GACA Merespons Problem Kekerasan pada Anak

Anak 18 Mar 2020 0 196x

Sejak berdirinya, ‘Aisyiyah telah memiliki kepedulian pada isu anak sebagai generasi masa depan bangsa. Seiring dengan perkembangan zaman, masalah terkait isu anak semakin kompleks. Bagaimana peran strategis ‘Aisyiyah dalam merespons isu-isu anak, berikut wawancara majalah Suara ‘Aisyiyah dengan Shoimah Kastolani, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang membidangi Majelis Kesejahteraan Sosial.

Bagaimana Sejarah Kepedulian ‘Aisyiyah pada Anak?

Tidak lama setelah berdiri, ‘Aisyiyah telah mendirikan Frobel School sebagai cikal bakal TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal, untuk meningkatkan akses pendidikan anak yang berlangsung sampai saat ini. Saat itu, aktivis ‘Aisyiyah melihat anak-anak bermain sendiri tanpa mendapatkan perhatian orang tua karena orang tua bekerja sebagai buruh batik dan anak tidak mudah mendapatkan layanan pendidikan karena di masa kolonial Hindia Belanda hanya bangsawan yang mendapatkan akses pendidikan. Selain itu bentuk perhatian ‘Aisyiyah kepada anak dalam menanamkan nilai-nilai Islam antara lain dilakukan dengan kumpulan anak-anak yang diberi nama Dirosatul Banat (Pendidikan kepada anak-anak perempuan). Selain itu, masih banyak program ‘Aisyiyah yang lain terkait isu anak.

Apa Program Andalan ‘Aisyiyah terkait Isu Anak saat ini?

Saat ini Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2015-2020 telah mencanangkan program GACA (Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak). Program GACA ini diluncurkan oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada tahun 2016 ketika berlangsung Rakernas PP ‘Aisyiyah. Selanjutnya GACA menjadi program pokok di Majelis Kesejahteraan Sosial setelah Tanwir I berlangsung.

Program ini merupakan program organisasi, sehingga dalam pelaksanaannya Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah mengamanahkan Majelis Kesejahteraan Sosial untuk menjadi leading sector dalam menjalankan program ini. Namun, dalam pelaksanaannya perlu disinergikan dengan setiap majelis.

Mengapa Sinergitas Lintas Majelis Penting dalam Program GACA?

Dalam memberikan perlindungan kepada anak tidak dapat dilakukan secara sendiri, tetapi harus bersinergi. Misalnya ada anak yang menjadi korban kekerasan, harus dilihat permasalahannya. Kadang-kadang ada anak yang bukan menjadi korban kekerasan akan tetapi menjadi pelaku kekerasan terhadap anak lainnya yang sebaya, ini menjadi keprihatinan bersama. Nah, setelah dilakukan pendampingan awal, ternyata ada kebutuhan terkait hukum ya harus diadvokasi oleh majelis terkait dalam hal ini adalah MHH (Majelis Hukum dan HAM). Ada juga kemungkinan anak yang melakukan kekerasan atau menjadi korban kekerasan disebabkan oleh faktor orang tua yang kurang memiliki pemahaman tentang pengasuhan. Oleh karena itu perlu pendekatan dengan pembinaan keagamaan. Majelis Kese-jahteraan Sosial dapat bekerjasama dengan Majelis Tabligh yang mengelola BIKKSA (Biro Konsultasi Keluarga Sakinah), namun mereka memerlukan ahli di bidang anak sehingga menjadi peran Majelis Kesejahteraan Sosial.

Bagaimana Dinamika Program Perlindungan Anak di ‘Aisyiyah?

Program perlindungan anak sebenarnya telah dilakukan sejak periode-periode sebelumnya. ‘Aisyiyah memiliki WACC (Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak), akan tetapi program tersebut belum dijalankan secara nasional dan belum dibentuk sebagai amal usaha. Namun, di periode ini dengan GACA kita menyadari betapa pentingnya gerakan perlindungan anak dilakukan secara serius. Kalau melihat ‘Aisyiyah Bengkulu ternyata mereka dapat menjadikan pantinya sebagai tempat perlindungan anak. WACC dapat ditingkatkan lagi menjadi amal usaha seperti Rumah Sakinah sebagai rumah untuk perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan. Cuma ini tidak mudah, tidak semudah mendirikan panti karena kadang-kadang harus berurusan dengan polisi dan lain sebagainya. Privasinya juga harus dijaga.

Apa Latar Belakang Munculnya GACA?

Awal munculnya gagasan Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak dipicu oleh terjadinya beberapa peristiwa kekerasan atau pelecahan terhadap anak. Kedua, peristiwa kekerasan dan pelecehan terhadap anak setiap tahunnya semakin meningkat. Sedangkan ‘Aisyiyah terus memikirkan bagaimana mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Situasi tersebut memicu ‘Aisyiyah untuk memberikan perhatian pada Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak. Program GACA juga dapat meningkatkan kinerja program Majelis Kesejahtera-an Sosial (MKS). Kita mencoba mengubah mindset bahwa MKS itu urusannya tidak hanya sekadar panti tetapi juga masalah social protection atau perlindungan sosial; sehingga dalam hal ini kita perlu menggerakkan GACA. Kekerasan terhadap anak sendiri bukan hanya kekerasan fisik, bisa kekerasan psikis, penelantaran, diskriminasi, juga kekerasan pada anak difabel. Pada periode ini difabel juga menjadi fokus perhatian dari Majelis Kesejahteraan Sosial.

Bagaimana Langkah Pelaksanaan GACA?

Bagi Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah, Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah yang mau menjalankan program ini maka perlu membentuk relawan GACA kemudian para relawan ini diberikan pelatihan terkait. Training of Trainer (TOT) dilakukan di daerah, tetapi pelaksanaannya di Cabang karena terdekat dengan masyarakat.

Untuk membangkitkan perhatian ibu-ibu di komunitas maka perlu diberikan edukasi. Keberadaan relawan GACA sagat penting mengingat gerakan ini bersifat nasional dan diharapkan sampai di tingkat komunitas. Oleh karena itu, relawan GACA perlu mendapatkan pelatihan supaya mereka memahami isu-isu perlin-dungan anak dan mengetahui langkah-langkah perlindungan anak. Terkadang korban kekerasan terhadap anak itu berada di balik tembok keluarga sehingga masyarakat tidak leluasa terlibat. Selain itu, para relawan GACA diharapkan dapat memahami regulasi tentang perlindungan anak Nomor 35 tahun 2014, mereka dikenalkan juga bagaimana tanda-tanda anak-anak mendapatkan kekerasan. Mereka dilatih untuk mengenali, kemudian melakukan pendekatan karena anak yang menjadi korban kekerasan biasanya tidak mudah percaya kepada orang dewasa. Biasanya juga pelaku kekerasan berasal dari orang terdekat, sehingga terkadang relawan mengalami kesulitan untuk melakukan pendekatan. Nah, para relawan dibekali teknik pendekatan kepada anak korban kekerasan.

Di Bengkulu, panti ‘Aisyiyah juga memberikan perlindungan terhadap anak korban kekerasan. Panti memang memperhatikan anak yatim karena anak yatim sebagaimana pandangan Muhammadiyah bukan hanya sekedar yatim secara fisik tapi yatim karena tidak mendapatkan perlindungan. Biasanya anak-anak yang mendapat korban kekerasan cenderung menyendiri. Panti ‘Aisyiyah memberikan perlindungan dan kasih sayang.

Dalam mengatasi permasalahan kekerasan pada anak, di samping bekerjasama dengan relawan, Makesos  juga bersinergi dengan MHH jika anak harus berhadapan dengan hukum. Selain itu, dalam penyelesaian masalah seringkali memerlukan pembinaan agama bekerjasama dengan Majelis Tabligh.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 11 November 2019

Sumber Ilustrasi : https://silviafulmayasari.wordpress.com/2018/03/19/tumbuhlah-dalam-naungan-lillah-part-6/

Leave a Reply