sekarang ini, gawai menjadi kebutuhan bagi semua orang. Kini orang tua bahkan memberikan gawai pada anaknya yang masih berusia dini. Mengutip penelitian Nizar Rabbi Radliya dkk. (2017), dijelaskan bahwa anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya.

Perkembangan sosial emosional pada anak harus dibentuk sejak dini, karena hal itu akan dibutuhkan anak ketika ia masuk ke lingkungan di sekitarnya. Jika anak tak mampu mengelola emosinya dan melakukan interaksi sosial dengan baik, ia akan sulit beradaptasi dengan lingkungannya, dan ia akan sulit menemukan jati dirinya.

Anak usia dini harus dibatasi dalam penggunaan gawai. Selain tidak baik untuk kesehatan, gawai juga tidak baik untuk tumbuh kembang anak. Nizar dkk. (2017) menyebutkan beberapa dampak positif dan negatif gawai terhadap perkembangan anak, yakni:

Pertama, anak mendapatkan kemudahan mendapatkan informasi serta kemudahan untuk menjalin komunikasi jarak jauh; Kedua, gawai tidak hanya bisa dipakai untuk berkomunikasi saja, namun juga dapat dimanfaatkan anak sebagai media hiburan; Ketiga, dengan kemajuan teknologi, anak dapat menjalin komunikasi dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia; Keempat, banyak permainan online yang disukai anak-anak.

Adapun dampak negatif dari gawai terhadap anak adalah: pertama, anak menjadi malas menulis dan membaca; Kedua,  gawai memang memberikan banyak kemudahan (dalam hal ini serba instan), tetapi pada akhirnya anak menjadi tidak sabar dalam menghadapi kelambatan dan kesulitan dalam kehidupan sehari-harinya.

Baca Juga: Hati-hati, Dampak Negatif Penggunaan Gawai Terhadap Kesehatan

Peran orang  tua dalam perkembangan sosial dan emosional anak sangat penting. Apalagi saat ini segala aktivitas dilakukan secara daring, seperti sekolah, mengerjakan tugas, dan lain-lain, yang pastinya memerlukan gawai.

Dalam  penelitian “Peran Orang Tua dalam Mendampingi Penggunaan Gawai pada Anak Usia Prasekolah”, Irmayanti Yuli (2018) menyebutkan alasan orang tua memberikan gawai terhadap anak adalah untuk menenangkan anak saat rewel, sedangkan orang tua harus bekerja. Kemudian dari pada itu, orang tua juga merasa sangat perlu mengenalkan gawai pada anak-anak agar dapat tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman.

Orang tua boleh saja memberikan gawai kepada anak, namun perlu dibatasi penggunakannya. Orang tua juga harus selalu mengawasi anak ketika mereka menggunakan gawai. Per-awal tahun 2018 lalu, Kemeterian Komunikasi dan Informatika melaporkan bahwa ada 93,52% pengguna media sosial yang berusia 9-19 tahun. Data tersebut perlu menjadi perhatian bersama, khususnya oleh para orang tua, agar di kemudian hari gawai tidak digunakan dengan tidak semestinya.

Penggunaan gawai pada anak usia dini tanpa pendampingan dan pengawasan dari orang tua akan menimbulkan dampak negatif dan bisa membahayakan anak tersebut. Anak yang kurang pengawasan dari orang tuanya mempunyai risiko yang lebih tinggi terpapar penyimpangan sosial, konten pornografi, dan tindak kejahatan lainnya, sehingga orang tua perlu hati-hati dalam mengawasi anaknya bermain gawai. (Rizka*)

*Mahasiswa magang di Suara ‘Aisyiyah

 

Sumber:

Nizar Rabbi Radliya, dkk. 2017. “Pengaruh Penggunaan Gawai Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini”. Jurnal PAUD Agapedia. Vol 1. No 1.

Irmayanti Yuli dan Lisnawati Ruhaena. 2018. “Peran Orang Tua Dalam Mendampingi Penggunaan Gawai Pada Anak Usia Prasekolah”. Skripsi.

Novi Kurnia, dkk. 2019. “ Literasi Digial Keluarga: Teori Dan Praktik Pendampingan Orang Tua Terhadap Anak Dalam Berinernet”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *