Daya Saing dan Stunting, Dua Masalah Krusial Anak Indonesia yang Harus Diselesaikan

Berita 5 Nov 2021 0 66x

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Fasilitator dari Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) Indriyana Wahyuni mengatakan bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi anak-anak Indonesia, satu di antaranya mereka tidak punya daya saing.

Indriyana Wahyuni mengatakan hal itu usai jadi pemateri dalam acara Regular Training Implementasi PAUD Holistik Integratif (HI) di Satuan PAUD yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) di auditorium utama dan diikuti 50 peserta, Senin hingga Selasa (1-2/11).

”Hal yang ditekankan dalam kegiatan sosialisasi ini, yakni PAUD Holistik Integratif (HI) itu sebenarnya apa, sasarannya seperti apa, dan nanti ketika mereka masuk ke lembaga PAUD sudah tahu nih apa yang harus dikembangkan dari program-program sekolah yang sudah ada,” kata Indriyana.

”Jadi jangan kaget ya, ketika masuk ke PAUD ternyata oh begini nih yang harus kita siapkan dengan baik, oh ini yang harus kita kembangkan. Tidak hanya kognitifnya, ternyata harus ada semua aspek yang harus dikembangkan. Dengan PAUD HI, kita mendidik kembali anak-anak agar nanti di masa depan mereka bisa berdaya saing,” ungkapnya.

Baca Juga: Suluh Literasi bagi Suku Terasing

Selain soal daya saing, Indriyana juga menyoroti masalah lain yang dihadapi anak-anak Indonesia, yakni stunting. Ia menegaskan bahwa masalah stunting sebetulnya bisa dicegah dan diberantas mulai dari usia PAUD.

Menurutnya, soal pengasuhan, kesejahteraan, dan perlindungan ternyata banyak ditemukan anak-anak yang haknya tidak terpenuhi, bahkan ada kekerasan dalam rumah tangga yang membuat prihatin.

”Oleh karena itu, berangkat dari situ program PAUD HI ini digelar untuk juga memfasilitasi semua kebutuhan anak-anak. Dengan cara ini, diharapkan para peserta menjadi terbuka wawasannya, kembali mengambil hikmahnya dari semua ini, bahwa seorang pendidik itu mempunyai tanggung jawab yang cukup besar dalam menyukseskan pendidikan anak-anak Indonesia,” tuturnya.

Indriyana menegaskan bahwa mendidik anak-anak sejak usia PAUD merupakan langkah yang tepat. Dengan didikan yang baik, hal itu akan menjadi bekal dan investasi anak-anak ke depannya.

”Ikhtiar kita semua untuk mendidik anak-anak agar mereka tumbuh sehat, cerdas, dan berakhlak mulia. Jadi seorang guru PAUD ya partisipan ini membuka wawasannya kembali bahwa tugas mereka memang sangat penting dan krusial sehingga harus mereka jalani dengan sepenuh hati,” tandasnya.

Kader pencerah

Pada waktu yang sama, Kaprodi PIAUD UMBandung Esty Faatinisa mengaku pihaknya merasa bahagia karena acara yang diikuti mahasiswa PIAUD semua angkatan ini berjalan dengan baik, lancar, dan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Kegiatan ini sebetulnya tindak lanjut dari kerja sama UMBandung dengan SEAMEO CECCEP yang digelar beberapa waktu yang lalu. Tujuan kegiatan ini yang utama adalah meningkatkan kualitas guru-guru PAUD atau calon guru PAUD. Implikasinya secara tidak langsung pada siapa? Tentu pada anak-anak sebagai peserta didik yang mana mereka itu merupakan aset bangsa, tentu ini sangat krusial,” kata Esty.

Esty berharap setelah pelatihan ini, para guru PAUD atau calon guru PAUD, mereka bisa mendapat tambahan pengetahuan dan ilmu sehingga menjadi kader pencerah di tengah-tengah masyarakat.

”Tentu harapanya yang pertama kalau secara praktis, kami sangat menginginkan para peserta ini menjadi agen atau kader pencerah di tengah-tengah masyarakat. Kami yakin mereka akan mampu mewujudkan hal itu karena mereka sudah punya banyak pengetahuan, khususnya dari UMBandung,” tandas Esty.

”UMBandung dengan SEAMEO CECCEP membekali mereka tentang sosisalisasi PAUD HI sehingga mereka bisa mengimplementasikannya di dalam dunia praktis, baik itu yang sudah menjadi guru, apalagi di sini banyaknya kepala sekolah, mahasiswa kita tuh banyaknya kepala sekolah, jadi otomatis para pemegang kebijakan ini kalau sudah tahu, kita berharap impact-nya akan lebih besar,” pungkas Esty. (Firman Katon/sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *