Fikih Al-Maun

Wawasan 19 Feb 2021 2 80x
Fikih al-Maun

Fikih al-Maun

Oleh: Hamim Ilyas

Muhammadiyah dalam melaksanakan gerakannya berdasar pada ajaran-ajaran agama dan paham Islam moderat yang menjadi basis teologi perjuangannya. Gerakan Muhammadiyah pada masa awal pendiriannya di antaranya digerakkan oleh spirit al-Maun.

***

Sejarah menyaksikan bahwa masyarakat modern dengan elemen-elemen kemajuannya (ekonomi pasar, ilmu pengetahuan dan teknologi, meritokrasi, pragmatisme, budaya perdamaian, aturan hukum, dan pendidikan) telah mencapai peradaban tinggi yang sebagian bidangnya diklaim sebagai telah mencapai puncak terakhir dari pengembangannya (the end of history). Sejarah juga menyaksikan bahwa mereka telah mencapai kesejahteraan hidup berstandar tinggi yang membuat sebagian orang mengatakan bahwa mereka telah berhasil mewujudkan surga di dunia.

Karena itu, wajar jika negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, melaksanakan pembangunan untuk mentransformasikan masyarakatnya menjadi masyarakat modern sehingga sejajar dengan masyarakat maju yang lain. Namun diketahui bahwa tidak semua orang bisa menikmati kesejahteraan dan kue pembangunan, bahkan tidak sedikit di antaranya yang menjadi korbannya, sehingga menjadi penyandang masalah sosial dan menjadi dhu’afa dan mustadh’afin baru yang belum dikenal di zaman pramodern.

Spirit Al-Maun Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar bertanggung jawab untuk ambil bagian dalam penyelesaian masalah-masalah sosial yang disandang warga yang menjadi umat dakwahnya. Sebagai organisasi sosial-keagamaan, Muhammadiyah dalam melaksanakan gerakannya sudah barang tentu berdasar pada ajaran-ajaran agama dan telah menggariskan Islam moderat untuk menjadi basis teologi perjuangannya. Gerakan Muhammadiyah pada masa awal pendiriannya di antaranya digerakkan oleh spirit al-Maun. Karena itu, sangat beralasan jika basis teologi untuk pelaksanaan tanggung jawab itu dijabarkan dengan menggunakan bingkai surat ke-107 dari al-Quran tersebut.

Surat al-Maun menegaskan bahwa orang yang mendustakan agama adalah mereka yang menelantarkan anak yatim dan orang miskin. Penegasan itu ditujukan terhadap mereka yang mengaku mempercayai agama dan lahirnya menjalankan upacara agama, namun pengakuan dan perbuatan mereka belum mencerminkan kejujuran dan kesungguhan iman. Selanjutnya, jika ketidakpedulian sosial mereka itu dibarengi dengan kelalaian menjalankan salat, maka surat itu menegaskan mereka akan mendapatkan kecelakaan di akhirat.

Penegasan itu menunjukkan bahwa keberagamaan yang benar adalah keberagamaan yang dapat mendorong pemiliknya untuk peduli kepada anak yatim dan orang miskin. Keberagamaan ini menjadi keberagamaan yang otentik dalam Islam. Sebagai keberagamaan yang otentik, ia akan memberikan kepada umat kesadaran untuk menghadirkan diri di dunia secara benar dengan mempunyai kapasitas yang memadai untuk bertindak, merasa, dan berpikir, berdasarkan pilihan jiwa yang bahagia, bukan lahir dari desakan luar yang semu.

Keberagamaan Islam yang otentik menurut surat al-Maun memberikan kesadaran dan jalan kepada umat untuk mewujud dan menghadirkan diri sebagai pelayan-pelayan bagi anak yatim dan orang miskin dengan ikhlas dan bahagia. Sebaliknya, keberagamaan yang tidak otentik atau palsu adalah keberagamaan yang tidak konsekuen, tanpa spiritualitas, dan tanpa tanggung jawab sosial. Keberagamaan ini termanifestasi dalam kelalaian menjalankan salat, perbuatan riya’, dan keengganan menolong.

Dengan demikian, al-Maun mengajarkan amal tertentu sebagai bukti kebenaran iman. Amal tersebut dilakukan dengan didasarkan pada rumusan penafsiran tertentu, yakni penafsiran yang bertitik tolak dari al-Quran sebagai satu kesatuan dan didasarkan pada keyakinan bahwa ia diwahyukan sebagai rahmat, kitab yang memberi kebaikan yang nyata dengan memberikan petunjuk (huda), harapan baik (mau’idhah), kegembiraan (busyra), dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (syifa’ limā disshudūr).

Allah Maha Rahman dan Rahim

Amal al-Maun didasarkan atas keimanan bahwa Allah swt. mewajibkan diri-Nya mempunyai sifat rahmat (kasih), sebagaimana yang difirmankan dalam al-An’am [6]: 12,

Artinya, “katakanlah (Muhammad), ‘milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?’ Katakanlah, ‘’milik Allah’. Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak diragukan lagi. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman”.

Nabi Diutus untuk Menjadi Rahmat

Dalam hubungannya dengan keimanan kepada Nabi Muhammad saw., fikih al-Maun didasarkan pada kepercayaan bahwa Nabi diutus untuk menjadi rahmat, mewujudkan kebaikan yang nyata. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra., Nabi saw. menegaskan bahwa dia tidak diutus untuk menjadi tukang laknat, tapi untuk menjadi rahmat (innī lam ub’ats la’anan, wa innamā bu’itstu rahmat).

Islam Agama Rahmat

Sementara dalam hubungannya dengan keislaman, fikih al-Maun didasarkan pada keyakinan bahwa Islam merupakan agama rahmat. Dalam surat al-Anbiya’ [21]: 107 ditegaskan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam, “wa mā arsalnāka illā rahmatan lil ‘ālamīn”.

Penegasan ayat tersebut dengan menggunakan pola kalimat nafyu-istitsna’ (penafian-pengecualian): Kami tidak mengutusmu (nafy), kecuali untuk menjadi rahmat (istitsna’). Pola itu dalam penggunaannya dimaksudkan untuk menetapkan satu kualitas bagi sesuatu dengan menafikan darinya segala kualitas selainnya secara total, sehingga pengertian pernyataan tersebut adalah: Islam itu adalah rahmat dan agama yang tidak menjadi rahmat itu bukan Islam.

Di atas telah disebutkan bahwa rahmah adalah riqqah taqtadhi al-ihsān ilā al-marhūm, perasaan halus (kasih) yang mendorong memberikan kebaikan kepada yang dikasihi. Ini berarti bahwa Islam itu memberikan kebaikan yang nyata. Supaya dapat memberikan kebaikan yang nyata, Islam mempunyai karakteristik yang dari berbagai ayat dan hadits bisa dirumuskan sebagai berikut:

Pertama, agama rasional. Kebaikan kehidupan manusia sangat ditekankan dalam Islam. Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan rasionalitas dengan memfungsikan anugerah Allah berupa akal pikiran untuk menentukan pilihan yang terbaik.

Kedua, agama peduli. Tidak ada kebaikan yang diberikan tanpa kepedulian. Karena itu dengan sendirinya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam juga merupakan agama yang peduli kepada nasib manusia. kepedulian Islam kepada manusia diwujudkan dengan menegaskan kemuliaan manusia dibanding makhluk yang lain.

Kemuliaan manusia itu merupakan sesuatu yang universal yang dimiliki oleh seluruh umat manusia, sehingga mereka menjadi satu bangsa. Sebagai satu bangsa, mereka mempunyai kecenderungan dan kebutuhan yang sama untuk cenderung menimbulkan konflik. Oleh karena itu, para Nabi diutus untuk menghindarkan mereka dari konflik tersebut.

Ketiga, agama peradaban. Kebaikan manusia hanya dapat diwujudkan dengan peradaban. Karena itu, dengan sendirnya pula Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam merupakan agama peradaban. Peradaban adalah suatu kebudayaan yang mempunyai sistem ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, sistem sosial yang maju dan kompleks. Karakteristik ini terlihat dalam banyak ayat dan hadits yang menghargai unsur-unsur kebudayaan tersebut.

Sumber: Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 10 Tahun 2012