Epidemiolog: Vaksinasi dan Protokol Kesehatan Kunci Penanganan Pandemi Covid-19

Berita 1 Sep 2021 0 87x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Indikator penularan covid-19 di Indonesia saat ini sudah menunjukkan level 3, positive rate terus turun, dan jumlah testing juga terus naik. Demikian disampaikan epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, dalam Covid Talk edisi 31 Agustus 2021 dengan tema “Pengendalian & Penanganan Penyebaran Virus Covid-19 Varian Delta”.

Dalam acara daring tersebut, hadir narasumber Bayu Satria Wiratama, Wakil Ketua MCCC PP Muhammadiyah Bidang Kesehatan Masyarakat Ahmad Muttaqin Alim, dan Umi Syarqiyah selaku Koordinator Vaksinasi MCCC PP Muhammadiyah.

“Kemarin kenapa terjadi peningkatan lebih tajam dibandingkan dengan November-Februari karena remnya agak telat, di-rem ketika tren kasusnya sudah naik. Mengapa kasusnya tetap naik, sebenarnya bukan karena PPKM-nya gagal total. Tidak. Efeknya baru terasa beberapa minggu kemudian,” lanjut Bayu.

Terkait kasus kematian karena Covid-19, menurut Bayu, nantinya diharapkan tidak terjadi lagi kenaikan signifikan ketika vaksinasi sudah merata. Ia mengatakan, ketika kasus Covid-19 naik, angka kematian juga naik.

“Kita harapkan itu tidak terjadi ketika yang divaksin mulai tinggi, kenapa? Karena vaksin sudah terbukti menurunkan keparahan Covid-19 sehingga yang perlu dirawat tidak banyak dan fasilitas kesehatan tidak terbebani. Jadi kalau ada kasus, itu ringan-ringan bisa segera ditangani,” imbuh Bayu.

Kini, ketika PPKM mulai dilonggarkan, terjadi peningkatan mobilitas selain di pemukiman. Namun yang perlu disikapi hati-hati, menurut Bayu, justru mobilitas di pemukiman karena paling susah dikontrol 5M-nya.

“Penelitian juga menunjukkan kalau berkunjung ke tempat orang lain, saudara atau teman dekat itu risikonya tinggi sekali karena orang cenderung merasa aman dan buka masker ketika bertemu orang yang sudah dikenal. Hal itu menyebabkan penularan sangat mungkin terjadi,” ungkapnya.

Baca Juga: Dokter Corona dan Corina Jelaskan Cara Mengurangi Risiko Penularan Covid-19 Varian Delta

Berbicara tentang efektivitas vaksin terhadap varian delta, Bayu mengungkapkan bahwa untuk varian delta memang semua vaksin menurun efektifitasnya untuk mencegah penularan, tapi tetap tinggi efektitasnya untuk mencegah keparahan apapun jenis vaksinnya.

Bayu menegaskan, “makanya walaupun sudah divaksin, tetaplah pakai masker karena belum ada vaksin yang benar-benar bisa menghentikan orang menularkan Covid-19 kepada orang lain. Cara sebenarnya mencegah penularan Covid-19 kuncinya dengan 3T, 5M dan vaksin”.

Narasumber kedua Ahmad Muttaqin Alim mengatakan kalau lonjakan kasus Covid-19 sangat terasa ketika varian delta masuk, keparahan pasien juga berbeda. “Pasien-pasien kritis di gelombang sebelumnya itu tidak terlalu banyak, itu yang kami rasakan. Pertama, pasien anak-anak itu meningkat, sebelumnya kami jarang dapat pasien anak, tetapi kemarin bahkan sampai meninggal dunia,” kata Alim.

Kedua, dokter Alim melanjutkan, pada gelombang tinggi varian delta itu, ibu hamil banyak terkena dengan kondisi berat, terutama usia kehamilan 27-33 minggu. Yang ketiga adalah mudah memburuknya pasien-pasien usia-usia lanjut, lebih cepat dari sebelumnya.

Mengenai efektivitas vaksin, dokter Alim bercerita pengalamannya merawat dua pasien Covid-19 yang sudah pernah divaksin. “Fatality rate-nya orang yang sudah divaksin itu lebih rendah dibandingkan dengan orang belum vaksin. Tapi apapun hasil dari vaksin yang alhamdulillah menunjukkan perlindungannya baik, tetap lebih baik tidak tertular, mencegah lebih baik daripada mengobati,” tegasnya.

Dokter Umi Syarqiah sebagai narasumber terakhir mengungkapkan tentang progres vaksinasi yang sudah dilaksanakan oleh Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dengan dukungan dari Kementrian Kesehatan.

“Potensi Muhammadiyah dalam hal vaksinasi sangat besar dengan 112 RS Muhammadiyah ‘Aisyiyah, 176 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan struktur Muhammadiyah dari pusat sampai dengan tingkat ranting,” kata Umi.

Karena potensi besar itu, Umi menuturkan Muhammadiyah mendapat kuota vaksin sebanyak 2 juta lebih. Diungkap pula sudah 76 RS dan Klinik Muhammadiyah yang sudah melaksanakan vaksinasi dengan jumlah total penerima vaksin sebanyak 116.026 jiwa dan yang mengikuti vaksinasi massal Muhammadiyah sebanyak 43.823 orang. (Budi Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *