Dampak Pemberitaan Aksi Terorisme pada Anak

Gaya Hidup Info Sehat 5 Apr 2021 0 39x
Dampak Konten Terorisme Pada Anak

Dampak Konten Terorisme Pada Anak

Oleh: S. Handayani

Pemberitaan tentang aksi terorisme yang marak membuat anak-anak turut mengkonsumsi berita tersebut. Tanpa disadari orang tua, antusiasme mereka menyaksikan berita terorisme membuat anak semakin penasaran tentang siapa sebenarnya teroris dan apa itu terorisme. Hal ini membuat orang tua resah karena konsep terorisme tidak sesederhana yang anak pikirkan. Anak-anak mungkin tidak sepenuhnya mengerti arti teroris meski kita sudah berusaha menjelaskannya berkali-kali.

Anak yang terpapar berita terorisme bisa terkena dampak psikologis yang cukup membahayakan. Penjelasan yang kurang tepat bisa membuat anak yang tidak terlibat semakin takut atau justru malah menyalahkan pihak tertentu. Sedangkan bagi anak yang terlibat, dipaksa orang tua, diajak dengan halus, atau terpapar dengan lingkungan kegiatan teroris, akan mengalami dampak yang lebih parah. Trauma atas terorisme itu seperti hantu yang menakuti anak-anak dalam kasus terorisme manapun di dunia.

Berbagai Dampak Pada Anak

Gejala mental yang mungkin timbul karena paparan konten-konten aksi terorisme yang berlebihan adalah secondary trauma. Gejala ini merupakan satu jenis trauma yang muncul karena mendengar berita atau cerita tentang peristiwa tertentu tanpa mengalami langsung. Anak-anak yang mengalami secondary trauma menjadi lebih murung, ketakutan, mudah sedih, takut pergi ke tempat ramai, membicarakan kematian, lebih sering menangis, dan mengalami gangguan konsentrasi.

Secondary trauma bukan masalah sepele. Anak-anak yang mengalami gejala ini akan kehilangan masa kecil yang bahagia. Oleh karena itu, supaya anak tidak sampai mengalami dampak buruk akibat paparan berita terorisme, jadilah orangtua yang menemani anak belajar dan jauhkan media massa yang menampilkan berita-berita yang sifatnya spekulasi.

Adapun anak-anak korban dari aksi terorisme rentan mengalami PTSD (Post Trauma Stress disorder atau Gangguan Stres Paska Trauma). Sekitar 40% anak yang mengalami peristiwa terorisme dinyatakan mengalami PTSD dalam kurun tiga bulan setelah peristiwa yang menimpa mereka. Mereka seperti dihantui gambaran kejadian atas terorisme tersebut berulang-ulang di dalam pikiran mereka tanpa dapat melenyapkannya. Selain itu, mereka akan menjadi lebih mudah cemas saat ada hal-hal kecil yang dapat mengingatkan pada trauma (trigger).

Gejala lain dari PTSD adalah depresi, gangguan kecemasan, mudah kaget, tidak bersemangat, lekas marah, memiliki gangguan tidur, gelisah dan merasa dalam keadaan mencekam terus menerus seolah keselamatannya akan terganggu. Selain itu, anak juga cenderung akan mengisolasi diri sendiri dari lingkungan sosial, menolak untuk berteman, sering merasa terintimidasi, bolos sekolah, penurunan prestasi akademik, dan tidak dapat menikmati kegiatan yang sebelumnya menjadi hobi anak-anak.

Di samping itu, anak usia 15 tahun yang mengalami peristiwa traumatis seperti terorisme lebih mungkin untuk mengalami kesulitan belajar. Rata-rata anak akan mengalami dampak trauma atas terorisme sampai 15 tahun ke depan. Oleh karena itu, terapi dari psikolog maupun psikiater untuk memulihkan mental anak dalam menghadapi trauma harus segera dilakukan secara intensif.

Cara Menangani

Untuk menangani gejala mental yang mungkin muncul pada anak korban terorisme tersebut, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun pengambil kebijakan. Pertama, melatih tenaga ahli yang dapat menangani dan mengidentifikasi masalah mental anak. Kedua, memberikan dukungan data dan pengalaman riset kepada tenaga ahli untuk meneliti dampak, respon, faktor pemicu trauma, serta reaksi anak atas sebuah peristiwa terorisme. Ketiga, mengaplikasikan hasil riset untuk membuat kebijakan terkait pencegahan, penanganan, dan perawatan kepada anak-anak yang mengalami trauma. Terakhir, para pengambil kebijakan juga dapat memberikan dukungan ekonomis kepada keluarga korban agar mereka dapat melanjutkan medikasi dan terapi pada anak-anak mereka.

Selain terapi, ada beberapa tindakan sederhana lain yang dapat dilakukan agar anak tidak mengalami trauma berlebihan hingga mengalami PTSD akibat terorisme. Beberapa tindakan tersebut di antaranya adalah menciptakan lingkungan yang aman. Yakinkan anak bahwa ia bersama dengan orang yang menyayangi dan melindunginya. Tempatkan anak di lokasi yang ia kenali, agar dirinya merasa aman sepanjang waktu. Tindakan lainnya adalah berkata jujur pada anak. Nyatakan dengan bahasa yang sederhana apa yang sedang terjadi. Ucapkan dengan bahasa tubuh yang wajar dan intonasi suara yang rendah, agar anak tidak merasa takut atau panik,

Tidak kalah penting adalah membatasi paparan anak terhadap media. Gambar-gambar mengerikan terkait kejadian terorisme hanya akan memperburuk kondisi psikologis anak. Tindakan terakhir adalah pendampingan jangka panjang. Tindakan ini terutama  dilakukan pada anak yang kehilangan anggota keluarganya karena aksi terorisme. Libatkan setiap orang yang berinteraksi dengan anak, mulai dari keluarga dekat, tetangga, guru, dan pemuka agama.

Peristiwa bom bunuh diri di sebuah wilayah biasanya adalah awal dari terbentuknya zona konflik. Hal ini sudah terjadi di Suriah, Sudan Selatan, Irak, Afganistan, dan wilayah lainnya. Data UNICEF menyatakan bahwa 51% anak yang lingkungan rumahnya berubah jadi zona perang berpotensi untuk meninggalkan bangku sekolahnya. Oleh karena itu, aksi terorisme yang banyak terjadi belakangan ini di Indonesia diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai antar sesama.

Pendidikan di masa kecil tentang pentingnya menghargai nilai-nilai kemanusiaan akan mencegah anak-anak dari tindakan yang berpotensi menyakiti orang lain. Menyembuhkan trauma pada anak akibat aksi terorisme memang bukan perkara mudah. Namun dengan pendampingan yang tepat, konsisten dan berkelanjutan, anak akan kembali menjalani hidup seperti sedia kala.

Leave a Reply