Tokoh

Djuanda, Tokoh Muhammadiyah yang Nyaris Terlupakan

Djuanda Kartawidjaja

Oleh: Abd Rohim Ghazali*

Sebagai organisasi (persyarikatan) yang lahir 1912, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah punya andil besar dalam merintis, memperjuangkan, dan mengisi kemerdekaan. Karena perannya itu, dari Muhammadiyah lahir tokoh-tokoh pejuang yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Di antaranya terdapat nama Ir. H. Djuanda.

“Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Pepatah kuno yang senantiasa relevan sepanjang zaman. Ir. H. Djuanda, adalah satu dari sekian banyak nama pahlawan nasional. Ia lahir di Tasikmalaya 14 Januari 1911 dengan nama Djuanda Kartawidjaja.

Meskipun sudah meninggal sejak 6 November 1963 dan namanya tak sebesar Soekarno atau Hatta, ia tetap popular dan melekat di sanubari rakyat Indonesia. Di banyak kota, terdapat nama jalan Djuanda. Bahkan di Jawa Barat, Djuanda menjadi nama hutan lindung, bandar udara (Bandung), dan bendungan/waduk (Jatiluhur).

Djuanda layak menerima itu semua karena ia tokoh pergerakan nasional yang amat penting. Tetapi, satu hal yang tak banyak diketahui publik, sebelum menjadi tokoh nasional, Djuanda telah berdedikasi dalam Muhammadiyah. Selama lima tahun ia menjadi direktur AMS (Algemene Middelbare School) dan Kweekschool Muhammadiyah di Jl. Kramat Raya Jakarta.

Dedikasi Djuanda dalam Muhammadiyah bukan tiba-tiba, barangkali sejak lahir ia telah “menjadi” Muhammadiyah. Pasalnya, Raden Kartawidjaja, ayah Djuanda, adalah aktivis dan pimpinan Muhammadiyah di Tasikmalaya.

“Karena mengindahkan petunjuk orang tua, saya mengenal Muhammadiyah. Bukan sekadar kenal saja, tetapi saya malah dipercaya memasak kecerdasan putra-putri anak didik Muhammadiyah,” demikian Djuanda menceritakan sejarah keterlibatannya dalam Muhammadiyah.

Baca Juga: Soekarno: Sekali Muhammadiyah, Tetap Muhammadiyah

Jasa Djuanda kepada Muhammadiyah cukup besar. Atas inisiatifnya, hampir didirikan Sekolah Tinggi Sosial Ekonomi Muhammadiyah. Proposal Djuanda untuk mendirikan sekolah tinggi itu sudah disetujui dalam Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah tahun 1936 di Jakarta. Djuanda sudah membeli segudang perlengkapan kebutuhan sekolah dari Jerman seharga F 3,54 ribu. Sayang, pecahnya Perang Dunia II telah mengandaskan tujuan mulia itu. Memang, sejak dulu, perang senantiasa memusuhi peradaban.

Lantaran perang, AMS Muhammadiyah juga ditutup. Djuanda pun bekerja di Kotapraja Jakarta sebagai anggota Dewan Kabupaten Jakarta. Ia kemudian diangkat menjadi insinyur pada Provinciale Waterstaat (Jawatan Pengairan) Provinsi Jawa Barat dan Departement Verkeer en Waterstaat (Departemen Pekerjaan Umum) yang berkantor di Kramat. Kemudian jawatan itu pindah ke Bandung dan berkantor di Gedung V en W yang popular di Jawa Barat dengan nama Gedung Sate.

Djuanda terpaksa meninggalkan murid-muridnya, kawan-kawan gurunya, dan para karyawan sekolahnya serta pimpinan Muhammadiyah untuk berdedikasi sebagai insinyur sesuai dengan cita-cita dan spesialisasi pendidikan yang diperolehnya.

Sebagai insinyur karir Djuanda terus menanjak hingga dipercaya sebagai menteri berkali-kali. “Tidak ada tokoh nasional lain di Republik Indonesia yang sepanjang hidupnya duduk dalam Kabinet sebagai Menteri sampai 15 kali,” tulis Moh Isnaeni dalam biografi Djuanda (hal. 276).

Secara terus-menerus, Djuanda menjabat sebagai Menteri, Perdana Menteri, dan Menteri Pertama. Bahkan sewaktu menjabat Menteri Pertama (10 Juli 1959-6 November 1962), Djuanda beberapa kali dipercaya Presiden RI bertindak sebagai Pejabat Presiden.

Karena jasa-jasanya yang begitu besar pada Republik, peran Djuanda sebagai tokoh Muhammadiyah nyaris terlupakan. Padahal, menurut catatan almarhum Solichin Salam, sejak berhenti dari jabatan Direktur Sekolah Muhammadiyah, hubungan batin Djuanda dengan Muhammadiyah tetap ada hingga akhir hayatnya.

Selain kontak jiwa, bantuannnya berupa moril, material ataupun finansial kepada Muhammadiyah besar sekali. Bahkan sebulan sebelum wafat, Djuanda memberikan sumbangan kepada Muhammadiyah Rp20.000 untuk mendirikan madrasah. Seminggu sebelum meninggal dunia, ia mengirimkan surat kepada Muhammadiyah Ranting Menteng (Cabang Jakarta) meminta agar beliau tetap diakui sebagai anggota Muhammadiyah. [9/23]

*Direktur Eksekutif Maarif Institute

Related posts
Tokoh

Buya Hamka, Mufasir Muhammadiyah yang Jadi Pahlawan Nasional

Buya Hamka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Nomor 113 Tahun 2011. Ulama yang lahir di Sumatera Barat pada 17 Februari…
Tokoh

Fatmawati: Pahlawan Nasional Juga Pejuang Aisyiyah

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan rakyat dan juga para pahlawan, salah satunya yaitu Fatmawati. Fatmawati adalah Pahlawan Nasional yang dikenal jasanya…
Tokoh

Kisah Ki Bagus Hadikusumo Menolak Sai Kirei

Oleh: Mu’arif* Pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Tentara Jepang (Dai Nippon) lewat perjanjian tertanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, Jawa…

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *