FGD Instruktur Madya IMM DIY: Jadikan Manhaj Tarjih Muhammadiyah Sebagai Landasan Berpikir

Berita 28 Mei 2021 0 135x
FGD Instruktur Madya IMM DIY

Hamim Ilyas – FGD Instruktur Madya IMM DIY

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Manhaj Tarjih merupakan landasan metodologi Muhammadiyah dalam merumuskan berbagai persoalan kehidupan, sehingga nafas Islam benar-benar dijadikan sebagai jalan hidup. Penegasan ini disampaikan Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hamim Ilyas selaku narasumber dalam FGD Instruktur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan secara virtual pada Kamis (27/5). Acara tersebut diselenggarakan Korps Instruktur Madya DPD IMM DIY yang diikuti oleh kader IMM dari berbagai daerah di Indonesia.

“Muhammadiyah adalah gerakan yang berwawasan berkemajuan, sehingga peningkatan bidang kehidupan selalu diupayakan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Perlu adanya landasan mendasar yang dijadikan pijakan folosofis. Manhaj Tarjih Muhammadiyah hadir untuk menyempurnakan posisi tersebut,” Hamim.

Baca Juga

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin: Konsepsi dan Manifestasi

Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM) mengatur  ruang lingkup ajaran Islam dalam paham agama Muhammadiyah dengan menyatakan pendiriannya bahwa: ajaran Islam merupakan kesatuan ajaran yang tidak boleh dipisah-pisah yang meliputi dimensi akidah, akhlak, ibadah, dan muamalat dunyawiyah.

Berdasar ruang lingkup ajaran tersebut, manhaj tarjih menjadi metodologi Muhammadiyah dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan ajaran Islam, tidak hanya bidang hukum saja. Menurut Hamim, berdasarkan sumber sejarah yang ada, manhaj tarjih Muhammadiyah telah dirumuskan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih Tahun 2000 di Jakarta. Dalam Munas tersebut disepakati pula epistemologi untuk memahami ajaran Islam, yakni bayani, burhani dan irfani.

Pertama, bayani. Asumsi dasarnya adalah sumber utama yang dijadikan landasan beribadah dan melakukan amalan-amalan kebaikan. Sumber utama yang dimaksud ialah berdasarkan kebenaran dan kemurnian al-Quran dan as-sunnah.

Kedua, burhani yang berpijak pada rasionalitas atau ilmu. Sumber utamanya adalah nalar dengan menggunakan metode-metode penalaran, antara lain: nalar pembebasan, keutuhan, fungsional, dan kontekstual.

Baca Juga

Abdul Mu’ti: Warga Muhammadiyah-‘Aisyiyah Harus Menampilkan Wajah Islam yang Otentik

Ketiga, irfani yang sering diartikan sebagai keterlibatan intuisi atau hati nurani. Metode yang digunakan adalah refleksi, yakni perenungan dan pemahamanan yang mendalam terhadap seluruh realitas wujud dan kehidupan, termasuk realitas tertinggi.

“Berbicara tentang tiga epistemologi, yakni bayani, burhani dan irfani, tidak bisa terlepas dari paradigma Islam. Selanjutnya, paradigma agama Islam akan selalu berkaitan dengan gagasan ‘Masalah Lima’ yang selalu dibumikan oleh para tokoh awal Muhammadiyah hingga detik ini,” gagasnya. (LTA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *