Inspirasi

Diplomasi Aisyiyah: Sisi Lain Siti Hayinah

Siti Hayinah
Siti Hayinah

Siti Hayinah (dokumen keluarga)

Oleh: Mutiah Amini*

Siti Hayinah merupakan figur penting di dalam sejarah ‘Aisyiyah. Bersama dengan Siti Mundjijah, Siti Hayinah menjadi wakil ‘Aisyiyah dalam Kongres Perempuan Pertama. Sebuah perhelatan besar pertama yang mampu menyatukan ide para aktivis perempuan Indonesia tentang pentingnya kemerdekaan berbangsa. Kongres perempuan yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 1928 ini tercatat dengan baik di dalam sejarah perempuan Indonesia.

Perhelatan ini dijadikan sebagai tonggak awal gerakan perempuan Indonesia, yang pada 1938 ditetapkan sebagai “Hari Ibu” serta dikuatkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959 sebagai hari besar nasional. Dengan penetapan ini, masyarakat Indonesia dapat mengingat betapa pentingnya perjuangan perempuan Indonesia pada akhir masa kolonial dalam sejarah bangsa Indonesia.

Bagi ‘Aisyiyah, penyelenggaraan Kongres Perempuan Pertama meninggalkan berbagai jejak masa lalu yang amat penting. Beberapa bukti betapa Siti Hayinah, sebagai representasi ‘Aisyiyah, memberikan arti dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia tampak dalam hal berikut.

Pertama, dua perwakilan ‘Aisyiyah menjadi orator utama di dalam kongres perempuan. Siti Mundjijah berpidato tentang “Derajat Perempuan” sementara Siti Hayinah berpidato tentang “Persatuan Manusia”. Makna dari kedua pidato tersebut adalah bahwa perempuan dapat berperan penting di dalam perjuangan kebangsaan, sekaligus pentingnya membangun persatuan umat manusia sebagai sebuah ekosistem kehidupan.

Kedua, kehadiran simpatisan ‘Aisyiyah dalam Kongres Perempuan Pertama. Data formal menyebutkan bahwa Kongres Perempuan Pertama dihadiri oleh lebih dari 600-an perempuan Indonesia dari berbagai wilayah. Dari 600-an peserta, separuhnya merupakan anggota ‘Aisyiyah (Mailrapport No. 62x/29, 1928).

Selain karena kongres diselenggarakan di Yogyakarta, kehadiran anggota ‘Aisyiyah juga karena pentingnya agenda ini. ‘Aisyiyah pada 1928 telah menjadi organisasi perempuan besar dan kuat, setelah sebelumnya pada 1922 Muhammadiyah menginstruksikan kepada seluruh pimpinan cabang untuk mendirikan cabang ‘Aisyiyah, dengan fokus utama pendidikan anak usia dini.

Baca Juga: Siti Hayinah: Tokoh Pers Perempuan Indonesia

Ketiga, Kongres Perempuan Pertama merekomendasikan penerbitan majalah Isteri, di mana Siti Hayinah terpilih menjadi salah satu redakturnya bersama-sama dengan enam aktivis perempuan lain, yaitu Nyi Hajar Dewantara, Ny. Sastraamidjaja, Sunarjati, Badijah, Murjati, dan Ismudijati.

Dengan menjadi salah satu redaktur, Siti Hayinah dapat berperan aktif dalam menentukan arah publikasi majalah, yang tema publikasinya fokus pada permasalahan permainan anak-anak, pengetahuan umum untuk perempuan, kata-kata praktis untuk rumah tangga, dan sebagainya. Hajinah terpilih menjadi redaktur berkat keberhasilannya dalam membangun Suara ‘Aisyiyah sejak 1926 karena Siti Hayinah merupakan pendiri dan salah seorang redaktur pertama majalah tersebut.

Keempat, majalah Isteri yang terbit pada Mei 1929 dicetak oleh percetakan Persatoean Moehammadijah, sebuah percetakan penting tempat seluruh publikasi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam periode itu dihasilkan. Pencatatan nama penerbitan dalam majalah tersebut dapat diamati pada halaman pertama majalah Isteri edisi pertama, yang tertulis: jilid pertama, Majalah perempuan Indonesia ini diterbitkan oleh Perhimpunan Perempuan “Perempoean Indonesia” yang didirikan di Jogja dan dicetak di percetakan “Persatoean Moehammadijah”(Overzicht van de Inlandsche en MaleisischChineeche pers, 1929, no 19).

Kelima, sebagai kelanjutan Kongres Perempuan Pertama yang merekomendasikan terbitnya majalah Isteri, dibentuklah organisasi Persatuan Perempuan Indonesia (PPI). Kesatuan organisasi ini pada 1929 menyelenggarakan kongres di mana Siti Hayinah kembali menyampaikan pidato yang berjudul “Jalan Apa yang Harus Kita Pilih dalam Mengejar Kemajuan?” (Bataviaasch Nieuwsblad, 31 Desember 1929, bundel ke-1, hlm. 2).

Pidato ini merupakan sebuah ajakan tentang pentingnya ide persatuan bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan tidak membedakan agama dan etnisitasnya. Seluruh masyarakat harus bersatu sehingga fokus pidato penting Siti Hayinah tercatat betul, yaitu “Kita harus bekerja sama untuk memajukan dunia, tidak picik, dan tidak menolak bekerja sama dengan orang Kristen, Cina, dll, tetapi ingin bekerja sama dengan semua orang. Kita saling membutuhkan seperti tubuh membutuhkan semua anggota tubuhnya” (St. Melania-Werk, Tahun ke-2, April 1929, No. 10, hlm. 1-3).

Melihat jejak masa lalu ‘Aisyiyah tersebut, menjadi mudah untuk memahami mengapa di dalam setiap Kongres ‘Aisyiyah yang beriringan dengan penyelenggaraaan Kongres Muhammadiyah, nama Siti Hayinah selalu muncul sebagai salah seorang pembicara. Hal itu dapat dilihat, misalnya, jauh sebelum Kongres Perempuan 22 Desember 1928, Siti Hayinah telah menunjukkan sisi ketokohan yang penting.

Bersamaan dengan Kongres Muhammadiyah pada 11-20 Februari 1928 di Yogyakarta, ‘Aisyiyah menyelenggarakan kongresnya sendiri, di mana Siti Hayinah menyampaikan pidato berjudul “Hidup Menurut Ajaran Agama (De Locomotief, 3 Februari 1928, bundel ke-1, hlm. 1). Pidato yang menyiratkan sebuah gagasan tentang pentingnya ajaran agama di dalam membangun kehidupan perempuan Indonesia.

Demikian halnya dalam Kongres ‘Aisyiyah 1931, Siti Hayinah kembali berpidato tentang “Kemajuan Dunia Wanita Islam dan Khususnya ‘Aisyiyah” (De Koerier: Met Het Weekblad de Kleine Korier, 16 Mei 1931, hlm. 2). Pada Kongres Muhammadiyah ke-23, yang dalam catatan jurnalis kolonial disebutkan dihadiri oleh lebih dari 2.400 perempuan, secara khusus ‘Aisyiyah menyelenggarakan rapat-rapat yang dipimpin oleh Ny. Walidah.

Dalam kesempatan tersebut, Siti Hayinah yang saat itu berusia 28 tahun menyampaikan dua kali pidato. Pada Sabtu malam, 21 Juli 1934, Siti Hayinah menyampaikan gagasan tentang “Tujuan dan Aspirasi ‘Aisyiyah”, sementara pada Selasa, 24 Juli 1934, Siti Hayinah menyampaikan pidato tentang “Persaudaraan dalam Islam; Emansipasi Wanita” (De Locomotief, 18 Juli 1934, hlm. 2 dan De Indische Courant, 28 Juli 1934, Bundel ke-2, hlm. 1).

Baca Juga: Siti Hayinah: Ikon Gerakan Keilmuan ‘Aisyiyah

Selain melalui pidato dalam berbagai Kongres Muhammadiyah-’Aisyiyah, Siti Hayinah aktif menulis artikel-artikel khusus untuk pembaca Suara ‘Aisyiyah. Tulisan Siti Hayinah yang dipublikasikan di dalam Suara ‘Aisyiyah secara umum berbicara tentang kemajuan bagi perempuan Islam atau kewajiban perempuan dalam mendidik anak-anak di samping anak-anak mendapatkan ilmu dari sekolah.

Kombinasi pengetahuan yang harus didapatkan seorang anak, baik di sekolah maupun di rumah, menjadi perhatian utama Siti Hayinah. Hal itu pula yang kemudian dipraktikkan oleh Siti Hayinah dalam membesarkan anak-anaknya. Bahkan, prinsip bahwa seorang anak sebagai generasi masa depan harus diajarkan untuk berbicara dengan jelas dan cerdas selalu termuat di dalam Suara ‘Aisyiyah.

Terakhir, sisi lain Siti Hayinah selain aktif dalam Kongres Perempuan Pertama, Kongres Muhammadiyah-‘Aisyiyah, serta Suara ‘Aisyiyah ternyata juga ditunjukkan melalui sisi toleransinya yang kuat. Selain tercatat pernah berpidato tentang pentingnya manusia memposisikan diri dalam kehidupan yang plural, Siti Hayinah secara khusus pernah membuktikan pentingnya ‘Aisyiyah menghadiri undangan dari umat agama lain. Hal itu ditunjukkan ketika Siti Hayinah hadir dalam Kongres Federasi Remaja Putri Kristen (Christen Jonge Vrouwen Federatie) yang diadakan di Bandung pada 1931.

Dalam kongres tersebut, Siti Hayinah sebagai representasi ‘Aisyiyah menyampaikan pidato tentang kehidupan “Pergaulan Perempuan Adat dan beberapa hal penting tentang ‘Aisyiyah”, yang pada intinya menyampaikan bahwa semboyan ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam adalah “Sedikit Berbicara, Banyak Bekerja”. Siti Hayinah saat itu hadir bersama-sama dengan Mr. C.O. van der Plas, Ibu Datu Tumenggung, serta Ibu R.A. Abdurachman yang juga menyampaikan pidato (De Locomotief, 6 Agustus 1932, Bundel ke-4, hlm. 1).

Membaca interkoneksi Siti Hayinah dan ‘Aisyiyah, baik secara internal maupun eksternal, tentu saja menunjukkan beberapa hal penting. Sebagai representasi ‘Aisyiyah dalam berinteraksi dengan aktivis pergerakan, Siti Hayinah selalu memanfaatkan setiap kesempatan berdiplomasi dengan sangat baik.

Keputusan ‘Aisyiyah untuk selalu mengutus Siti Hayinah tentu bukan tanpa alasan. Siti Hayinah merupakan pribadi yang tegas dan cerdas dalam menyampaikan gagasan dan pemikirannya. Posisi Siti Hayinah sebagai sekretaris pimpinan ‘Aisyiyah dalam usia 19 tahun pada 1925 dalam menyampaikan pemikirannya, menjadi bukti ketegasan dan kecerdasannya. Apalagi Siti Hayinah secara khusus memiliki kemampuan menulis dan berbicara.

Sebagai pribadi, berbagai dokumen sejarah mencatat bahwa Siti Hayinah merupakan seorang perempuan Islam yang mandiri, yang memiliki sikap tegas dan cermat. Tiga hal penting yang dibutuhkan dalam berdiplomasi, tidak saja melalui tulisan tetapi juga melalui kemampuan verbal. Beberapa rekam jejak tersebut menunjukkan bagaimana diplomasi yang dilakukan oleh Siti Hayinah sebagai representasi dari ‘Aisyiyah sangat penting tercatat kuat dalam sejarah ‘Aisyiyah.

*Departemen Sejarah, UGM

Related posts
Liputan

Perluas Segmen Jamaah Pengajian untuk Menebar Kebermanfaatan Aisyiyah

Chalifah, Ketua Majelis Tabligh PP ‘Aisyiyah, mengakui tidak mudah merangkul semua segmen dalam satu pengajian. Oleh karena itu, ungkapnya saat diwawancara Suara…
Berita

Ini Tiga Langkah Strategis Mendorong Perempuan Terjun ke Bidang Iptek

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Siti Zuhro, Peneliti Bidang Perkembangan Politik Lokal Badan Riset dan Inovasi Nasional menyampaikan bahwa prospek perempuan dalam bidang…
Berita

Bias Gender di Bidang Iptek Harus Dihilangkan

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid menjelaskan zaman keemasan Islam bukanlah titik nol peradaban umat manusia. Ada…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.