PerempuanWawasan

Era Digital dan Perempuan Berkemajuan

Era Digital dan Perempuan Berkemajuan
Era Digital dan Perempuan Berkemajuan

ilustrasi: freepik

Oleh: Nazaruddin Latif

Era digital menghadirkan tantangan yang luar biasa bagi gerakan perempuan berkemajuan. Perkembangan teknologi media yang canggih membawa perubahan fundamental dalam kehidupan manusia. Komunikasi di dunia maya, silaturahmi via digital, dan transaksi bisnis secara online mudah dilakukan tanpa mengharuskan kontak fisik langsung. Kebutuhan referensi berupa buku, jurnal, dan kitab keagamaan bisa diperoleh dengan melalui perangkat internet, dan tidak mengharuskan dalam bentuk hard copy.

Di bidang dakwah keagamaan, kreativitas seorang penceramah (muballigh) dalam membuat konten dakwah di dunia maya semakin marak. Masyarakat dimanjakan dengan berbagai materi dakwah dan perspektif dari masing-masing penceramah, hanya bermodal kemauan mengakses internet dengan mudah memperoleh konten sesuai yang diinginkan.

Era teknologi media ini didominasi oleh usia muda atau yang oleh Noorhaidi Hasan diistilahkan sebagai kaum muda. Kaum muda dengan segala plus dan minusnya, merupakan kelompok yang secara massif melakukan kontak langsung dengan teknologi media.

Di satu sisi usia yang umumnya masih labil dan kontrol sosial keagamaan yang semakin longgar menyebabkan kemungkinan kelompok ini kehilangan pijakan hidup. Di sisi lain, keakrabannya dengan dunia digital memberinya peran signifikan melakukan kontektualisasi nilai-nilai ke dalam ranah dunia maya. Keberadaannya selalu menjadi tumpuan termasuk dalam menebarkan nilai-nilai berkemajuan sebagaimana digelorakan oleh gerakan perempuan berkemajuan.

Baca Juga: Gerakan Perempuan Masa Kini

Fenomena kemajuan teknologi digital merupakan tantangan bagi kaum perempuan berkemajuan, untuk terus mempertahankan eksistensi dan sekaligus konsistensinya guna menebar paradigma berkemajuan. Paradigma berkemajuan tidak terbatas oleh zaman. Kendatipun zaman terus berubah dengan beragam capaian di bidang ilmu pengetahuan serta teknologi, namun paradigma berkemajuan akan terus ada. Bahkan terus berkembang menawarkan kerangka berpikir yang berkeunggulan dibandingkan kerangka berpikir lainnya dalam menyikapi fenomena perkembangan zaman, termasuk kompleksitas persoalan yang ditimbulkan.

Gerakan perempuan berkemajuan selalu melintas batas, bahkan melampaui nalar kebanyakan gerakan-gerakan lainnya. Keberadaannya menjadi leader yang selalu progresif, tampil sebagai garda terdepan, dan selalu tanggap memberikan respons positif guna menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi oleh bangsa, dan bahkan peradaban manusia.

Gerakan perempuan berkemajuan tidak boleh terpaku pada romantisme sejarah. Hanya menjadikan kesuksesan generasi pendahulunya sebagai dongeng yang terus diceritakan kepada khalayak tanpa upaya reaktualisasi, layaknya mitologi kuno yang sekedar disampaikan kepada generasi-generasi berikutnya tanpa  adanya transformasi nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya.

Perbedaan zaman menghadirkan tantangan berbeda. Pembaruan yang pernah dilakukan oleh Siti Walidah dan tokoh-tokoh pembaruan periode awal adalah gerakan berkemajuan di era zamannya. Sedangkan paradigma berkemajuan sendiri terus melintas zaman.

Di era sekarang, realisasi gerakan berkemajuan bukan berarti melakukan langkah yang sama, terpaku pada langkah yang pernah dilakukan era sebelumnya, yang berarti membebek tanpa inovasi, kreasi dan dinamisasi. Tetapi melakukan reaktualisasi terhadap nilai-nilai substantifnya dengan didasarkan pada aspek sosio kultural saat ini, dan disertai upaya membandingkan masa lalu merupakan langkah penting. Sehinggga etos gerakan pembaruan dengan semangat berkemajuan tidak tercerabut dari akar substansial primordialnya, sekaligus tetap menjaga dinamisasi yang menjadi ruh bagi gerakan tersebut.

Berpegang pada kaidah mempertahankan khasanah yang pernah dimiliki dan mempunyai kesadaran untuk mau mengambil khasanah lain yang tidak kalah baiknya merupakan ide fundamental yang dijadikan landasan untuk berpijak. Keberhasilan membumikan paradigma berkemajuan di masa lalu merupakan khasanah yang bernilai sejarah dan membutuhkan reaktualisasi pada aspek substansialnya.

Sedangkan kesadaran mau mengambil kebaikan dari peradaban lain merupakan sikap keterbukaan, untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan diri, dan menghadirkan gerakan pencerahan yang baru. Karakteristik ini merupakan ciri khas gerakan berkemajuan yang tentu berbeda dengan gerakan yang bercorak eksklusif, dan menutup diri dari kemajuan yang dicapai oleh peradaban lainnya.

Selalu memperhatikan aspek yang tetap (al-tsabit) sebagai nilai fundamental agar tidak goyah, serta memperhatikan aspek yang terus berubah (mutahawwil), sebagai dinamisasi kehidupan untuk membentuk peradaban yang unggul. Paradigma berkemajuan adalah nilai yang harus tetap berada di dalam jiwa para aktivis maupun penggerak gerakan berkemajuan.

Di mana pun dan sampai kapan pun semangat pembaruan dengan mengedepankan semangat berkemajuan terus terjaga dan jangan sampai tereduksi oleh persoalan-persoalan yang dapat meredupkan cahaya berkemajuan. Motivasi Siti Walidah dan para generasi awal memberikan keteladanan yang harus terus terjaga jangan sampai hilang ditelan gemerlapnya dunia. Sedangkan pendekatan yang digunakannya bukan sesuatu yang tetap, tetapi harus didinamisasi dengan melihat konteks perkembangan zaman. Seperti di era digital maka ranah yang dihadapi berbeda sudah barang tentu media dan pendekatan yang dilakukan juga berbeda.

Tiga Pilar

Paradigma berkemajuan harus memperhatikan tiga pilar penting seperti yang pernah dirumuskan oleh Kuntowijoyo. Pertama, humanisasi bertujuan untuk mengangkat martabat manusia. Pada hakikatnya manusia memiliki kedudukan mulia, dengan potensi berpikir dan berkreasi.

Akan tetapi tidak semua manusia menyadari akan potensinya itu. Ketertarikan pada materi secara berlebihan guna  memenuhi hasrat kepuasan yang tiada selesai menyebabkan manusia kehilangan statusnya untuk hidup saling membantu, tenggang rasa dan tolong-menolong antar sesamanya. Apalagi di era digital seperti saat ini kemudahan berkomunikasi dan memperoleh informasi telah memanjakan manusia sehingga kecenderungan memilih yang praktis tidak bisa dihindari.

Potensi lahirnya sikap individualistis semakin besar, sehingga hakikat manusia sebagai makhluk sosial tereduksi. Oleh karena itu, gerakan berkemajuan harus mampu mengedukasi pemanfaatan teknologi media sebagai sarana untuk menumbuhkan manfaat dan menghindari kemafsadatan secara luas.

Kedua, liberasi berarti pembebasan. Orientasi membebaskan dari belenggu keterbelakangan nalar dan mental yang mengakibatkan stagnasi dan bahkan kemunduran. Gerak kehidupan selalu dinamis harus ditopang dengan pemikiran yang dinamis.

Baca Juga: Sembilan Prinsip Kaderisasi Digital

Liberasi berupaya membebaskan kehidupan masyarakat dari kejumudan berpikir yang megakibatkan kehidupan menjadi stagnan. Aktivis penggerak gerakan berkemajuan juga harus membebaskan dirinya dari jerat keterbelakangan dan kejumudan berpikir. Sebuah ironi jika para penggerak gerakan berkemajuan dengan penuh semangat menggelorakan liberasi untuk membebaskan masyarakat dari stagnasi namun dirinya sendiri tidak bisa keluar dari problematikanya sendiri.

Gerakan berkemajuan berbasis ganda (double movement) harus dilakukan, dimulai dari pembebasan terhadap para aktivis berkemajuan, kemudian dilanjutkan kepada masyarakat dalam skala yang luas.

Ketiga, transendensi merupakan ciri khas yang membedakan gerakan berkemajuan ini dengan gerakan serupa (seperti modernisasi) yang lahir dari peradaban lain. Jika gerakan modernisasi bercorak humanistik yang menjadikan manusia sebagai pusat segalanya. Berbeda dengan gerakan berkemajuan ini yang  menempatkan semangat melakukan pencerahan didasari oleh tanggungjawab merealisasikan titah yang bersifat transendental.

Upaya memajukan peradaban manusia karena perintah Ilahi. Berangkat dari perenungan spiritual menumbuhkan kesadaran melakukan aksi sosial guna melakukan pencerahan. Tempaan spiritual bukan sekedar membentuk kesalehan individual, seperti cukup melakukan ibadah memenuhi perintah, namun untuk memperoleh suplemen yang berguna meningkatkan semangat menjalankan tanggung jawab dan tugas yang diejawantahkan dengan melakukan konseptualisasi gerakan yang sistematis dan diimplementasikan melalui aksi sosial yang nyata.

Related posts
Sejarah

Muktamar Ke-37 Yogyakarta, Muktamar Pertama Aisyiyah sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah

‘Aisyiyah berdiri pada 27 Rajab 1335 H atau bertepatan dengan 19 Mei 1917 M. Nama ‘Aisyiyah bermakna pengikut ‘Aisyah, istri Nabi Muhammad…
Perempuan

Fatwa dan Perhatian Muhammadiyah tentang Perempuan

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi Fatwa adalah suatu penjelasan atau jawaban yang diberikan oleh mufti kepada mustafti (orang yang bertanya) tentang suatu…
Tokoh

Nusaibah binti Ka’ab Sang Perisai Rasulullah

Oleh: Amanat Solikah* Dalam sejarah Islam tercatat bahwa banyak kaum laki-laki dan perempuan sebagai mujahid dan mujahidah dalam membela agama Allah. Agama…

8 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.