Etika dalam Bermedia Sosial

Berita 2 Okt 2021 1 67x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Jumat (1/10), Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah dan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI mengadakan kegiatan “Literasi Digital: Cerdas Berkemajuan Bagi Agen Perubahan”.

Dalam kegiatan tersebut, Koordinator ‘Aisyiyah Center LPPI Islamiyaturrahmah menyampaikan, menurut fikih informasi, disebutkan bahwa: pertama, dalam perspektif islam, kemajuan teknologi informasi telah memberikan kemudahan dan keakuratan dalam menyampaikan pesan melalui kaidah qashash; kedua, Islam memberikan sinyal bahwa kemajuan teknologi juga berdampak negatif karena dapat membawa kemudahan dan menyebarkan berita bohong, membuat fitnah, dan provokasi; ketiga, dalam penyampaian informasi harus menggambarkan narasi atau kisah dan cerita yang benar.

Ia menjelaskan, silaturahmi dalam dunia digital sesuai etika Islam berkemajuan salah satunya ketika mengirimkan pesan pribadi melalui WhatsApp. Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mengirimkan pesan, di antaranya: pertama, memperhatikan waktu pengiriman pesan. Waktu pengiriman pesan harus sesuai dengan kondisi dan situasi, hindari waktu tengah malam; kedua, menggunakan bahasa yang baik; ketiga, mulai dengan mengucapkan salam; keempat, memperkenalkan identitas; kelima, menyampaikan tujuan dengan singkat dan jelas; keenam, mengucapkan terimakasih.

Baca Juga: Ragam Bentuk Kejahatan di Media Sosial dan Cara Mengatasinya

Selanjutnya, ia menjelaskan etika berkomunikasi di media sosial. Menurutnya, dalam bermedia sosial harus memperhatikan beberapa etika, di antaranya adalah: pertama, mengamankan data pribadi; kedua, menghargai hasil karya orang lain; ketiga, menggunakan bahasa yang baik dan sopan; keempat, menggunakan kata tulis yang benar; kelima, meninjau ulang kebenaran berita; keenam, menghindari penyebaran sara, hal yang tidak etis, dan pornografi; ketujuh, opini bedasarkan fakta dan data, dan; kedelapan, menghindari media sosial ketika sedang emosi.

Islamiyaturrahmah dalam hal ini mengibaratkan teknologi seperti kuda. Manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik susunannya dibanding makhluk lainnya (Q.S 95: 4), sehingga memiliki kemampuan untuk memproduksi, mengelola, dan menyebarluaskan informasi dan mengendalikan teknologi. “Jadi teknologi ibarat kuda adalah ketika manusia lari, maka kecepatannya tidak secepat kuda, akan tetapi manusia bisa mengendalikan kuda itu dengan kemampuan mengendarainya,” ucap Islamiyaturrahmah.

Sementara itu, mengenai digital emphaty, ia menyebutkan peran kita dalam dunia digital. Pertama, menyadari peka dan memahami perasaan diri sendiri dan orang lain di media sosial; kedua, membela teman ketika di bully di media sosial; ketiga, tidak kasar saat menulis komentar, dan; keempat, memperhatikan tata bahasa sebelum di-share agar tidak menyakiti perasaan orang lain.

Mengenai jejak digital, menurutnya, jejak digital sangat penting bagi setiap orang. Artinya, apapun yang kita share dan kita tulis di media sosial telah tersimpan, dan berlangsung selama-lamanya. Oleh karenanya, ia menyarankan agar selalu berhati-hati dengan dunia digital (media sosial), karena dari situlah sifat dan karakter kita bisa terlihat.

Di akhir penyampaiannya, ia berpesan khususnya kepada netizen Muhammadiyah dalam bermedia sosial agar: (a) menjaga nama baik dan mendukung persyarikatan Muhammadiyah dalam menyebarkan pesan-pesan positif; (b) saling berteman, sebagai bentuk silaturrahmi dan menjaga ukhuwah; (c) menjadikan media sosial sebagai wahana silaturrahmi bermuamalah tukar menukar informasi dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan; (d) saling mengingatkan, menasehati dengan etika yang tinggi sebagaimana ajaran Islam, sanggup mengkoreksi dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan. (rizka)

One thought on “Etika dalam Bermedia Sosial”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *