Kalam

Demi Masa

demi masa

Dalam al-Quran, Allah swt. beberapa kali bersumpah dengan waktu, misalnya dalam Q.S. al-Fajr, Q.S. at-Dhuha, Q.S. at-Takwir, Q.S. al-Lail, Q.S. al-Insyiyqaq, dan Q.S. al-‘Ashr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir mengatakan, Allah bersumpah dengan waktu untuk menunjukkan penting dan mulianya waktu.

Pepatah Arab mengatakan, “al-waqtu ka as-saif”, waktu ibarat pedang. Di dalam perputaran waktu, segala hal bisa terjadi; senang dan sedih, sehat dan sakit, kaya dan miskin, mulia dan hina, dan sebagainya. Demikianlah keajaiban waktu.

Manusia diperintahkan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya; untuk belajar, beribadah, beramal saleh. Sebaliknya, manusia dilarang untuk menyia-nyiakan apalagi mencela waktu. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw. bersabda, “lā tasubbu ad-dahra, fa inna Allah huwa ad-dahru”, janganlah kalian mencela waktu, karena Allah adalah waktu.

Di dalam Q.S. al-‘Ashr, Allah mengawali firman-Nya dengan bersumpah (والعصر). Ada yang memaknai al-‘ashr sebagai waktu Asar, ada juga yang memaknainya secara umum, yakni seluruh masa. Selanjutnya, diterangkan bahwa sungguh manusia berada di dalam kerugian (إن الإنسان لفي خسر). Kerugian itu bisa dalam bentuk apapun.

Allah swt. tidak menjelaskan sebab apa saja yang membuat manusia mengalami kerugian. Akan tetapi, Allah menjelaskan sebab-sebab manusia mendapat keuntungan. Surat al-‘Ashr menegaskan bahwa semua manusia berada dalam kerugian, kecuali bagi mereka yang beriman dan beramal saleh (إلا الذين امنوا وعملوا الصّلحت).

Dalam al-Quran, Allah sering memasangkan kata iman dan amal saleh. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Keimanan kepada Tuhan mesti diiringi dengan amal saleh, dan amal saleh harus dilandasi oleh iman. Amal saleh adalah penyempurna keimanan seseorang.

Dengan iman dan amal saleh, manusia akan berhasil meraih kebahagiaan yang kekal. Manusia yang beriman dan beramal saleh adalah mereka yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia (isytarau al-ākhirat bi ad-dunyā). Dengan begitu, mereka tidak tergolong orang-orang yang merugi.

Baca Juga: Surat Al-‘Ashr Landasan Gerakan Muhammadiyah Berkemajuan

Selain iman dan amal saleh, kerugian juga tidak dialami oleh orang yang saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran (وتواصوب الحق وتواصوب الصبر). Saling menasihati dalam iman (īmān), kebaikan (khair), dan keutamaan (fadhīlah) adalah di antara jalan untuk meraih keberuntungan dunia dan akhirat. Pun demikian dengan saling menasihati dalam kesabaran, yakni saling menguatkan di antara sesama agar kuat dan teguh dalam iman, ibadah, dan amal.

Imam Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasysyaf mengatakan,

وهو الخير كله، من توحيد اللَّه وطاعته واتباع كتبه ورسله، والزهد في الدنيا، والرغبة في الآخرة

Artinya, “itu adalah seluruh kebaikan, berupa mentauhidkan Allah dan mentaatinya, mengikuti/menjalankan kandungan kitab—kitab dan risalah para utusan-Nya, zuhud di dunia, dan mencintai akhirat”.

Secara khusus, Nabi Muhammad saw. menyampaikan bahwa seseorang yang membaca, menghayati, dan mengamalkan Q.S. al-‘Ashr, ia akan mendapat ampunan dari Allah swt. Sementara itu, Wahbah Az-Zuhaili memberikan empat simpulan dari surat yang diturunkan pada periode Makkiyah ini:

Pertama, setiap manusia pada dasarnya berada dalam kerugian jika ia tidak beriman, beramal saleh, dan tidak menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Agar tidak merugi, manusia mesti mengabdikan hidupnya untuk kehidupan akhirat yang kekal.

Kedua, Allah bersumpah dengan waktu sebagai pengingat dan peringatan bagi manusia agar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Di dalam perputaran waktu itu terdapat banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik manusia jika mereka mau berpikir.

Ketiga, Allah menghukumi manusia dengan kerugian yang besar jika mereka tidak mempunyai empat sifat, yaitu: iman, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Keempat, kebenaran itu berat dan akan senantiasa diuji. Karenanya, manusia diperintahkan untuk saling menasihati dalam kebenaran. (siraj)

Related posts
Wawasan

Surat Al-‘Ashr Landasan Gerakan Muhammadiyah Berkemajuan

Oleh: M. Sukriyanto AR Dengan mengusung semangat Islam yang Berkemajuan, Muhammadiyah terus bergerak secara dinamis guna menjawab tuntutan zaman tanpa harus keluar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.