Dunia Islam antara Ada dan Tiada (2)

Sosial Budaya 5 Aug 2020 0 71x

Demonstran pro-Palestina meneriakkan slogan-slogan di dekat Pusat Kongres Istanbul saat para pemimpin dan perwakilan negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) berkumpul untuk sebuah pertemuan luar biasa di Istanbul, Turki, 13 Desember 2017. (Foto: matamatapolitik.com)

Lanjutan dari Dunia Islam antara Ada dan Tiada (1)

Oleh : Hajriyanto Y. Thohari (Ketua PP Muhammadiyah, kini Dubes di Beirut)

Tugas OKI dan Rabithah sungguh sangat berat. Apalagi sampai sekarang ini bagian dunia yang paling bergolak adalah Dunia Islam, utamanya Dunia Arab. Hubungan antar negara Islam/Muslim di Kawasan dunia Arab sarat dengan ketegangan politik, konflik, bahkan peperangan antar sesama mereka. Sejak perang Irak-Iran (1980-1989) dan perang Irak-Kuwait, Dunia Islam terus tercabik-cabik.

Lihat saja perang Arab Saudi-kelompok Houthi di Yaman dan ketegangan yang tiada akhir antara Iran dan Arab Saudi. Perang di Suriah dan Libya juga masih berkecamuk sampai sekarang yang nota bene melibatkan kekuatan-kekuatan eksternal. Demikian juga dengan Maroko versus Aljazair menyangkut negara Polisario atau Sahara Barat. Ada juga boikot atas Qatar yang dilakukan oleh koalisi Arab Saudi, Mesir, dan Emirat Arab. 

Penderitaan bangsa Palestina yang setiap hari digencet dan ditindas oleh Israel juga belum cukup menggerakkan Dunia Islam untuk secara bersama-sama membantunya secara kongkrit, kecuali sekedar dukungan politik, dan bantuan lain yang bersifat capacity building sebagaimana yang dilakukan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini. Belum lagi persoalan Palestina, Kurdi, Rohingya, Kashmir, dan belakangan Uighur, yang merangsek ke jantung persoalan yang dihadapi Dunia Islam. 

Atas berbagai masalah yang sedemikian besar volumenya tersebut, peran kedua organisasi Dunia Islam kita baru sebatas memberikan dukungan politik yang bersifat retorik dan sebatas mendoakan. Bahkan nasib bangsa Bosnia dan Kosovo yang lahir belakangan tampaknya mendapatkan bantuan dan perlindungan justru dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dengan NATO-nya: alih-alih dari Dunia Islam.  

OKI bahkan terkesan kurang solid lagi sejak KTT OKI di Kuala Lumpur tahun lalu (2019) yang memancing polemik dan kontroversial itu. Sementara Rabithah Alam Islami juga kurang kedengaran lagi peran dan kegiatannya. Itu semua menunjukkan bahwa solidaritas Dunia Islam belum seperti yang diharapkan oleh umat Islam se dunia. OKI dan Rabithah sungguh memikul beban yang sangat berat. Kiprah dan kegiatan OKI dan Rabithah sudah sangat banyak, meskipun ada kesan akhir-akhir ini jarang terdengar. Saya rasa, sejauh menyangkut  kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan, dan kebudayaan, fakta kurang terdengar itu lebih pada persoalan publikasi dan diseminasi kegiatan yang kurang dilakukan.  

Sementara di bidang politik adalah tidak mudah mengelola organisasi multilateral tingkat dunia dengan 57 negara anggota, lengkap dengan sekian badan organik yang bermacam-macam. Saya rasa kritik Fazlurrahman tersebut terlalu dramatis. Memang benar akhir-akhir ini, seiring dengan perjalanan waktu, terutama setelah masing-masing mengokohkan dirinya sebagai negara bangsa, semangat kebersamaan, persatuan, dan solidaritas antar negara-negara muslim tampaknya mengalami penurunan. Kepentingan politik nasional tetaplah menjadi yang paling dominan dan menentukan dalam hubungan internasional dan politik luar negerinya. 

Apa Selanjutnya? 

Akibat dari perkembangan situasi yang sebagian diuraikan di atas maka muncullah pertanyaan di kalangan umat Islam: apakah Dunia Islam itu ada secara nyata atau sekedar dunia maya? Bagi kalangan pesimis, jawabannya adalah maya. Barangkai dalam konteks dan perspektif inilah Prof. Fazlurrahman pernah mengatakan bahwa apa yang disebut dengan Dunia Islam belum pernah mengalami situasi “sedemikian tidak ada”-nya seperti sekarang ini. Yang ada adalah sekumpulan agregat nation state yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam tetapi masing-masing memiliki kepentingan nasional (national interest) sendiri-sendiri yang berbeda-beda, tidak sejalan, atau bahkan seringkali saling bertentangan. 

Ada yang bertentangan secara parsial, ada pula yang bertentangan secara diametral. Dunia Islam, melihat fakta-fakta tersebut di atas, hanya ada dalam kata-kata (das sollen), bukan dalam alam nyata (das sain). Meski tidak seluruhnya benar, ada baiknya kita mengutip pengamatan Fazlurrahman tersebut. Tapi bagi kalangan yang optimis, apa yang disebut dengan Dunia Islam yang termanifestasikan dalam OKI dan Rabithah Alam Islami itu masih tetap saja harus disyukuri oleh karena masih lumayan jika dibandingkan dengan tidak adanya. 

Pertanyaannya adalah sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, apakah yang harus dilakukan umat Islam Indonesia? Bagi kita umat Islam Indonesia, rasanya akan jauh lebih baik berbuat nyata daripada meratapi keadaan. Sebuah ungkapan China mengatakan “Lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan” (It is better to light a candle than curse the darkness). Indonesia dalam beberapa hal memiliki perkembangan yang lebih baik daripada perkembangan bagian lain dari Dunia Islam, misalnya di bidang teknologi, demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan, dan kemajuan perempuan. Di bidang-bidang ini, Indonesia dapat membuat rintisan kerja sama dengan dunia Islam lainnya demi mewujudkan ajaran Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin.

Indonesia dapat memelopori langkah-langkah nyata agar OKI dan Rabithah dapat ditransformasikan menjadi organisasi yang hidup dan bekerja. Kedua organisasi dunia Islam ini, untuk sementara, sebaiknya tampil lebih dalam bidang-bidang non-politik mengingat betapa heterogen dan kompleksnya kepentingan politik nasional masing-masing negara. OKI dan Rabithah bisa tampil lebih kongkrit di bidang-bidang non-politik, seperti keagamaan, kebudayaan, dan pendidikan, untuk menghindari lebih parah lagi perpecahan di Dunia Islam. 

Bahkan, menurut hemat saya, mungkin, jauh lebih baik OKI mentransformasikan dirinya menjadi “Lembaga Kerohanian Islam” yang menaungi seluruh umat Islam di dunia ini tanpa membedakan madzhab, aliran, atau sekte. Saya rasa tidak ada yang salah! Dalam perjuangan dikenal skala prioritas, bukan? Wallahu a’lam.

Tulisan ini pernah dimuat pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 8, Agustus 2020

Leave a Reply