Difabel Butuh Kesetaraan, Bukan Belas Kasihan

Liputan 21 Feb 2020 0 359x

Sehari-hari, Sajimin bekerja melayani perbaikan alat elektronik di daerah tempat tinggalnya, Ngaglik, Kabupaten Sleman. Di samping mengais rezeki, Sajimin juga aktif berorganisasi di lembaga keuangan yang seluruh anggotanya merupakan warga difabel yaitu Koperasi Simpan Pinjam Bangun Kemandirian Difabel (KSP BANK Difabel). Sejak didirikan pada tahun 2015, ia didaulat menjadi Ketua KSP BANK Difabel.

Difabel

Sebelum KSP didirikan, tepatnya pada tahun 2012, di kawasan Ngaglik sudah berdiri komunitas warga difabel yang tergabung dalam Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kecamatan Ngaglik. Isinya hanya beberapa orang yang sebagian menggeluti usaha rumahan, dan sebagian lainnya menganggur.

Sebagai sebuah organisasi, PPDI kerap kali terlibat dalam kegiatan-kegiatan bersama komunitas difabel lainnya. Kegiatan yang pada akhirnya mempertemukan komunitas ini dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah. Di titik inilah episode pertumbuhan KSP dimulai.

Menurut Sajimin, pertemuan dengan MPM pada awalnya hanya ditindaklanjuti dengan pengajian di Gedung Muhammadiyah Jl. Ahmad Dahlan, namun tidak asal pengajian. Ia menyebutnya pengajian inspiratif karena bermula dari pengajian warga difabel tersebut tercetus ide untuk membuat kegiatan produktif. Dikirimlah beberapa mahasiswa untuk melakukan studi dampingan dalam rangka memetakan potensi apa yang bisa dikembangkan agar menjadi bidang produktif. “Mereka mahasiswanya Pak (Ahmad) Ma’ruf (Wakil Ketua MPM PP Muhammadiyah),” kata Sajimin mengumpulkan ingatannya.

Pada awal masa pendampingan, kegiatan komunitas diisi dengan arisan dan berbagi ide. Dari obrolan arisan tersebut muncul ke permukaan persoalan mendasar yang dialami warga difabel, yakni kesulitan modal. Hal tersebut terutama dirasakan oleh sebagian orang yang sebelumnya memiliki usaha. Sajimin merasakan sendiri bagaimana dirinya dan teman-teman komunitas diremehkan oleh bank, dan mendapat kepercayaan yang rendah dari lembaga keuangan lainnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat lembaga keuangan sendiri.

KSP BANK Difabel dimulai dari 7 orang anggota dan simpanan pokok sebagai modal sebesar ratusan ribu. Namun dari garis start tersebut KSP mendapat dampingan dari MPM berupa pendidikan seputar koperasi di empat bulan pertama, lalu setelah itu diajari melakukan pembukuan, hingga belajar menggunakan komputer. “Kail” yang diberikan MPM itu membuat KSP sedikit demi sedikit berkembang sehingga bisa memberikan pinjaman modal bagi anggota yang jumlahnya juga merangkak naik. “Ada yang buka service, kerajinan kulit ikan pari, menjahit,” kata Sajimin menyebut satu per satu jenis usaha anggota KSP.

Gayung bersambut, hanya tiga bulan sejak didirikan, kesungguhan KSP untuk tumbuh mendapat kepercayaan dari Martin, seorang muallaf warga Australia. Melihat usaha produktif Sajimin dan kawan-kawan membuat Martin tanpa pikir panjang mendonasikan uang sebesar Rp 42 juta untuk modal koperasi.

Terhitung hingga tahun ini, KSP BANK Difabel sudah melaksanakan empat kali Rapat Anggota Tahunan (RAT). Pertumbuhan modal dan usaha anggota di lembaga yang digawangi warga difabel sekitar Ngaglik ini me-ningkat pesat. Salah satu indikatornya adalah ada anggota yang di awal hanya memiliki omset Rp 1-2 juta, kini naik menjadi Rp 10 juta. Detik ini, anggota KSP sudah berjumlah 62 orang. “Semuanya anggota aktif,” kata pria asli Yogyakarta itu.

Sepak terjang anggota KSP BANK Difabel menunjukkan anggapan warga difabel itu lemah salah besar. Lingkungan yang tidak memberi mereka akseslah yang membuat lemah. Ia mengaku jika warga difabel seperti dirinya dan anggota di KSP mendapat kepercayaan yang sama, motivasi, dan pendidikan yang sama; hasilnya pun akan sama: produktif. Bahkan dengan latar belakang pendidikan formal rendah yang dialami sebagian anggotanya, tidak menghalangi warga difabel untuk produktif asal diberikan akses yang setara.

Sajimin sepenuhnya sepakat bahwa warga difabel tidak membutuhkan belas kasihan; yang mereka butuhkan adalah kesetaraan akses. “Kita itu senang, bangga, kalau diwongke, dimanusiakan, disetarakan, kita bangga dengan MPM,” ujarnya.

Dijamin UU

Perjuangan KSP BANK Difabel yang didampingi MPM dalam memperjuangkan kesetaraan akses modal itulah yang hendak dijamin oleh UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam rangka menjamin kesetaraan akses dan hak difabel, UU mengamanatkan pembentukan Komite Nasional (Komnas) Disabilitas. Koordinator Ciqal Nuning Suryatiningsih menyebut salah satu dari 15 RPP yang diamanatkan UU membahas pembentukan komite tersebut (ff)

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2019, Rubrik Liputan Utama, hal 12-13

Sumber Foto : https://www.ayobandung.com/read/2020/01/31/78103/tak-ada-anggaran-dinsos-tasik-akui-fasilitas-umum-belum-ramah-difabel

Leave a Reply