Konsultasi Agama

Fatwa Muhammadiyah tentang Ibadah Kurban di Tengah Wabah PMK

Fatwa PMK Muhammadiyah

Jumlah hewan ternak yang terkena wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia terus meningkat. Merujuk data siagapmk.id (6/7), wabah telah menyebar ke 21 provinsi dan 232 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Secara kumulatif, ada 320.083 hewan ternak –terdiri atas sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi– yang sakit, 2.029 mati, 109.335 sembuh, 2.820 potong bersyarat, dan selebihnya 206.899.

Banyaknya jumlah hewan ternak yang terkena PMK memunculkan kegelisahan tersendiri bagi masyarakat, khususnya peternak. Kegelisahan itu bertambah mengingat dalam waktu dekat umat Islam akan merayakan Iduladha. Untuk menjawab kegelisahan itu, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah melakukan pembahasan dengan melibatkan ahli kesehatan dan praktisi peternakan.

Tim Fatwa Agama MTT PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa hewan yang digunakan untuk ibadah kurban adalah hewan ternak, meliputi unta, sapi, kerbau, kambing, domba, dan kibas. “Hewan yang akan dijadikan hewan kurban adalah hewan yang sehat, enak dipandang mata, mempunyai anggota tubuh yang lengkap, tidak ada cacat seperti buta, rusak kulitnya, pincang, dan sebagainya”.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa syarat hewan yang dikurbankan harus memenuhi kriteria musinnah atau harus sudah cukup umur untuk dijadikan kurban.

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرْبَعٌ لاَ تَجُوزُ فِي الضَّحَايَا الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لاَ تُنْقِي

Artinya, “Dari al-Bara’ bin ‘Azib (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw. berdiri di antara kami dan bersabda: empat macam kecacatan yang tidak boleh untuk berkurban adalah buta yang jelas kebutaannya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan kurus kering yang tidak banyak dagingnya” (HR. Ahmad dan empat ahli hadits lain).

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَذْبَحُوا إِلاَّ مُسِنَّةً إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ

Artinya, “Dari Jabir (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: jangan kamu sembelih (untuk berkurban) kecuali (yang telah) musinnah (cukup umur), melainkan jika kamu kesulitan memperolehnya, sembelihlah jadza’ah (anak kambing)” (HR. Muslim).

Dengan mempertimbangkan beberapa hal, Tim Fatwa Agama MTT PP Muhammadiyah menjawab setidaknya dua persoalan mengenai PMK dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah kurban. Pertama, bolehkah hewan kurban yang sudah positif terkena PMK tetap dijadikan hewan kurban? Kedua, jika hewan kurban mati karena PMK sebelum disembelih, apakah sahibulkurban harus menggantinya, menjadi tanggung jawab panitia kurban atau dapat dikembalikan pada penjual?

Berdasarkan dalil bayani dan burhani dari keterangan para ahli, berikut ketentuan yang disepakati Tim Fatwa Agama MTT PP Muhammadiyah:

  1. Pada dasarnya, hewan ternak yang dijadikan hewan kurban harus memenuhi kriteria sehat sebagaimana disebutkan pada dalil hadis di atas. Jadi, hewan yang sedang sakit tidak sah untuk dijadikan hewan kurban. Persoalannya, sakit yang bagaimanakah yang menyebabkan hewan tidak layak dijadikan hewan kurban? Pada hadis di atas disebut kriteria al-marīḍatu al-bayyinu maraḍuha (sakit yang jelas sakitnya). Maksud dari “sakit yang jelas” adalah sakit yang berat, sakit yang sudah hampir tidak mungkin sembuh atau sakit yang hampir pasti menyebabkan kematian. Sakit berat bagi hewan ini ditandai di antaranya dengan menyebabkan kuku melepuh dan terkelupas dan kaki menjadi pincang akut, tidak mau makan hingga berat badan berkurang, berbaring terus tidak bisa bangun. Hewan yang sakitnya ringan, atau dapat disebut sebagai al-marīḍatu al-khafīfu maraḍuha pada hakikatnya tidak masuk dalam kategori ini. Dengan demikian, hewan kurban yang terkena PMK dan belum menunjukkan gejala-gejala berat seperti di atas tetap sah dijadikan hewan kurban. Untuk mengetahui kondisi kesehatan hewan terkait PMK hendaknya dikonsultasikan kepada dokter hewan di tempat masing-masing (Puskeswan atau lainnya).
  1. Sahibulkurban atau panitia pelaksana kurban harus cermat dalam memilih dan membeli hewan kurban. Hewan kurban yang sedang sakit tidak boleh dibeli. Hewan kurban yang berasal dari daerah yang penularan PMK-nya cukup tinggi tidak boleh dibeli, karena berpotensi besar tertular atau menularkan virus PMK. Setiap pembelian hewan kurban harus disertai dengan surat keterangan kesehatan hewan dari dokter hewan yang bertugas di tiap Puskeswan. Pada masa pemeliharaan, harus dijaga betul penerapan protokol kesehatan di sekitar hewan kurban untuk mengurangi potensi penularan. Hewan juga harus diberi makan dan nutrisi/vitamin tambahan agar tidak mudah terpapar virus PMK. Hal ini sejalan dengan kaidah fikih سَدُّ الذَّرِيْعَةِ (menutup jalan kerusakan) dan sebagai bentuk kehati-hatian. Namun, apabila di suatu daerah ada kesulitan atau bahkan tidak dapat ditemukan hewan yang sehat, atau setelah dibeli dan menjelang waktu penyembelihan hewan kurban jatuh sakit, maka dibolehkan menjadikannya hewan kurban. Hal ini sesuai dengan kaidah المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ  (kesulitan mendatangkan kemudahan) dan kaidah الضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْضُوْرَاتِ  (keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang) dengan tetap memperhatikan ketentuan pada butir 1 di atas.
  2. Apabila hewan kurban mati karena PMK sebelum dilakukan penyembelihan, maka sahibulkurban tidak diharuskan mengganti hewan kurbannya, karena sudah mendapat nilai pahala niat berkurban, meskipun ada “kerugian” secara materiil, yaitu tidak diperoleh daging kurban yang akan dibagi-bagikan sebagaimana mestinya. Adapun hewan kurban yang terkena PMK dalam keadaan bergejala berat dan besar kemungkinan akan mati, kemudian disembelih paksa agar masih dapat dimanfaatkan dagingnya, maka penyembelihan tersebut bukan termasuk penyembelihan hewan kurban, melainkan penyembelihan hewan biasa. Namun, ketika tidak mungkin dilakukan pengadaan hewan kurban pengganti, maka sejatinya sahibulkurban telah mendapat nilai pahala niat berkurban. Mengenai siapa yang harus bertanggung jawab, hal ini perlu disepakati sebelumnya dengan pedagang atau peternak dan dimusyawarahkan bersama panitia pelaksana kurban untuk memperoleh jalan keluar yang paling maslahat.
  3. Daging hewan kurban yang terkena PMK masih dapat dikonsumsi oleh manusia. Sebagai bentuk kehati-hatian, pada bagian-bagian yang terkena gejala PMK seperti mulut, lidah, kaki, dan jeroan dapat disterilkan dengan cara direbus terlebih dahulu dalam air mendidih selama lebih dari 30 menit atau dibuang (tidak dikonsumsi) bila merasa jijik atau khawatir.

Wallahu A’lam.

sumber: tarjih.or.id

Related posts
Berita

MTT PP Muhammadiyah Jelaskan Hukum Hormat Bendera dan Mengheningkan Cipta

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyelenggarakan kajian rutin Tarjih Muhammadiyah ke-182 melalui siaran langsung di kanal YouTube…
Perempuan

Fatwa dan Perhatian Muhammadiyah tentang Perempuan

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi Fatwa adalah suatu penjelasan atau jawaban yang diberikan oleh mufti kepada mustafti (orang yang bertanya) tentang suatu…
Berita

Tiga Sebab Perempuan Haram Dinikahi

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Selasa (21/9), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan Kajian Tarjih yang disiarkan melalui channel YouTube @tvMu dengan tema “Fatwa…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *