EdutabMu: Dari Muhammadiyah untuk Indonesia

Berita 18 Agu 2021 0 112x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – “Dalam situasi pandemi saat ini, pendidikan di Indonesia mengalami berbagai tantangan, di mana interaksi tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sangat terbatas. Tantangan tersebut antara lain gadget, internet, budget, dan mindset”. Hal tersebut disampaikan Sekertaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti dalam launching program EdutabMu Digital Learning Acceleration yang dilakukan secara virtual pada Selasa (17/8).

Abdul Mu’ti mengatakan bahwa keterbatasan akses teknologi –salah satunya adalah kepemilikan gadget— untuk mendukung pembelajaran di masa pendemi menjadi permasalahan tersendiri bagi sebagian keluarga di Indonesia. Oleh karena itu, menurutnya, program EdutabMu ini merupakan upaya memberikan solusi atas permasalahan tersebut.

Selain soal kepemilikan gadget, permasalahan lain adalah keterbatasan akses internet. Mu’ti menyebut sebanyak 40% desa di Indonesia tidak memiliki akses listrik dan internet. “Oleh karenanya, dengan program ini kami menyediakan aplikasi yang dapat diakses walau secara offline,” jelas Mu’ti.

Tantangan selanjutnya adalah budget. Sebagian masyarakat Indonesia merasa terbebani dengan biaya untuk membeli gadget maupun pulsa agar dapat mengikuti kegiatan pendidikan yang dilaksanakan secara online.

Tantangan terakhir adalah mindset. Menurut Mu’ti, mindset menjadi salah satu masalah paling esensial dalam situasi pandemi saat ini. “Bagaimana kita harus mengubah pola pikir atau cara belajar berdasarkan situasi,” tuturnya.

Baca Juga: Upaya Mewujudkan Pendidikan Dasar untuk Semua

EdutabMu merupakan hasil kerja sama antara Muhammadiyah-‘Aisyiyah dengan Enuma yang berbasis di Korea Selatan. Hal ini, menurut Mu’ti, menunjukkan bahwa Indonesia dan Korea Selatan bukan hanya partner strategis, tetapi juga pengembangan pendidikan yang berkemajuan.

Mu’ti mengatakan bahwa Korea Selatan banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia karena Korean dramanya. Akan tetapi, untuk ke depannya, melalui program EdutabMu, Korea Selatan tidak hanya akan dikenal masyarakat indonesia karena Korean dramanya saja, tetapi juga sistem pendidikan dan kemajuan teknologinya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Lazismu Pimpinan Pusat Muhamadiyah Hilman Latief menyampaikan bahwa dari 25 juta siswa sekolah dasar di Indonesia, tidak semuanya mempunyai akses pembelajaran yang merata, “karenanya, kita coba mengakselerasi proses pembelajaran pendidikan melalui EdutabMu, yaitu sebuah platform akselerasi pendidikan melalui digital nir-internet,” jelas Hilman.

Acara peluncuran program EdutabMu ini bertepatan dengan HUT Indonesia ke-76, sehingga dapat dikatakan EdutabMu merupakan hadiah dari Muhammadiyah-‘Aisyiyah untuk Indonesia di sektor pendidikan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjanah Djohantini mengatakan momentum kemerdekaan RI ke-76 harus diisi dengan berbagai ikhtiar kemajuan. Dalam hal ini, Muhammadiyah-‘Aisyiyah terus melakukannya sejak awal perjuangan kemerdekaan RI. “Salah satu upaya Muhammadiyah-‘Aisyiyah untuk memajukan generasi yang akan datang bagi kepentingan Indonesia dan kepentingan SDM global adalah dengan program EdutabMu,” kata Noordjanah.

Ia menambahkan bahwa kehadiran EdutabMu ini sangat penting agar anak bangsa yang berada di pulau terpencil dan tidak mempunyai akses internet bisa tetap mendapatkan akses pendidikan.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, menyampaikan ucapan selamat atas diluncurkannya program EdutabMu ini. “Kami berharap Majelis Dikdasmen sebagai pilar penting dan leading sector untuk pendidikan tingkat dasar dan menengah akan mampu menghadirkan proses pembelajaran yang efisien, efektif, dan berkemajuan dengan menggunakan teknologi IT yang canggih serta cara pembelajaran yang terbaik”, kata Haedar.

***

Program EdutabMu bertujuan untuk mewujudkan akselerasi pembelajaran yang berkemajuan, insklusif, dan digital, serta memastikan terwujudnya pendidikan untuk semua melalui akses nir-internet bagi seluruh daerah di Indonesia, mulai jenjang PAUD hingga SD kelas 2, yang meliputi pembelajaran mengenai numerasi, literasi, dan bahasa yang dilakukan secara digital dengan suasana belajar yang menyenangkan di tengah pandemi.

Program ini diharapkan meningkatkan kapasitas siswa dalam bidang literasi, numerasi dan bahasa melalui pembelajaran berbasis digital. Selain itu diharapkan pula terjadi peningkatan kapasitas guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis digital. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *