Drijowongso dan Gagasan tentang Rumah Miskin Muhammadiyah

Inspirasi 21 Jun 2021 1 235x
Drijowongso

Drijowongso (Foto: dokumen Suara Muhammadiyah)

Oleh: Ghifari Yuristiadhi*

Tidak banyak yang mengenal sosok Drijowongso, Sekretaris Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) pertama. Ketika berbicara tentang PKO, maka kebanyakan dari kita akan akan menyebut Hadji Soedja’, sang Ketua, bukan Sekretarisnya. Ada catatan menarik yang ditulis oleh Drijowongso dalam Suara Muhammadiyah edisi Oktober 1923. Tulisan itu menceritakan tentang kondisi masyarakat miskin di Yogyakarta pada saat pembagian zakat fitrah di Masjid Gedhe oleh Bagian PKO Hoofdbestuur Muhammadiyah.

“Pada hari itoelah hati kaoem miskin terasa betoel atas nasibnja. Sebab melihat beberapa manoesia jang sepadan djoega dengan dirinja sama klihatan makan enak, dengan berpakaian serba bagoes, dan meliat djoega beberapa manoesia sama bersalaman dengan temannja, tapi si miskin pada hari itoe kebetulan minta bekal hidoepnja kepada PKO, dengan berpakaian serba sobek, dan klihatan sama koeroes-koeroes jang menambah kejakinan kita, kalau di dalam kesehari-harinja merika koerang tentang makannja. Dan waktoe itoe kita wadjib merasakan betoel tentang kewadjiban kita kaoem Islam, sebagi jang telah difirmakan Toehan, terseboet dalam soerat Ma’oen.

Seoedahnja kita ingat pada kewadjiban kita itoe, hendaklah teroes didjalankan, sekedar kekoewatan kita, boeat menolong orang miskin itoe. Djalan boeat menjoekoepkan pertolongan kita terhadap pada fakir dan miskin itoe, jang lebih moedah, hendaklah di masing-masing perdijaman toean soepaja didirkan perkoempoelan jang semata-mata sengadja menolong pada kesengsaraan oemoem, dengan menoeroet firman-firman Toehan. Sebab dengan djalan perkoempoelan ini, kita dapat mentjoekoepkan perintah-perintah Toehan; Jang kekoeatannja hanya sedikit dengan djalan ini djoega dapat menjoekoepi perintah Toehan itoe lebih-lebih kaoem jang hartawan.

Sesoenggoehnja walau ta’ dengan djalan koempoelan bisa djoega kita menolong pada si miskin itoe, oempanaja, dengan djalan kalau ada orang datang di roemah kita (sebagai kebiasaan sekarang ini) bermaksoed minta-minta di sitoe laloe kita kasi wang 1 atau 2 cent”.

Baca Juga: Strategi Dakwah Transformatif ‘Aisyiyah pada Masyarakat Marjinal

Drijowongso bisa merasakan kondisi yang dirasakan orang-orang miskin tersebut karena melihat langsung realitas yang terjadi ketika dia bertanggung jawab secara administrasi mencatat penerimaan zakat fitrah pada malam hari raya Idul Fitri sejak pukul 7 malam hingga pukul 12 malam dan kemudian mencatat kembali distribusi fitrah tersebut yang dilakukan oleh Bagian PKO sejak pukul 6 pagi hingga siang hari. Drijowongso menceritakan sejak pukul 11 siang, ribuan orang miskin telah berkumpul di Masjid Gedhe untuk menerima pembagian zakat fitrah tersebut. Mereka membawa karcis yang telah dibagikan oleh bestuur-bestuur bagian PKO tiga hari yang lalu.

Setiap masyarakat penerima fitrah akan mendapatkan 3 kat dan suatu saat ketika pembagian ternyata jumlah beras yang terkumpul tidak mencukupi jika dibagikan kepada seluruh masyarakat. Akhirnya, pengurus bagian PKO mengumpulkan uang untuk membeli 1 pikoel beras lagi untuk menambah kekurangan tersebut. Ukuran pikoel pada waktu itu adalah berat maksimal yang bisa diangkat oleh manusia, atau sekitar 60 kilogram.

Masih dalam catatannya, Drijowongso mengatakan bahwa sesungguhnya pada diri orang miskin itu terkadang juga rusak kemanoesiaan dan agamanja. Dua hal itu harus diperbaiki agar mereka bisa hidup setara dengan manusia yang lainnya. Drijowongso memberikan solusi, “Bagaimana djalannja akan memperbaiki itoe hal? O! ta’ lain toean-toean, hanja dengan djalan kita haroes mengadakan roemah pemeliharaan orang-orang miskin”.

Roemah Miskin Moehammadijah

Drijowongso mencoba menawarkan konsep rumah miskin yang dimaksudnya tersebut. Menurutnya, jika kaum muslimin di Hindia-Belanda ini mengeluarkan uangnya tiap bulan f 0,10 saja. Di Hindia-Belanda sendiri ini terdapat 1 juta orang, maka setiap bulan kita bisa mengumpulkan uang sebanyak f 100.000 dan dalam satu tahun sebesar f 1.200.000. Jika nominal tersebut dibuatkan rumah miskin dengan anggaran f 10.000 saja, maka kita bisa membuat 120 rumah.

Drijowongso menambahkan, jika rumah-rumah tersebut disebar masing-masing afdeeling satu rumah miskin maka akan ada 120 afdeeling yang memiliki rumah miskin. Jika masing-masing rumah bisa menampung 100 orang maka yang tertolong dari program rumah miskin ini sudah 12.000 orang. Drijowongso menutup tulisannya, jika program ini dapat berjalan selama 10 tahun, maka dia yakin hampir semua distrik telah berdiri rumah miskin tersebut.

Baca Juga: Dawiesah dalam Sejarah Pendidikan Kesehatan ‘Aisyiyah

Muhammadiyah melalui bagian PKO akhirnya merealisasikan berdirinya rumah miskin sebagaimana yang dibayangkan oleh Drijowongso di Serangan, tepi Sungai Winongo. Namun tidak ada data yang cukup menjelaskan kapan Muhammadiyah merealisasikan pembangunan “armen-huis” tersebut. Dalam menyokong operasional rumah miskin tersebut, Hoofdbestuur Muhammadiyah bagian PKO mengumpulkan derma dari masyarakat dan anggota Muhammadiyah serta mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial dan kraton.

Artikel Bataviaasch Nieuwsblaad tertanggal 11 Februari 1925 memberitakan bahwa gerakan penyantunan orang-orang miskin yang dikelola oleh Hoofdbestuur Muhammadiyah bagian PKO ini juga pernah mendapatkan subsidi dari Kasultanan Yogyakarta sebesar f 1.200 dan f 300 dari Kadipaten Pakualaman. Yang terakhir ini bisa dilihat bahwa gerakan sosial yang diinisiasi Muhammadiyah mempunyai posisi tawar yang tinggi di mata Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.

*Dosen Prodi Kepariwisataan Sekolah Vokasi UGM

One thought on “Drijowongso dan Gagasan tentang Rumah Miskin Muhammadiyah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *