Dialektika Seni dan Agama dalam Islam

Hikmah 25 Jul 2020 0 92x

Oleh : Dr. Dian Nur Anna, S. Ag., M. A. (Dosen UIN Sunan Kalijaga, peneliti dan penulis bidang Agama dan Seni)

Perdebatan antara agama dan seni telah terjadi sejak abad ke-14. Seni tidak berkembang pada masa tersebut karena ada beberapa larangan dalam berseni, seperti larangan menggambar, khususnya menggambar sosok Tuhan dan Nabi Muhammad saw. Ada juga larangan untuk menggambarkan makhluk hidup secara tiga dimensi. Tidak dapat dimungkiri, larangan tersebut menjadikan agama dipandang membatasi gerak berkesenian.

Meskipun perkembangannya terkesan tertutup dan lambat, seni dalam Islam telah mengalami kemajuan dalam bidang seni rupa, seni sastra, seni musik, seni suara, hingga seni tari. Islam telah menghasilkan bangunan arsitektur
yang megah seperti masjid, istana, dan juga bangunan perumahan. 

Untuk melihat perkembangan seni di dunia Islam, hakikat sebuah seni perlu dicermati kembali. Menurut Leaman, ada dua anggapan tentang hakikat seni Islam. Pertama, seni Islam dan estetikanya dapat dijelaskan apabila seseorang mengetahui esensi ajaran Islam, yaitu tauhid. Kedua, estetika Islam tidak pernah wujud. Menurut Leaman, kunci estetika sama dengan kunci agama, yaitu cara memandang sesuatu sebagai sesuatu yang lain. Maksudnya adalah, sesuatu itu tidak sekadar sesuatu, melainkan juga menyimpulkan atau berkaitan dengan yang lain, yang lebih besar, yang lebih kecil, yang lebih luas, atau lebih dalam. 

Sedangkan Abdul Hadi mengungkapkan bahwa cara memandang ini menyangkut model atau gambaran tentang memandang sesuatu, serta ihtiar pemindahannya dalam penciptaan karya seni. Hal ini dapat disimpulkan sebagai gambaran dunia atau weltanschauung, tatanan nilai, dan penalaran praktis yang menjadi pegangan banyak orang dalam suatu masyarakat pada masa tertentu. Dalam Islam, cara memandang itu dibentuk oleh ilmu-ilmu Islam seperti syariat, fikih, tasawuf, dan falsafah. Menurutnya, estetika termasuk dalam wilayah filsafat dan tasawuf, sehingga mencari bentuk dan corak estetika Islam adalah menelusuri falsafah yang berkembang dalam Islam.

Menurut Salad, pengertian seni dalam konteks keimanan atau reaktualisasi pemahaman terhadap agama sebagai gerakan estetik itu memiliki rakitan prinsip-prinsip etis dan normatif yang terkandung dalam wahyu kitab suci. Selain itu terkandung dalam konsensus-konsensus yang lahir dari penafsiran semantik atau mistikannya, baik secara tekstual maupun kon-tekstual.

Orang Islam harus memperhatikan al-Qur’an dan sumber yang lain sebagai pedoman dalam berkarya di bidang seni. Al-Qur’an mengandung nilai-nilai mulia yang membimbing manusia, khususnya berkaitan dengan moral (akhlak). Ada beberapa nilai yang tercantum dalam al-Qur’an yaitu amanah, tanggung jawab, ikhlas, dedikasi, sederhana, tekun, bersih, berdisiplin, bekerja sama, berbudi mulia, dan bersyukur. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan yang lebih baik.

Pertama, amanah merupakan hal sangat penting yang dibentangkan oleh Allah swt. kepada hal-hal di langit dan bumi. Manusia perlu memikul beban yang sangat penting yaitu bekerja mengabdikan diri mengikuti peraturan-peraturan tertentu.  Manusia pula yang sanggup memikul amanah (Surah al-Ahzab [33]: 72). Setiap langkah dan setiap saat yang dihadapi dalam dunia ini adalah amanah. 

Kedua, tanggung jawab. Manusia perlu bertanggung jawab terhadap setiap kerja yang dilakukannya. Dalam sebuah organisasi, setiap orang punya tanggung jawabnya masing-masing. Hal tersebut telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw, “Kamu semua adalah pemimpin dan setiap pemimpin adalah bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya…”

Ketiga, ikhlas. Satu nilai yang melambangkan kesucian dan kebersihan hati seseorang adalah perasaan ikhlas (Surah Az-Zumar [39]: 11). Keikhlasan sangat penting bagi seseorang dalam menjalankan amanah, tanggung jawab, dan sebagainya demi mewujudkan masyarakat yang mulia.

Keempat, dedikasi. Hal ini merupakan nilai dalam Islam yang perlu diterapkan oleh manusia. Setiap orang hendaknya memulakan usaha dengan mengambil insiatif untuk menggerakkan setiap masyarakat ke arah yang dicita-citakan. Ingatlah bahwa nasib suatu bangsa tidak akan berubah jika bangsa itu sendiri tidak mengubahnya (Surah Ar-Ra’d  [13]: 11).

Kelima, sederhana. Kesederhanaan adalah sikap menolak ‘keterlaluan’ yang membahayakan kemajuan umat. Allah Swt menekankan sifat ini beberapa kali dalam al-Qur’an, seperti dalam surah al-Isra’ [17] ayat 27. 

Keenam, tekun. Islam menekankan supaya seseorang senantiasa tekun dan mengekalkan usaha-usahanya yang baik sehingga meninggalkan kesan yang positif kepada semua pihak (Surah an-Nahl [16]: 97).

Ketujuh, bersih. Kebersihan merupakan nilai Islam yang perlu diamalkan manusia dalam menjalankan semua urusan. Bersih harus dimaknai secara keseluruhan yaitu hati, pakai-an, bangunan, harta, dan sebagainya (Surah at-Taubah [9]: 108).

Kedelapan, disiplin. Nilai Islam yang kedelapan yakni kedisiplinan tercantum dalam al-Qur’an surah al-Maidah [5] ayat ke 48. 

Kesembilan, kerja sama. Sebagai manusia, kita tidak dapat lepas dari bantuan orang lain karena keterbatasan kemampuan manusia. Memandang hal tersebut, Allah swt. telah menekankan konsep kerja sama seperti termaktub dalam al-Qur’an Surah al-Ma’idah [5] ayat 2. Kerja sama juga harus dilakukan dalam hal kebaikan.

Kesepuluh, berbudi mulia. Nilai ini merupakan nilai Islam yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Tentang pentingnya kemuliaan budi, Allah Swt telah menegaskannya dalam Surah al-Ahqaf [46] ayat 15.

Kesebelas, bersyukur. Manusia diberi kesehatan, penglihatan, pendengaran, dan sebagainya oleh Allah swt. Maka, wajib bagi manusia untuk berterima kasih dan bersyukur. Rasa syukur dapat menggerakkan orang untuk melipatgandakan usahanya yang dibuktikan oleh Allah swt. dalam Surah al-Baqarah [2] ayat 152. Bersyukur juga dapat melahirkan sifat optimistik dalam menapaki kehidupan.

Nilai-nilai Islam tersebut merupakan tata aturan yang ada dan bersumber dari ajaran agama Islam, serta menjadi rujukan umat Islam dalam menentukan pola pikir dan bertindak. Bagi kaum muslim, tata nilai tersebut sangat jelas karena merujuk pada al-Qur’an dan sunah.

Dalam al-Qur’an, terdapat pula beberapa penjelasan tentang seni. Berdasar surah ar-Rum [30] ayat 30, kesenian termasuk fitrah manusia. Kesanggupan berseni ini yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Seni adalah hidup, sekaligus bagian dari hidup. Seni juga merupakan manifestasi dan refleksi dari kehidupan manusia. Berdasar Surah al-Anfal [8] ayat 24, berkreasi seni merupakan panggilan yang lebih menghidupkan. 

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3 Maret 2020

Leave a Reply