Wawasan

Fakta-Fakta Seputar Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah Ke-48

Muktamar Aisyiyah 48

Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah Ke-48 sudah di depan mata. Sebelum itu, ada baiknya mengetahui beberapa fakta tentang gelaran Muktamar kali ini.

Muktamar Ketiga di Solo

Musyawarah akbar organisasi Islam modern ini pernah tiga kali dilangsungkan di Solo. Yang pertama pada tahun 1929. Waktu itu nama yang digunakan masih Congres. Congres Moehammadijah ke-18 itu berlangsung dari tanggal 30 hingga 5 Februari 1919. Agenda yang dibahas meliputi perkembangan Islam di dunia internasional dan dakwah Muhammadiyah di berbagai bidang.

Tahun 1985, Muhammadiyah kembali menjadikan Solo sebagai tuan rumah Muktamar. Muktamar Muhammadiyah ke-41 itu rencananya digelar tahun 1983. Hanya saja, waktu itu sedang terjadi hiruk pikuk penerapan asas tunggal Pancasila oleh Pemerintah Orde Baru. Muktamar pun diputuskan diundur ke tanggal 7 sampai 11 Desember 1985.

Seolah mengulang peristiwa 35 tahun lalu, Muktamar ke-48 pun sempat diundur selama 2 tahun. Pandemi Covid-19 memaksa segala persiapan Muktamar disiapkan ulang. Namun begitu, penundaaan selama 2 tahun ini tidak mengurangi animo warga dan pimpinan Muhammadiyah-‘Aisyiyah untuk menyemarakkan Muktamar.

Muktamar Pertama dengan Sistem Hybrid

Meski melandai, pandemi Covid-19 belumlah usai. Atas pertimbangan keselamatan jiwa semua pihak, Muhammadiyah-‘Aisyiyah memutuskan menerapkan sistem hybrid dalam gelaran Muktamar ke-48 ini. Sistem hybrid ini baru kali pertama diterapkan.

Muktamar akan diselenggarakan dalam 2 (dua) tahap. Tahap pertama digelar secara online pada 5-6 November 2022 dengan agenda laporan pertanggungjawaban periode 2015-2022, rancangan program periode 2022-2027, risalah Islam dan perempuan berkemajuan, serta pembahasan isu-isu strategis di aras keumatan, kebangsaan, maupun kemanusiaan semesta.

Sementara tahap kedua akan digelar secara offline pada 18-20 November 2022 di Surakarta. Selain agenda utama seperti pembukaan, tanwir, dan ajang suksesi kepemimpinan, ada berbagai kegiatan penunjang, sebut misalnya Malam Mangayubagyo, Muktamar Fair, MITE, dan sebagainya.

Isu Strategis

Muhammadiyah punya beberapa isu strategis yang akan dibahas dalam Muktamar ke-48 ini. Di aras keumatan, ada enam isu yang akan dibahas, yaitu: rezimentasi agama atau standarisasi pemahaman agama oleh pemerintah, kesalehan digital, persaudaraan antarsesama muslim, penguatan tata kelola akuntabilitas filantropi Islam, otentisitas moderasi sesuai al-Quran, dan agama yang mencerahkan.

Di aras kebangsaan, ada sembilan isu yang akan dibahas, yaitu: memperkuat ketahanan keluarga, reformasi sistem pemilu, suksesi kepemimpinan 2024, evaluasi deradikalisasi yang sering disalahgunakan, memperkuat keadilan hukum, penataan ruang publik yang inklusif dan adil, memperkuat regulasi sistem resiliensi bencana, antisipasi aging population (usia manula), dan memperkuat integritas nasional.

Baca Juga: Daftar Ketua Umum PP Aisyiyah dari Masa ke Masa

Sementara di aras kemanusiaan semesta ada empat isu yang akan dibahas, yaitu: membangun tata dunia yang damai dan berkeadilan, sosial regulasi dampak perubahan iklim, mengatasi kesenjangan antarnegara, dan menguatnya xenophobia termasuk di dalamnya Islamophobia.

Sebagai organisasi otonom khusus Muhammadiyah, ‘Aisyiyah juga mempunyai beberapa isu strategis. Ada 10 (sepuluh) isu yang yang akan dibahas ‘Aisyiyah, yaitu: penguatan peran strategis umat Islam dalam mencerahkan bangsa, penguatan perdamaian dan persatuan bangsa, pemilihan umum yang berkeadaban menuju demokrasi substantif, optimalisasi pemanfaatan digital untuk atasi kesenjangan dan dakwah berkemajuan, menguatkan literasi nasional, ketahanan keluarga basis kemajuan peradaban bangsa dan kemanusiaan semesta, penguatan kedaulatan pangan untuk pemerataan akses ekonomi, penguatan mitigasi bencana dan dampak perubahan iklim untuk perempuan dan anak, akses perlindungan bagi pekerja informal, dan menurunkan angka stunting di Indonesia.

Muktamar Keduabelas Aisyiyah sebagai Ortom Muhammadiyah

‘Aisyiyah ditetapkan sebagai organisasi otonom Muhammadiyah pada Oktober 1966. Dengan penetapan itu, ‘Aisyiyah punya hak dan kewajiban untuk mengatur “rumah tangga”-nya sendiri. Dua tahun setelahnya, ‘Aisyiyah menggelar Muktamar ke-37 di Yogyakarta (1968), yang menjadi muktamar pertama ‘Aisyiyah sebagai ortom.

Selepas itu, Muktamar ‘Aisyiyah diselenggarakan berturut-turut pada 1971 (Makassar), 1974 (Padang), 1978 (Surabaya), 1985 (Solo), 1990 (Yogyakarta), 1995 (Banda Aceh), 2000 (Jakarta), 2005 (Malang), 2010 (Yogyakarta), 2015 (Makassar), dan 2022 (Solo). Selama dua belas kali pelaksanaan itu, tercatat ada 4 (empat) sosok yang diamanahi menjadi Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, yaitu Siti Baroroh Baried (1965-1985), Elyda Djazman (1985-2000), Chamamah Soeratno (2000-2010), dan Siti Noordjannah Djohantini (2010-2022). (siraj)

Related posts
Berita

Mumpung di Solo, Wisata Kuliner Selat Solo Perlu Dicoba

Surakarta, Suara ‘Aisyiyah – Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah ke-48 yang dihelat di Kota Solo memang sudah selesai, tapi tidak bagi pelancong yang sudah jauh-jauh…
Berita

Pidato Pertama Salmah Orbayinah sebagai Ketua Umum PP Aisyiyah 2022-2027

Surakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dimulai dengan sapaan yang hangat dan bersahaja, Salmah Orbayinah mengucapkan di hadapan peserta muktamar, “Terima kasih yang sebesar-besarnya…
Berita

Resmi! Salmah Orbayinah Terpilih menjadi Ketua Umum PP Aisyiyah Periode 2022-2027

Surakarta, Suara ‘Aisyiyah – Sidang Pleno X telah menetapkan Salmah Orbayinah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2022-2027. Selain itu, telah…

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *