Fikih Nifas Perempuan dalam Perspektif Islam Berkemajuan

Perempuan Wawasan 9 Jul 2021 0 292x

Bagi perempuan terdapat tiga jenis darah yang keluar dari farji di antaranya haid, nifas, dan juga istihadhah. Berdasarkan pengertiannya, haid merupakan proses keluarnya darah dari farji yang disebabkan oleh siklus bulanan alami pada tubuh seorang perempuan.

Sedangkan nifas merupakan darah yang keluar melalui farji yang biasanya terjadi atau keluar setelah persalinan. Adapun istihadhah merupakan  darah yang keluar dari farji di luar waktu haid.

Sheila Ardiana seorang Magister Al-Azhar Kairo yang turut aktif di Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Kairo dalam Kajian Fikih Perempuan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Sabtu, 19 Juni 2021 menegaskan bahwa bagi perempuan tidak ada jenis darah yang keempat selain dari tiga jenis darah tersebut.

Sheila menjelaskan bahwa haid dan nifas adalah hadats besar, perempuan yang mengalaminya dilarang shalat, berpuasa, dan juga berjima’. Sedangkan istihadhoh adalah hadats yang tidak menghalangi untuk menjalani kewajiban ibadah.

“Seorang perempuan harus bisa membedakan mana darah haid, nifas, dan juga istihadoh karna hukum memahami hal tersebut  bagi seorang muslimah adalah fardhu ‘ain. Sedangkan bagi laki-laki hukumnya fardhu kifayah karena memahami fikih darah berguna untuk memahami istrinya,” ungkap Sheila.

Baca juga: Abdul Mu’ti: Masa Depan Dunia Ditentukan oleh Perempuan, Madrasah Mua’llimat adalah Rahimnya

Dalam kajian tersebut, Sheila memfokuskan pembahasan terkait nifas. Adapun syarat darah nifas diantaranya:

Pertama, darah keluar ketika janin telah dilahirkan dari dalam Rahim. Jika terjadi keguguran, namun tetap mengeluarkan darah tetap dikatakan nifas karena darah yang keluar disebabkan dari janin yang terdapat di dalam rahim.

Kedua, darah keluar sebelum 15 hari dari janin dilahirkan. Jika sudah keluar dari sebelum 15 hari, maka belum dapat dikatakan darah nifas.

Ketiga, selama keluarnya darah tidak dipisahkan suci selama 15 hari atau lebih.

Keempat, darah keluar tidak melewati masa maksimal nifas, jika melewati masa maksimal nifas maka tidak bisa dikatakan sebagai nifas dan wajib untuk menjalankan shalat, puasa, dan juga ibadah wajib lainnya.

Sheila menjelaskan bahwa di Jakarta terjadi sebuah peristiwa bahwa terdapat seorang ibu yang melahirkan tanpa mengeluarkan darah. Lalu bagaimana kaitannya dengan darah nifas? Sheila menjelaskan jika terdapat kejadian seperti itu maka hukumnya suci karena tidak ada darah yang keluar dari farji perempuan tersebut.

Sebagai penjelas, Sheila menegaskan bahwa ketika memahami fikih darah perempuan terdapat kaidah penting yang harus dipahami dan diperhatikan bahwa darah itu harus ada wujudnya. Jadi selama ada darah yang keluar perempuan tersebut dapat dihukumi baik itu darah haid, nifas, ataupun istihadhah.

Sedangkan masa maksimal nifas bagi perempuan terdapat perbedaan pendapat bagi para ulama. Hanafiyah dan Hanabilah mengungkapkan bahwa masa maksimal nifas bagi perempuan adalah 40 hari sesuai dengan dlahir riwayatnya perempuan pada umumnya mengalami nifas selama 40 hari, setelah 40 hari dapat dikatakan sebagai istihadhah.

Sedangkan Syafi’iyah dan Malikiyah menyebutkan bahwa masa maksimal nifas 60 hari karena secara istiqra para ulama terdapat perempuan yang mengalami nifas sampai dengan 60 hari. Dari Aku bin Abdil A’la, dari Abu Sahl, dari Mussah al-Azdiyyah, dari Ummu Salamah ra, dia berkata: “Para wanita nifas berdiam diri di masa Rasulullah saw. Selama 40 (empat puluh hari). Kami memoles wajah kami dengan waras yang berwarna hitam kemerahan.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Sheila menjelaskan bahwa hadits Ummu Salamah dipahami sebagai umumnya, jadi hanya sebagian perempuan saja, tidak menafikan bahwa ada juga perempuan yang mengalami nifas lebih dari 40 hari. (Tami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *