Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dalam rangka perayaan HUT Ke-77 Republik Indonesia, Kominfo melalui Siberkreasi mengadakan bincang santai dengan tema “Merdeka Berbicara dengan Penuh Tanggung Jawab” pada Kamis (18/8). “Kebebasan berpendapat harus berbanding lurus dengan kecakapan literasi digital,” ujar Direktur Program Maarif Institut, Moh. Shofan selaku narasumber.
Shofan mengatakan bahwa seseorang harus cakap bermedia, sebab jika tidak maka mereka akan ikut di dalam arus itu. Pemahaman kognitif yang rendah membuat seseorang berpotensi termakan hoaks. Menurut dia, tantangan dunia digital sekarang ini adalah bagaimana mengutamakan ketepatan daripada kecepatan. Tidak hanya itu, pendidikan karakter dan empati sejak dini menjadi hal yang digaungkan pada saat sekarang.
Hal ini juga ditegaskan oleh Rahayu Saraswati. Menurutnya, saat ini yang dibutuhkan adalah bagaimana mengolah emosi dan empati, serta pendidikan karakter di sekolah. “Critical thinking untuk bisa menangkap apa yang disampaikan dengan kebebasan itu, lalu kemampuan kita untuk bereaksi. Jika tidak punya kemampuan untuk mengolah derasnya informasi, maka bisa disalahgunakan dan keliru dalam mengartikan dan bereaksi,” kata dia.
Baca Juga: Etika dalam Bermedia Sosial
Sementara itu, dari pihak Meta turut hadir Desy Sukendar. Ia menyebutkan bahwa sejauh ini langkah Meta untuk membentengi maraknya ujaran kebencian dan bullying di media sosial adalah dengan memasang rambu-rambu dengan menghadirkan tools yang bisa digunakan pengguna media sosial.
Desy mengatakan bagaimana cara mengelola komentar, yakni dengan memakai tool restrict yang bekerja secara diam-diam melindungi akun. Fitur ini, terangnya, bisa mengawasi orang yang berpotensi melakukan penindasan, sehingga bisa membatasi komentar orang tertentu, dan komentar tersebut tidak bisa dilihat semua orang. Selain itu juga bisa menggunakan fitur blokir kepada pengguna yang tidak disukai, sehingga akun tersebut tidak bisa melihat postingan atau aktivitas pengguna di media sosial.
Sebagai penutup, Rahayu menyebutkan bahwa jangan sampai kebebasan berbicara yang dirasakan saat ini menjadi kekebasan yang kebablasan. “Mungkin kita tidak bisa mengendalikan apa yang tertulis dan terlintas, tetapi kita bisa mengendalikan cara kita bereaksi, empati, matang bertindak, dan tidak emosional,” tutur Rahayu. (maharani)