Fundraising Melalui Franco ‘Amal Ala Muhammadiyah

Wawasan 9 Apr 2021 0 53x
Franco-Amal-Muhammadiyah

Franco-Amal-Muhammadiyah

Oleh: Adib Sofia

Para penggerak Muhammadiyah-‘Aisyiyah selalu “banyak akal” untuk menggalang dana (fundraising) demi terwujudnya tujuan organisasi dan keberlanjutan amal usaha Muhammadiyah-’Aisyiyah. Tentu setiap zaman memiliki tantangan tersendiri. Pada masa sebelum kemerdekaan, tepatnya tahun 1941 atau pada masa kepemimpinan Mas Mansur, Muhammadiyah menorehkan sejarah dengan me-lobby Pemerintah Hindia-Belanda untuk menerbitkan franco ‘amal.

Pada mulanya Pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan prangko amal yang keuntungan penjualannya diserahkan kepada organisasi misi Kristen (Zara, 2016 dan 2020, bdk. Apriliyanti, 2014). Karena itu, Muhammadiyah bersama Persis, PII, PSII, dan lain-lain meminta pemerintah memperbolehkan mengeluarkan prangko amal pula bagi organisasi Islam (Fuad, 2011). Berkat kepemimpinan Mas Mansur yang mengorganisasi Komite Prangko Amal dan negosiasi yang sangat baik kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di Bogor, Gubernur pun mengizinkan penerbitan prangko amal versi Muhammadiyah, bahkan memberi Komite Prangko Amal Muhammadiyah sokongan senilai 500 gulden (Zara, 2016 dan 2020).

Prangko amal pertama bagi kalangan umat muslim ini (Apriliyanti, 2014) merupakan ide yang sangat cerdas dari Muhammadiyah pada zamannya. Konsep yang diusung dalam prangko Moehammadijah itu ialah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) yang terdiri atas lima desain. Prangko dengan harga 2, 3½, 7½, 10,  dan 15 cent itu dijual seharga 3, 5, 10, 12½, dan 20 cent. Keseluruhannya menggambarkan implementasi gerakan al-Mȃ’un yang menjadi karakteristik Muhammadiyah sejak awal berdiri, terutama tenaga kesehatan yang merawat orang sakit.

Berkat komunikasi apik antara pimpinan dan warga Muhammadiyah di semua daerah yang teruji sejak 1912, dua hari setelah peluncuran prangko tersebut Muhammadiyah telah memiliki keuntungan sebanyak 1.500 gulden. Koran berbahasa Belanda, yaitu Soerabaijasch Handelsblad pada 24 September 1941 mengumumkan bahwa penjualan prangko amal Muhammadiyah sukses besar (Zara, 2016 dan 2020). Fundraising ini kemudian digunakan untuk mendirikan sarana ibadah, gedung sekolah, rumah sakit, poliklinik, rumah yatim-piatu, dan usaha sosial lainnya (Sobagijo, 1941 via e-print UNY).

‘Aisyiyah memiliki peran penting dalam mempromosikan prangko ini. Melalui Suara ‘Aisyiyah, ‘Aisyiyah mempromosikan dengan kalimat menarik agar pembacanya berkontribusi dalam gerakan kemanusiaan Muhammadiyah melalui prangko. Di majalah ini pula Muhammadiyah diberi ruang untuk menyampaikan seruannya tentang prangko amal ini. Tak hanya itu, ‘Aisyiyah juga mempromosikan melalui berbagai acara besar dan mengajarkan lagu promosi yang dihafal oleh anak-anak di berbagai acara.

Tentu saja, Komite Prangko Amal yang dilindungi oleh tokoh-tokoh berpengaruh juga sangat aktif mempromosikan prangko di daerah masing-masing Saat itu promosi agar masyarakat membeli prangko ini sangat gencar, baik melalui berbagai pertemuan serta melalui keterlibatan tokoh-tokoh penting (Fuad, 2011). Karena prangko kala itu merupakan alat yang membantu komunikasi antar manusia di berbagai belahan bumi ini, maka pesan yang melekat pada prangko itu pun sampai pula di berbagai tempat pelosok negeri, bahkan dikenal hingga ke Suriname (Zara, 2016 dan 2020).

Setidaknya terdapat empat hal yang dapat kita maknai dari keberadaan prangko Muhammadiyah kuno tersebut pada masa sekarang. Pertama, aspek sejarah. Melalui prangko tersebut kita dapat melihat bahwa Muhammadiyah sejak dahulu sampai sekarang eksis tanpa keterputusan kiprah kepada masyarakat.  Kedua, aspek pembiayaan organisasi. Prangko itu menunjukkan adanya kreativitas dalam fundraising yang mau tidak mau stylenya harus terus-menerus diperbarui sesuai dengan tuntutan zaman.

Ketiga, aspek kemanusiaan. Pesan dalam prangko itu merupakan bukti otentik bahwa Muhammadiyah memiliki konsentrasi pada persoalan al-Mȃ’un. Keempat, aspek pengakuan. Diterbitkannya prangko tersebut oleh pemerintah Hindia-Belanda membuktikan bahwa pemerintah mengakui keberadaan Muhammadiyah.

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, terdapat beberapa prangko yang diterbitkan PT Pos yang menggunakan gambar Kiai Ahmad Dahlan (1961). Pada tahun 2000 (90 tahun Muhammadiyah) juga ada beberapa benda pos yang menggambarkan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Setelah itu, terdapat prangko 1 Abad Muhammadiyah yang bergambar K.H.A. Dahlan, Masjid Besar Kauman, dan seseorang sarjana (2010). Ada pula prangko lain yang memperingati 1 Abad ‘Aisyiyah (2015) dan 1 Abad Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah (2018). Ini menunjukkan bahwa eksistensi Muhammadiyah terus diakui sepanjang masa.

Leave a Reply