Konsultasi Keluarga

Gejala Baby Blues Pasca Melahirkan

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kak ‘Aisy yang baik hati, saya mempunyai kemenakan perempuan yang belum lama ini melahirkan anaknya. Ketika menengoknya, saya mengamati sepertinya kok kemenakan saya ini sering menunjukkan ketidaktenangan dan kegelisahan setelah kelahiran anaknya. Kemenakan saya itu menikah muda sekitar satu tahun yang lalu.  Setelah menikah, dia dan suaminya tinggal serumah dengan ibunya yang sudah tinggal sendirian karena kemenakan saya adalah anak tunggal.

Menurut informasi dari ibunya yang adalah kakak saya, kemenakan saya itu senang dengan kelahiran anaknya, seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik. Akan tetapi, sering kali dia tampak sangat khawatir dan gelisah dengan keadaan bayinya yang dianggap sangat lembut.  Kalau anaknya sedang tidur, kakak saya ini meminta putrinya itu untuk juga tidur agar bisa beristirahat. Meskipun demikian, dia tidak bisa tidur karena ingin menjaga anaknya. Dia baru mau istirahat ketika ibunya gantian menunggui sang bayi.

Kakak saya juga menyampaikan bahwa seringkali putrinya yang baru melahirkan itu nampak gelisah dan mendesah walau tanpa sebab tertentu. Hal ini membuat kakak saya hawatir kalau anaknya mengalami tekanan jiwa setelah kelahiran bayinya. Kemenakan saya juga melarang suaminya yang ingin menggendong bayi mereka saat sedang di rumah. Dia khawatir kalau bayinya kenapa-kenapa. Setelah dibujuk-bujuk bahwa suaminya akan hati-hati, baru dia membolehkan untuk menggendong bayi mereka.

Kak ‘Aisy, saya berharap mendapat penjelasan dan saran-saran tentang keadaan kemenakan saya tersebut. Untuk itu, saya haturkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ibu Minarni

JAWABAN

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Minarni, saya ucapkan selamat atas kelahiran putri kemenakan Anda. Semoga menjadi putri yang salehah, amin. Dengan memperhatikan pemaparan Anda, tampaknya kemenakan Anda terkena gejala baby blues syndrome, yaitu gangguan kesehatan mental yang dialami perempuan pasca melahirkan. Gejala gangguan ini biasanya terjadi beberapa hari setelah melahirkan sampai tiga atau empat minggu kemudian.

Biasanya, sindrom baby blues ini ditandai dengan munculnya suasana jiwa atau hati yang gelisah, gundah, sedih, rasa khawatir, mudah tersinggung, hingga menangis tanpa sebab. Gejala ini bisa terjadi pada ibu yang baru melahirkan. Meskipun bisa terjadi pada ibu yang sudah beberapa kali melahirkan, ibu yang baru pertama kali melahirkan lebih rentan mengalaminya. Ada beberapa penyebab terjadinya gejala baby blues, seperti adanya penurunan kadar hormon selama dan pasca melahirkan, stres ketika merawat bayi yang baru lahir karena belum berpengalaman, kurang tidur karena adanya perubahan ritme tidur, dan kondisi kejiwaan masing-masing individu yang berbeda.

Baca Juga: Kenali Risiko Hamil Usia Muda

Setelah melahirkan, jumlah hormon estrogen dan progesteron pada seorang ibu tiba-tiba menurun sehingga memengaruhi suasana hati, yaitu munculnya rasa sedih, khawatir, dan seperti perasaan bingung. Pengaruhnya memang tidak sama pada setiap orang. Ada ibu muda yang hanya merasakan perubahan perasaan hati yang berbeda saja. Adapun sebagian ibu merasakan perasaan seperti sedih dan khawatir. Perasaan stres muncul karena ibu harus menyesuaikan dirinya berubah menjadi seorang ibu yang harus merawat bayi yang masih lemah. Perasaan takut, khawatir, dan ragu atas kemampuan diri dalam memenuhi tuntutan peran barunya menghantui sang ibu.

Karena menjadi ibu adalah pengalaman baru maka penting memberikan pemahaman kepada ibu bahwa perasaan khawatir tersebut adalah hal yang wajar dan akan menghilang kemudian setelah rasa percaya dirinya muncul. Dalam hal ini, memang diperlukan pendampingan dari orang lain, misalnya ibunya sendiri atau pihak lain yang sudah berpengalaman. Kurang tidur karena perubahan ritme waktu tidur juga menjadi salah satu penyebab munculnya baby blues. Biasanya pada bulan-bulan terakhir saat kehamilan dan beberapa hari setelah melahirkan, ibu muda mengalami keadaan kurang tidur. Hal tersebutlah yang juga bisa memicu seorang ibu muda terkena sindrom baby blues.

Oleh karena itu, istirahat yang cukup dengan memiliki kesempatan tidur yang proporsional bisa mengurangi terjadinya gejala baby blues. Peran sosok pendamping seperti suami, ibu, atau orang lain yang dipercaya akan sangat membantu agar ibu baru mendapat kesempatan tidur yang cukup. Gejala baby blues dapat terhindarkan atau terminimalisasi bagi calon ibu yang sudah siap secara mental dan sehat secara fisik.

Kesadaran diri bahwa menjadi ibu adalah tugas mulia juga akan menguatkan mental para calon ibu. Oleh karena itu, calon ibu memang harus menyiapkan diri, baik secara fisik maupun mental untuk menjadi seorang ibu sehingga bisa terhindar dari gejala baby blues syndrome. Ibu Minarni, dengan memperhatikan pemaparan di atas, walaupun kemenakan Anda mungkin juga terkena sindrom baby blues, semoga segera menjadi sehat kembali dan terlepas dari sindrom tersebut. Anda sebagai keluarga dekat bisa berperan untuk itu. Semoga bermanfaat. (Susilaningsih Kuntowijowo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *