Diktilitbang PP Muhammadiyah Mendorong Upaya Internasionalisasi PTMA

Berita 1 Jul 2021 0 60x
ASKUI Talk-Internasionalisasi PTMA

ASKUI Talk-Internasionalisasi PTMA

Banda Aceh, Suara ‘Aisyiyah – Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) melalui Kepala Kantor Urusan Internasional dan Kerja Sama Febyolla Presilawati mengikuti webinar Ambasador ASKUI Talk dengan topik “Possibility of Cooperation Discussion with Kazakhstan”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Metro Lampung  via Zoom Meeting pada Selasa (29/6).

Narasumber dalam kegiatan ini adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Metro Lampung Jazim Ahmad, Y.M. Rahmat Promono  selaku Duta Besar  Indonesia untuk Kazakhstan, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Edy Suandi Hamid, dan Yordan Gunawan selaku Ketua Asosiasi Kantor Urusan Internasional (ASKUI) Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah.

Kepala KUI dan Kerja Sama Unmuha Febyolla mengatakan  bahwa peran KUI sangat sentral dalam upaya internasionalisasi PTMA. Peran tersebut misalnya mengorganisasi  dan menjembatani  kegiatan kerja sama internasional, menjalin komunikasi dengan pejabat kantor perwakilan Indonesia di luar negeri, menjadi agen untuk ikut berperan dalam kancah global, ikut merintis kerja sama dengan mitra global, melakukan pendampingan dan supervisi atas kerja sama yang disepakati dan dilaksanakan, melanjuti MOA, LOI, ataupun MOA yang sudah ada  dan menjadi penghubung dengan mitra global serta membantu administratif untuk urusan kerja sama internasional.

Pada waktu yang sama, Edy Suandi Hamid menyampaikan amanat dalam Muktamar 2015. “Amanat kerja sama PTMA dalam Muktamar 2015 adalah meningkatkan sinergi antara PTMA dengan Perguruan Tinggi dalam Negeri dan memperluas jejaring PTMA dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri,” ujarnya.

Baca Juga: Internasionalisasi Pendidikan Muhammadiyah-‘Aisyiyah

Edy menjelaskan bahwa banyak negara gencar melakukan internasionalisasi pendidikan. Ini dibuktikan dengan perkembangan jumlah mahasiswa asing di kampus-kampus Luar Negeri. Australia, Selandia Baru, Swiss, dan Inggris, lanjut Edy, mahasiswa asingnya lebih dari 15%. China, Malaysia, dan India gencar juga promosi.

Menurutnya, proses internasionalisasi pendidikan sulit dihindarkan, sehingga Perguruan Tinggi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dituntut mampu menyesuaikan diri dalam proses tersebut. “PTMA tidak bisa menghindar dari proses internasionalisasi yang terjadi. Terlebih bagi Muhammadiyah yang aktivitas dakwahnya sudah lintas negara. PCIM saat ini sudah  ada di 34 negara. PP Muhammadiyah juga mendorong untuk merintis dan membuka Perguruan Tinggi di luar negeri,” papar Edy.

Tantangan yang harus dihadapi adalah membangun jaringan yang luas, masuk pasar internasional, serta mengembangkan sitem teknologi informasi yang berstandar global. Menurut Edy, oleh karena level PTMA tidak semua sama kapasitas sumber daya manusia, kemampuan finansial, kemampuan membangun jaringan, dan kebutuhan mitra kerja samanya, maka dukungan Majelis Diktilitbang diperlukan untuk menjadi jembatan penghubung dan memberikan kewenangan kepada KUI untuk mengorganisasikan kerja sama internasional. (Agusnaidi B/sb)

Tinggalkan Balasan