Di Mana Ada Muhammadiyah, Di Situ Ada ‘Aisyiyah

Perempuan Sejarah Wawasan 18 Jun 2021 0 162x
logo aisyiyah

logo aisyiyah

Di awal masa perkembangannya, secara pelan namun pasti, ‘Aisyiyah terus melebarkan sayapnya ke berbagai daerah di Indonesia. Pelebaran sayap tersebut bukan tanpa maksud dan tujuan, tapi untuk membawa misi mulia menyebarkan gagasan Islam berkemajuan Muhammadiyah-‘Aisyiyah.

Dalam buku Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan ‘Aisyiyah dijelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan ‘Aisyiyah berlangsung dengan cepat. Para anggotanya terdiri dari perempuan yang sudah berumah tangga dan gadis. Tidak hanya di Yogyakarta atau di pulau Jawa saja, tapi sudah menyebar ke berbagai daerah dan pulau. Ibaratnya, “’Aisyiyah tumbuh bagai cendawan di musim hujan” (hlm. 36).

Kabar di Majalah Suara ‘Aisyiyah

Majalah Suara ‘Aisyiyah dari tahun ke tahun konsisten memuat rubrik yang menggambarkan perkembangan ‘Aisyiyah di beberapa daerah, seperti di Cilacap, Gorontalo, Lampung, Tapanuli, Pontianak, Wonosobo, dan Madura. Kabar tersebut diiringi rasa bangga bahwa ada organisasi yang menampung aspirasi dan mengurus urusan perempuan dan Islam.

“Dimana ada Moehammadijah, tentoelah ada ‘Aisjijah”. Pernyataan tersebut mengawali suatu kabar yang berjudul “Pemandangan Singkat di Celebes Oetara” di Majalah Suara ‘Aisyiyah edisi Desember tahun 1932. Kabar itu mengisahkan masuknya ‘Aisyiyah di Kecamatan Kwandang, Gorontalo Utara. Pernyataan lebih lengkapnya adalah:

“Dimana ada Moehammadijah, tentoelah ada ‘Aisjijah. Sebagaimana telah termakloem, bahwa di Kwandang telah timboel Moehammadijah, maka kaoem iboepoen tidak ketinggalan menjoesoel dengan tjepatnja, doedoek disisihnja Moehammadijah” (hlm. 329-330).

Baca Juga: Suara Aisyiyah: Dari Kita untuk Kita

Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah kali pertama berdiri di Gorontalo pada tahun 1930. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kabar di Suara ‘Aisyiyah tahun 1930 yang mengungkap berdirinya ‘Aisyiyah di sana. “…maka dari inilah tentoe tiada barang tjelanja, malah seodah selayaknja kiranja disini saja hanja memperbintjangkan partij saja pergerakan ‘Aisjijah soeatoe pergerakan Islam jang baroe-baroe ini lahir dinegeri toempah darah saja Gorontalo” (hlm. 221).

Sesuai hasil Kongres ‘Aisyiyah ke-19 di Bukittinggi, keberadaan ‘Aisyiyah juga beriringan dengan gerakan mencerdaskan kehidupan perempuan. Usaha tersebut dilakukan dengan cara mengadakan Badan Pembantu berupa (a) Bahagian Tabligh, (b) Bahagian Sekolahan, (c) Bahagian Wal-‘Ashri, (d) Bahagian Adz-Dzakirat, dan Bahagian Siswo-Projo.

Pergerakan Islam Mancanegara

Tidak hanya kabar Muhammadiyah-‘Aisyiyah, di edisi Desember tahun 1932, Majalah Suara ‘Aisyiyah juga mengabarkan beberapa pergerakan di mancanegara. Dua di antaranya adalah di Mesir dan Jepang.

Disebutkan dalam “pekabaran” tersebut bahwa di Mesir pada waktu itu terdapat tiga pergerakan perempuan yang “amat besar dan berpengaroeh”, yakni: (a) Perhimpunan Isteri Wafd “jang berpolitiek dan mentjari kemerdikaan”, (b) Perhimpunan Persatoean Isteri “jang mentjapai hak-hak kaoem isteri dan beroesaha mendirikan gedoeng-gedoeng sekolah, roemah sakit, dsb. boeat anak perempoean”, dan (c) Perhimpoenan Pembela Kaoem Boeroeh Isteri.

Tiga pergerakan perempuan tersebut tidak secara tegas membawa misi Islam. Sebagaimana disebutkan secara singkat dan padat, fokus ketiganya adalah perihal urusan sosial-politik. Itulah mengapa di akhir “pekabaran” tersebut terdapat sebuah pertanyaan tentang keberadaan pergerakan perempuan Islam.

Baca Juga: Wawasan Internasional ‘Aisyiyah Tempo Dulu

“Saja ingin mendengar, apakah di Mesir beloem ada perkoempoelan isteri jang meloeloe memadjoekan Agama Islam dengan memperboeahkan amal-amal kebadjikan, seperti ‘Aisjijah?”

Sementara itu, di Jepang, sudah berdiri sebuah perhimpunan Islam yang mempunyai program kerja sebagai berikut: (a) menerbitkan satoe soerat kabar di Tokio. Didalam soerat kabar itoe dibitjarakan tentang kepentingan Islam dan keadaan kaoem Moeslimin; (b) menjalin segala boekoe-boekoe Islam dan ditjitak dengan bahasa Japan; (c) beroesaha boeat mengoempoelkan ma’loemat tentang kaoem Moeslimin disana, serta membela hak-hak mereka maoepoen tentang Agama, politiek dan sociaal; (d) mendirikan seboeah sekolah Arab; (e) mendirikan seboeah masdjid djamaah; (e) mendirikan satoe comite boeat mengarang dan menjiarkan karangan-karangan; (f) mengoeatkan tali persaudaraan antara mereka dengan segala Alam Islam.

***

Muhammadiyah-‘Aisyiyah terus melebarkan sayapnya ke berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara. Jika dulu sekadar mengabarkan bahwa ada pergerakan perempuan dan Islam di Mesir dan Jepang, sekarang sudah ada Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah-‘Aisyiyah di kedua negara tersebut. (brq)

Tinggalkan Balasan