Empat Pemicu Kontroversi Vaksinasi Covid-19 di Masyarakat

Berita 10 Sep 2021 0 61x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah Ada sejumlah kontroversi terkait vaksinasi yang kerap muncul di tengah masyarakat. Kontroversi itu muncul karena berbagai alasan dan/atau keyakinan masing-masing pihak yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pernyataan itu disampaikan Bambang dalam acara pengajian yang diselenggarakan secara virtual oleh Pesantren Covid-19 MCCC dengan tema “Kontroversi Vaksinasi” pada Rabu (8/9).

Dokter Spesialis Anak RS PKU Muhammadiyah Gamping itu mengatakan bahwa secara medis vaksinasi merupakan upaya untuk memberikan kekebalan yang spesifik. Vaksin bekerja melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali virus maupun bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Jadi, jelas Bambang, tubuh yang sudah di vaksin akan membentuk antibodi terhadap virus, sehingga ketika ada virus yang masuk, tubuh akan lebih siap untuk menghadapi virus tersebut.

Bambang menyebutkan, beberapa pemicu kontroversi vaksinasi di kalangan masyarakat di antaranya: Pertama, anggapan bahwa vaksinasi adalah sikap tidak tawakkal. Sejumlah masyarakat menganggap bahwa vaksinasi adalah sikap tidak tawakkal, artinya tidak percaya kepada ketentuan Allah. Mereka bahkan mengatakan tidak takut dengan Corona, tetapi hanya takut kepada Allah. Menurut Bambang, pernyataan seperti ini tentu tidak benar, karena vaksinasi adalah bentuk usaha atau ikhtiar untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, mencegah, serta melindungi diri dari virus tersebut.

Kedua, menganggap vaksinasi tidak percaya imunitas yang diberikan Allah. Bambang menegaskan bahwa melakukan vaksinasi bukan berarti tidak percaya dengan imunitas yang diberikan Allah, tetapi lebih kepada mempercepat kematangan sel-sel imun sebelum virus tersebut masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit. “Sama halnya seperti kita memakai helm. Bukan berarti kita tidak percaya dengan batok kepala kita, tetapi untuk melindungi otak dari benturan yang mungkin terjadi,” tutur Bambang.

Baca Juga: MCCC Adakan Vaksinasi Covid-19 bagi Masyarakat Difabel di Godean-Sleman

Ketiga, menganggap bahwa vaksin Covid-19 diproduksi untuk dijadikan sarana bisnis. Sebagian masyarakat menganggap bahwa vaksinasi diproduksi sebagai sarana bisnis. Menurut Bambang, bukan itu tujuan produksi vaksin. Vaksin diproduksi bukan untuk sarana bisnis, melainkan upaya untuk pencegahan penyakit.

Keempat, beredar banyak isu yang mengatakan bahwa vaksin tidak ada gunanya. Secara umum, menurut Bambang, vaksinasi terbukti bermanfaat dan aman untuk kesehatan, serta berguna untuk mencegah infeksi virus. Penelitian dari berbagai negara juga menyatakan, berbagai macam penyakit mengalami penurunan kasus kematian setelah dilakukan imunisasi.

Dalam kesempatan tanya jawab, seorang peserta bertanya mengenai anggapan bahwa  vaksinasi tidak perlu dilakukan, karena saat ini sudah ada probiotik ekstrak buah yang terbukti mampu memperkuat sistem imunitas terhadap Covid-19. Bambang menjelaskan bahwa vaksinasi adalah sistem kekebalan yang sifatnya spesifik, sedangkan probiotik adalah sistem kekebalan non-spesifik. Jadi keduanya saling membantu.

“Jadi ketika ada virus masuk, akan dicoba dilawan oleh kekebalan yang non-spesifik terlebih dahulu, dalam hal ini probiotik. Akan tetapi, ketika ada bakteri yang lolos masuk ke dalam tubuh yang tidak dapat dilawan oleh probiotik, maka kemudian antibodi hasil vaksinasi inilah yang bekerja secara spesifik melawan virus tersebut, agar tidak sampai masuk ke dalam tubuh. Jadi dua-duanya sama-sama penting,” ujar Bambang.

Di akhir acara Bambang menyampaikan bahwa masyarakat harus tetap sabar dalam menghadapi situasi pandemi saat ini, dan menyarankan agar selalu menerapkan protokol kesehatan, serta melakukan vaksinasi. Menurutnya, vaksinasi memang tidak 100 persen menjamin seseorang terhindar dari Covid-19, tetapi vaksinasi adalah bentuk ikhtiar kepada Allah untuk mengurangi penyebaran Covid-19. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *