Dilema Harbolnas

Aksara 19 Feb 2020 0 107x

Oleh : Alina Syahida

Ratri melotot melihat seorang kurir memutar motor di depan rumah. Sementara Nia, adiknya tampak cengar-cengir sambil menenteng sebuah bungkusan ukuran sedang. Nia melangkah riang melewati teras.

“Ehemmm….”

Nia berjingkat kaget demi melihat kakaknya tiba-tiba muncul di hadapan.

“Eeh… Mbak Ratri…” Nia menyapa salah tingkah.

“Paket lagi? Apaan barusan?” Ekor mata Ratri mengejar tangan Nia yang berusaha menyembunyikan paket di balik punggungnya.

Nia melebarkan senyumnya. “Cuma mukena kok, Mbak. Ada diskon Harbolnas 50%. Ini tuh brand favorit aku, Mbak. Yuk lihat yuk, masuk dulu, Mbak.”

“Ck! Dasar tukang belanja!” Omel Ratri sambil berjalan mengikuti Nia ke dalam rumah.

Nia segera duduk di lantai dan membuka bungkusan itu.

“Ini itu special edition, Mbak. Makanya aku harus beli. Lumayan kan buat Lebaran nanti.”

“Lebaran masih beberapa bulan lagi deh kayaknya,” Ratri masih sewot.

“Ya kan besok-besok belum tentu ada diskon segini, Mbak. Ah coba kalau Mbak Ratri lihat pasti pengen juga. Nah…taraaa…”

Bungkusan terbuka. Mukena bermotif polkadot warna mint berbungkus tas cantik berpita.

“Lho?” Nia melongo.

Segera membentangkan mukena itu dan melihat dengan teliti.

“Yah, aku kan pesan warna navy. Kenapa malah warna begini, sih? Terus katanya ada bonus handsock-nya…”

“Nggak ada handsock-nya di sini,” Ratri mencibir sambil membolak-balik bekas bungkusan mukena tadi. Tidak terlihat bonus apapun itu.

“Yaah… Gimana, sih,” Nia menggerutu.

“Begitu akibatnya kalau belanja grusa-grusu. Namanya barang diskonan gede pasti sangat laris. Wajar kalau pihak mereka salah mengirim pesanan. Ya sudah, risiko tanggung sendiri.”

Ratri bangkit, memegang perutnya yang membesar karena hamil delapan bulan. Sudah sebulan ini suaminya pindah kerja di luar kota. Maka orang tuanya mengutus sang adik, Nia untuk menemani Ratri. Kebetulan Nia baru lulus kuliah, jadi sekalian dia mencari pekerjaan di sekitar daerah situ. Sampai saat ini memang belum ada pekerjaan yang cocok dengan Nia, segala kebutuhan Nia mengandalkan kiriman Bapak di kampung. Tapi Nia hobi foya-foya. Dia paling tidak tahan dengan diskonan. Hanya saja, Ratri, menyayangkan kebiasaan Nia karena uang yang ia dapat adalah hasil keringat orang tua yang berlelah-lelah menjaga kios sembako di pasar. Ratri tidak mau Nia terus terlena dengan segala macam diskonan itu.

***

“Nia! Tolong bantu kupas bawang. Aku mau masak tongseng hari ini,” teriak Ratri dari dapur.

Nia tergopoh-gopoh datang sambil menenteng ponselnya.

“Eh, Mbak. Nggak usah masak. Aku lagi pingin makan ayam geprek. Ini, aku lagi order ojol food,” Nia menunjukkan layar ponselnya pada Ratri. “Mbak Ratri udah aku beliin sekalian.”

“Astaghfirullah…. Niaaaa!” Ratri setengah berteriak, gemas dengan sang adik.

“Batalin!” Perintah Ratri sambil melotot.

“Udah nggak bisa,” Nia menggigit bibirnya, takut juga melihat kakaknya yang seolah keluar asap dari kepala. “Makanan sudah di jalan.”

Ratri membanting bawang di tangannya dengan kesal.

“Nia, jadi begini. Pertama, kamu terlalu sering belanja online. Apakah semua barang itu kamu butuhkan? Aku lihat kemarin ada belanjaan dress bayi, iya kan?”

“Iyaaa… Itu lucu, Mbak. Buat adik bayi nanti,” Nia menunjukkan perut Ratri dengan ponselnya.

“Asal kamu tahu, bayi ini insya Allah laki-laki.”

“Kan Allah masih bisa ganti, Mbak. Hasil USG suka salah, lho.”

“Diam! Kedua, di kulkas ada banyak bahan makanan mentah, siap diolah. Jadi tinggal kita masak saja, jangan ke-seringan order ojol food. Itu kan mahal, boros. Ketiga, ingat dong sama orang tua kita yang di kampung banting tulang. Kamu nggak kasihan?”

Nia menunduk. “Maaf, Mbak. Aku pingin banget ayam geprek tadi. Dan aku gak bisa masaknya. Mbak Ratri pasti juga nggak bisa, kan?”

“Ya kita usaha, dong. Kan ada yucup, ada kukpad. Resep apa saja ada di sana. Kita tinggal belajar. Aku juga masih belajar, kok Nia. Makanya hari ini mau percobaan bikin tongseng. Semalam sudah aku lihat videonya di yucup.”

“Iya, Mbak. Maaf.”

Suara bel pintu terdengar. Nia segera berlari menyambut ayam ge-preknya, meninggalkan Ratri yang lagi-lagi harus mengelus dada.

“Sabar… Sabar…”

***

Hari-hari berlalu. Nia masih saja beberapa kali menerima paket. Dia bersumpah itu paket yang dipesannya ketika Harbolnas, bukan pesanan baru-baru ini. Dia sudah janji tidak akan memesan apa-apa lagi di online shop walaupun diskonnya 90%.

Siang itu Ratri melihat Nia selesai membongkar paket terakhirnya. Tapi wajah adiknya itu terlihat muram.

“Ada apa?” Ratri masuk ke kamar Nia, mencari tahu apa yang terjadi.

Di lantai berserakan berbagai benda yang tidak penting. Ada hair dryer, boneka kucing, kandang kucing, kipas angin mini, dan beberapa novel best seller.

“Kenapa barang ini dikeluarkan semua?” Ratri penasaran.

Nia menarik nafas panjang.

“Mbak, besok aku ada panggilan wawancara. Tapi… Aku kehabisan uang. Ternyata Mbak benar, aku sudah kalap oleh Harbolnas. Semua barang ini aku keluarkan biar aku sadar bahwa mereka sebenarnya nggak terlalu aku butuhkan. Kenapa pula aku beli kandang kucing, padahal kucingnya saja aku belum punya,” Nia terlihat sedih.

Ratri berdehem pelan. “Mau minjem uang nih, ceritanya?”

Nia menatapnya takut-takut. “Boleh?”

“Nggak.”

“Ya Allah, Mbak. Terus aku gimana, Bapak udah telat ngirim hampir dua minggu, lho. Aku juga nggak enak mau nagih.”

Ratri tertawa dalam hati. Ia memang sengaja meminta Bapak menunda kiriman sampai bulan depan. Ratri bilang bahwa uang kiriman untuk Nia sebelumnya masih banyak. Ratri hanya ingin tahu bagaimana adiknya itu menyelesaikan masalah. Sekaligus agar tahu bahwa uang itu sebenarnya cukup asal tidak dibelanjakan hal-hal yang tidak penting.

“Gini aja. Besok sebelum berangkat wawancara, aku kasih dulu uang. Tapi barang-barang ini aku sita.”

“Lho kok, disita?” Nia melotot.

“Iya, biar jadi uang. Nanti aku jual aja semuanya di grup-grup sosmed. Gampang-lah. insya Allah laku. Janji, ya..  jangan kalap Harbolnas lagi.”

Nia mengangguk. Ratri merasa lega.

“Wawancara di mana besok?”

“Di SMP 3,” Nia kembali ceria. Tak lama, ia langsung bercerita dengan semangat perihal calon pekerjaannya itu.

Ratri bersyukur. “Ya Allah, mampukan hamba menjaga dan mendidik Nia, karena dia amanah dari orang tua. Menjaga, mendidik dari hal paling sepele sekalipun.”

*Harbolnas: Hari Belanja Online Nasional.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3 Maret 2019, Rubrik Aksara, hal 36-37

Sumber Foto : https://www.merdeka.com/uang/kenali-bahaya-kecanduan-belanja-online.html

Leave a Reply