Gaya Hidup

Eco Enzyme: Cairan Multifungsi dari Sampah Organik

Oleh: Desi Eka*

Saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang sampah terbesar di dunia. Sampah yang dihasilkan didominasi oleh sampah organik. Rumah tangga merupakan penghasil sampah organik paling banyak, sampah tersebut berasal dari dapur, sisa makanan, sayuran, kulit buah, dan dedaunan.

Kebanyakan, sampah dari rumah tangga ini hanya dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan sampah. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, tentu akan dapat menimbulkan kerusakan dan juga pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara, air, dan juga tanah.

Selain itu, sampah rumah tangga ini juga dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit apabila tidak dikelola dengan baik. Mulai dari penyakit diare, kolera, infeksi paru-paru, dan tetanus.

Untuk meminimalisir hal tersebut, pengelolaan sampah sampah organik merupakan suatu hal yang wajib dilakukan. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk mengelola sampah organik dengan baik, salah satunya adalah dengan memanfaatkannya menjadi eco enzyme.

Eco enzyme adalah suatu cairan berwarna coklat hasil fermentasi limbah sampah organik seperti sayuran dan kulit buah yang dicampur dengan air dan gula atau molase.

Eco enzyme pertama kali diperkenalkan oleh pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand yang bernama Rosukon Poompanvong. Tujuannya adalah untuk mengolah enzim yang terdapat pada sampah organik menjadi cairan pembersih organik.

Manfaat Eco Enzyme

Eco enzyme merupakan cairan serbaguna yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari seperti untuk bersih-bersih rumah, antiseptik, vitamin ternak, dan juga penyubur tanaman. Melansir dari laman hellosehat.com, eco enzyme memiliki banyak manfaat untuk kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Pertama, sebagai pupuk organik. Enzim dan material organik yang yang terkandung di dalamnya dapat membantu mendorong penyerapan nutrisi oleh tanaman, hal itu membuat perkembangan tanaman jadi lebih optimal. Cara menggunakan eco enzyme sebagai pupuk adalah dengan mencampurkan 50 ml eco enzyme dengan 1,5 liter air, lalu gunakan untuk menyiram tanaman.

Kedua, cairan pembersih rumah tangga. Eco enzyme mengandung senyawa alkohol dan asam asetat yang bisa dijadikan sebagai desinfektan rumahan. Caranya dengan mencampurkan eco enzyme dan air dengan perbandingan yang sama yaitu, misalnya 250:250 ml. Setelah itu kocok campuran tersebut dan masukkan ke dalam botol. Gunakan cairan tersebut untuk membersihkan perabotan.

Baca Juga: Chia Seed: Si Kecil yang Punya Banyak Manfaat 

Ketiga, sabun antiseptik. Dalam cairan eco enzyme 50-100% efektifnya  setara dengan 2,5% cairan natrium hipoklorit (NaOCl) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis. Kemampuan antibakteri inilah yang membuat eco enzyme dapat diformulasikan pada sabun anti bakteri, baik sabun yang berbentuk batangan atau sabun cair.

Keempat, pengendali hama. Eco enzyme bisa digunakan sebagai pestisida alami pada pertanian sayur ataupun buah. Selain itu, bisa juga dijadikan sebagai pengusir hama di rumah seperti semut, lalat, dan kecoa. Caranya adalah dengan mencampurkan 15 ml eco enzyme dengan 500 ml air. Masukkan ke dalam botol, dan gunakan untuk menyemprot hama.

Cara Membuat Eco Enzyme

Melansir dari website PRCV-Indonesia pada tulisan berjudul “Membuat Eco-Enzyme dan Cara Pengolahannya (2)”, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat eco enzyme yaitu sampah organik berupa potongan sayuran, buah, aupun kulit buah, kemudian molase atau gula merah, dan air.

Hasil eco enzyme akan lebih bagus jika menggunakan sampah organik yang bervariasi. Akan tetapi terdapat sampah organik yang tidak boleh digunakan untuk membuat eco enzyme, yaitu kulit buah yang mengandung banyak getah seperti nangka dan kulit buah yang teksturnya kering seperti salak. Hal ini dikarenakan kulit buah tersebut tidak bisa terfermentasi dengan baik, sehingga akan mempengaruhi kualitas dari eco enzyme yang dihasilkan.

Cara membuatnya adalah dengan mencampurkan ketiga bahan tadi ke dalam wadah plastik, misalnya galon aqua, dengan perbandingan ukuran 1:3:10. Setelah tercampur dengan rata, diamkan cairan tersebut selama kurang lebih 3 bulan dalam keadaan tertutup rapat.

Dalam waktu dua sampai tiga minggu, maka akan mulai keluar gas hasil fermentasi. Oleh karena itu, wadah tersebut harus sering dikendorkan agar gas hasil fermentasinya bisa keluar. Setelah tiga bulan atau lebih, cairan dari hasil fermentasi bisa dipanen. Saring cairan agar terpisah dari ampasnya.

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan indikator keberhasilan dalam proses pembuatan eco enzyme. Pertama, cairan yang dihasilkan berwarna coklat cerah. Akan tetapi bisa juga berbeda karena hal tersebut tergantung pada bahan yang digunakan. Kedua, terdapat jamur berwarna putih di permukaannya. Apabila jamur yang ditemukan berwarna hitam, maka ini merupakan tanda kegagalan dalam proses fermentasi. Ketiga, beraroma segar. Jika aromanya busuk berarti gagal.

Dengan adanya cairan eco enzyme yang terbuat dari sisa sayur, buah ataupun kulit buah ini, maka akan dapat mengurangi jumlah sampah organik yang dihasilkan oleh rumah tangga.

*Penulis merupakan Mahasiswa KPI UMY, dan wartawan magang Suara ‘Aisyiyah

Related posts
Berita

Mahasiswa KKN UAD Gencarkan Edukasi Pengolahan Sampah Organik Metode Ember Tumpuk

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Unit VII.B.3 menyelenggarakan edukasi pengolahan sampah organik berupa limbah…

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *