Etos Kerja menurut Rasulullah

Wawasan Wirausaha 24 Mar 2021 0 81x
Etos Kerja Rasulullah

Etos Kerja Rasulullah

Oleh: Muhsin Hariyanto

Asy-Syaukani dalam kitab al-Fawaid, I/151 mengutip sebuah kisah. Suatu hari Rasulullah saw. berjumpa dengan salah seorang sahabat, namanya Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari. Ketika itu Rasulullah saw. melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya ‘gosong’, kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. Maka beliau pun bertanya kepada Sa’ad: “Ada apa dengan tanganmu?” Dan Sa’ad pun menjawab ‘spontan’: “Wahai Rasullullah, tanganku menjadi seperti ini karena aku terbiasa bekerja untuk mengolah tanah dengan cangkul yang saya miliki, untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu pun beliau menggapai tangan Sa’ad dan menciumnya, seraya berkata, “Inilah tangan yang yang tidak akan pernah tersentuh api neraka”.

Kisah di atas, yang menurut sebagian ulama hadist diragukan kesahihannya. Memang sangat sederhana, tetapi telah menginspirasi diri saya untuk menyatakan bahwa ternyata saya belum ber-Islam dalam bekerja. Karena – hingga saat ini — saya masih menjadi seorang minimalis, untuk tidak mengatakan pemalas. Mengapa saya berkata begitu? Karena Rasulullah saw. sangat menghargai para pekerja keras, dan bisa saya pahami sebaliknya: beliau tidak menyukai pemalas.

Bekerja –dalam perspektif Islam— adalah bagian dari ibadah, dan tentu saja berpahala. Tetapi, mengapa —hingga kini— masih banyak orang Islam yang menikmati kemalasan? Bahkan, dengan tanpa rasa malu selalu menengadahkan tangan, berdoa kepada Allah untuk berkenan memberikan rezeki pada dirinya tanpa upaya yang memadai. Padahal Allah swt. telah berfirman: “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. at-Taubah [9]: 105).

Bekerja dalam perspektif Islam bukanlah sekadar merujuk kepada pengertian mencari harta (sebuah kata, yang dipahami oleh banyak orang sama-sebangun dengan pengertian rezeki), untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu, secara terus-menerus tak kenal lelah, tetapi (bekerja) mencangkup segala bentuk tindakan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga, dan siapa pun yang harus diuntungkan olehnya. Dengan kata lain, seseorang yang dianggap ‘telah’ bekerja adalah mereka yang telah berbuat sesuatu untuk menyumbangkan apa pun yang bisa dia lakukan bagi kebaikan siapa pun, tanpa menzalimi siapa pun.

Oleh karena itu, Allah menyatakan dalam firman-Nya, bahwa Dia menggariskan golongan yang beruntung (al-muflihun, jama’ dari [mufrad]: al-muflih) itu adalah: “orang yang beriman kepada-Nya, khusyu’ dalam shalatnya, bisa memanfaatkan peluang, peduli terhadap siapa pun yang membutuhkan uluran tangannya, mengendalikan hasrat seksualnya, memiliki komitmen kuat terhadap janji dan tanggung jawabnya, dan yang terakhir: “mampu mengimplementasikan nilai-nilai (luhur) shalatnya dalam seluruh perilakunya” (QS. al-Mu’minun [23]: 1-11).

Dalam kisah lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui persinggahan Rasullullah saw. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat –yang ada di sekitar persinggahan– Rasulullah saw. pun [kemudian] bertanya: “Wahai Rasullullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fî sabîllillah, maka alangkah baiknya”. Mendengar itu Rasulullah saw pun menjawab: “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah (jihad) fî sabîllillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga (jihad) fî sabillillâh.” (HR al-Baihaqi dari Anas bin Malik, As-Sunan al-Kubra, VII/479).

Dengan memadukan kedua kisah tersebut, seraya menyimak kembali makna QS. al-Mu’minûn [23]: 1-11, saya pun semakin bisa memahami pesan-pesan Rasulullah saw. dalam konteks arti penting bekerja keras dan cerdas, dan insya Allah bisa memetik hikmahnya. Antara lain, saya  bisa menyatakan bahwa ketika seseorang bekerja, dia bukanlah sekadar ingin mengejar harta dunia tanpa mempertimbangkan kemungkinan adanya perolehan ridha Allah, yang esensinya adalah mengejar kepuasan hawa nafsu. Namun seorang Muslim bekerja dalam rangka mencari rezeki yang halal dan thayyib (baik), untuk bekal hidupnya dalam rangka menyempurnakan ibadahnya kepada Allah, dengan cara membangun ketaatannya kepada Allah dalam proses mencari dan menggunakan rezeki Allah.

Di samping itu, Rasulullah saw. telah memberikan teladan kepada umat, dengan bangunan karakternya yang dikatakan oleh para ulama bisa menjadi modal utama dalam bekerja: (a) ash-Shidiq, jujur pada diri sendiri dan orang lain; (b) al-Amanah, sanggup mengemban kepercayaan dan menjalankan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya tanpa keserakahan; (c) al-Fathanah, cerdas dalam melihat potensi diri serta menangkap peluang yang ada, tanpa meremehkan peluang sekecil apa pun; (d) at-Tablîgh, sanggup membangun komunikasi efektif dengan siapa pun, dan memanfaatkannya untuk mengembangkan seluruh potensi dirinya untuk kemashlahatan orang lain dan begitu juga sebaliknya, mampu memanfaatkan potensi orang lain untuk kemaslahatan dirinya tanpa saling merugikan.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh, bagaimana cara membangun etos kerja Islami bagi umatnya, dengan sabda, sikap, dan perilakunya, serta membuktikan keberhasilannya. Maka, saatnya kita mencontoh (ber-ittiba’) etos kerja Islami yang telah terbangun pada diri dan para sahabat beliau, dengan memahami konsep yang telah mereka tawarkan dalam konteks ruang, waktu, dan tantangan yang berbeda. Fastabiqu al-Khairat, wa Ibda’ bi Nafsik!

Tinggalkan Balasan