Dilema Perempuan: Antara Domestikasi dan Aktualisasi Diri

Berita 7 Des 2021 2 66x

perempuan

Oleh: Hani’ah Misya

Berbicara tentang perempuan selalu menarik dan unik. Perempuan sering diposisikan sebagai kelompok kedua setelah kaum laki-laki. Marginalisasi kaum perempuan ini kemudian banyak mendapat perlawanan dari para pejuang hak-hak perempuan dengan gerakan feminisme.

Kesadaran tentang feminisme kali pertama muncul tahun 1792 di Inggris dengan ditandai hadirnya buku yang berjudul A Vindication of the Rights of Woman karya filsuf Inggris. Namun, istilah feminisme baru dikenal pada tahun 1808. Sejak saat itulah feminisme kemudian bergulir di berbagai pelosok dunia, termasuk di Indonesia sejak tahun 60-an dan baru sekitar tahun 1970-an isu  kesetaraan gender untuk menyuarakan hak-hak kaum perempuan mulai semakin meluas.

Apa sebanarnya yang menjadi hak dan tuntutan kaum perempuan? Apakah perempuan harus sama persis dengan kaum lelaki? Di sinilah, kadang muncul sebuah kegelisahan dalam jiwa-jiwa perempuan yang sadar betul akan posisi dan proporsinya sebagai perempuan yang memiliki kodrat secara khusus.

Tuhan menciptakan perempuan sebagai pendamping kaum laki-laki untuk saling melengkapi satu sama lain. Ada hal yang tak dapat dilakukan kaum laki-laki, pun sebaliknya ada banyak hal yang tak bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Inilah yang dimaksud dengan kodrat eksistensial seorang anak manusia.

Bergulirnya isu kesetaraan gender telah berdampak besar terhadap tatanan kehidupan masyarakat dan peradaban manusia secara lebih luas. Perempuan tidak lagi menjadi ibu rumah tangga yang hanya berkutat dengan pekerjaan-pekerjaan domestik, namun mereka saat ini juga memiliki banyak peran dan berkiprah dalam berbagai bidang.

Kehadiran perempuan di ranah publik sejatinya bukan untuk menyaingi maskulinitas kaum laki-laki, melainkan untuk mengabdikan sebagian kelebihan yang Tuhan anugerahkan pada banyak kaum perempuan. Aktualisasi diri seorang perempuan sejatinya merupakan wujud pengabdian seorang hamba kepada Tuhan-Nya.

Apa pun peran perempuan di sektor publik, entah itu sebagai tukang sayur keliling, penjual ikan di pasar, menjadi guru, atau bahkan menjadi karyawan di perusahaan asing, merupakan representasi feminitas yang menjadi kekuatan kaum perempuan. Setiap menekuni satu pekerjaan, seorang perempuan secara alamiah menunjukkan totalitasnya. Inilah yang menjadi kekuatan kaum perempuan.

Keberaniannya dalam memilih satu aktivitas di sektor publik  untuk aktualisasi diri mereka layak diacungi jempol. Mereka tidak sedang mengkhianati kodratnya karena selama perempuan “pulang” pada kodrat dan perannya, ia tidak dapat dicap sebagai pengkhianat kodrat.

Baca Juga: Bolehkah Perempuan Safar Tanpa Mahram?

Aktualisasi diri kaum perempuan di ranah publik sejatinya membawa dilema tersendiri bagi mereka. Di satu sisi, mereka ingin sepenuhnya mengabdi pada keluarga, namun di sisi lain Tuhan juga menitipkan kelebihan bagi perempuan untuk bermanfaat bagi umat di bidang apa pun.

Ketika seorang perempuan bekerja di luar rumah, bahkan ada yang harus menitipkan bayinya pada orang lain, batin perempuan sebenarnya menjerit. Tapi, apa yang harus dia pilih ketika dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit. Begitulah dilema seorang perempuan yang tak banyak diketahui orang.

Hal yang paling menyakitkan bagi mereka  yang harus beraktivitas di luar rumah bukan sekadar perpisahan dengan buah hati yang masih kecil. Ada rasa sakit yang teramat dalam manakala harus menerima cemoohan dari orang lain. Perempuan yang beraktivitas di luar rumah dipandang sebagai ibu yang tak bertanggung jawab pada keluarga dan disebut sebagai “wanita karier”.

Kemunculan istilah “wanita karier” seolah membuat dikotomi antara perempuan yang beraktivitas di rumah dan perempuan yang beraktivitas di luar rumah. Dikotomi yang bersifat subyektif tersebut telah membuat banyak orang, terutama perempuan salah mengartikan kata karier. Padahal, karier dapat diartikan sebuah aktivitas. Aktivitas dapat dilakukan di mana saja, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan domestik.

Domestikasi kadang dipandang sebelah mata oleh sebagaian orang. Ibu rumah tangga yang secara totalitas mengabdikan diri pada keluarga pun dipandang sebagai perempuan tak berguna yang hanya bisa menghabiskan gaji suami. Melihat fenomena tersebut di atas, alangkah beratnya beban perempuan. Menjalani karir di luar rumah bagi seorang perempuan sejatinya sama sekali tak lepas dari tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Sementara, menjalankan totalitas pengabdian sebagai ibu rumah tangga pun sejatinya sedang berkarir menyiapkan generasi yang berkualitas.

Menyiapkan generasi emas yang berkualitas bukan hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dalam sebuah proses yang tak kenal lelah, berupa persiapan lahir dan batin, material dan immaterial. Untuk persiapan tersebut, kadang seorang perempuan harus mengambil keputusan dari pilihan-pilihan yang ekstrem.

Ketika seorang perempuan, lebih-lebih seorang ibu mengejar pendidikan tertinggi, itu tidak selalu didorong sebuah ambisi. Ada nilai-nilai hakiki yang ia pertaruhkan dalam keterbatasannya sebagai seorang perempuan. Nilai-nilai hakiki yang dimaksudkan di sini adalah sebuah peningkatan kualitas diri seorang perempuan. Memang, seorang perempuan sepatutnya terus mengasah diri, meningkatkan kualitas pribadi karena perempuan (seorang ibu) merupakan “madrasatul ula wal aula” (madarah pertama dan utama) bagi anak-anaknya.

Baca Juga: Kepemimpinan Perempuan dalam Pandangan Islam Wasathiyah

Konsep madrasatul ula wal aula yang dilekatkan pada seorang ibu karena seorang ibu merupakan orang pertama yang mengajarkan tentang akidah, akhlak, dan berbagai ilmu pengetahuan. Ketika ibu mengandung, rahim sebagai pertapaan janin akan menjadi tempat belajar paling nyaman dan efektif. Hal-hal baik atau bahkan buruk yang dilakukan oleh seorang ibu dapat terekam jelas dan sempurna oleh janin sehingga sejak dalam rahim pun seorang calon anak telah dibekali ilmu pengetahuan melalui tindakan ibunya. Inilah proses pendidikan di madrasatul ula.

Setelah anak itu dilahirkan, ibulah yang pertama memberikan pendidikan terbaik melalui keteladan dan kebiasaan-kebiasaan yang ibu lakukan. Misalnya, ketika hendak menyusui, ibu mengajarkan tentang basmalah dan doa makan/minum. Demikian juga ketika menjelang tidur, nilai-nilai Ketuhanan telah dibisikkan sebagai pengantar tidur sang bayi. Belum lagi ketika akan mengganti pakaian bayi.

Nilai-nilai baik yang dibiasakan oleh seorang ibu inilah yang menjadi pelajaran utama bagi perkembangan pendidikan karakter anak. Namun, tidak semua perempuan memiliki komitmen untuk mengaktualisasikan konsep madrasatul ula wal aula yang menjadi beban berat bagi seorang perempuan kala berstatus ibu.

Apa pun pilihan seorang perempuan, totalitas pada keluarga atau kiprah di ranah publik, hal yang paling penting adalah keseimbangan. Artinya, perempuan tidak boleh melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan/atau ibu. Untuk mewujudkan keseimbangan inilah kadang diperlukan pendidikan tinggi.

Pendidikan tinggi dengan gelar akademik memang tidak selalu berbanding lurus dengan tanggung jawab. Namun, tidak sedikit proses pendidikan yang dilalui seorang perempuan menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas diri agar menjadi pribadi yang lebih berarti: bertanggung jawab pada keluarga dengan mengaktualisasikan konsep madrasah pertama dan utama, di samping itu, mereka juga berkiprah di ranah publik sebagai wujud aktualisasi diri.

2 thoughts on “Dilema Perempuan: Antara Domestikasi dan Aktualisasi Diri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *