Berita

Gelar Halaqah Budaya di Langgar Kidoel, IMM AR Fakhruddin Meruwat Tradisi Muhammadiyah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) AR Fakhrudddin Kota Yogyakarta telah menyelenggarakan halaqah budaya bertajuk “Kawula Muda: Meruwat Kearifan Lokal dalam Pusaran Budaya Muhammadiyah di Langgar Kidoel” dengan harapan halaqah ini bisa sebagai tali penguatan nalar kawula muda Muhammadiyah dalam meruwat tradisi jati diri persyarikatan. Acara yang dihadiri oleh pegiat budaya Muhammadiyah ini berlangsung di Langgar Kidoel Hadji Ahmad Dahlan, Kauman, Yogyakarta pada Senin (18/4).

Sekretaris Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta Eko Wuryanto mengungkapkan, inti dari tujuan halaqah budaya ini ialah untuk menggali kembali serta menguatkan tradisi-tradisi dan kearifan lokal Kota Yogyakarta dalam langkah gerak syiar Muhammadiyah dan angkatan muda ke depannya.

“Mengingat kelemahan saat ini yakni pada sisi inklusifitas gerakan, seyogyanya pada Munas Tarjih ke-22 tahun 1995 telah ditetapkan bahwa karya seni hukumnya mubah (boleh) selama tidak mengarah atau mengakibatkan fasad (kerusakan), dharar (bahaya), isyyan (kedurhakaan), dan ba’id ’anillah (terjauhkan dari Allah), maka pengembangan kehidupan seni dan budaya dikalangan Muhammadiyah harus sejalan dengan etika atau norma-norma Islam,” ungkap Eko.

Baca Juga: Kiai Ahmad Dahlan Memakai Gamis

Sementara itu, Safrilul Ulum selaku pegiat budaya dan merupakan eks-Ketua Bidang Seni Budaya dan Olahraga PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta menambahkan dan mengapresiasi kegiatan halaqah budaya ini sebagai momentum refleksi dan evaluasi bersama; masih pantas dan adakah seni budaya dan olahraga di IMM? “Dalam halaqah ini kita juga mencoba mencari pemaknaan budaya yang telah luntur seiring munculnya budaya-budaya baru saat ini,” ujarnya.

Dia melihat kondisi saat ini ada tendensi keruntuhan akan nilai-nilai budaya di dalam generasi muda. Terjadi kekaburan antara kebudayaan tradisi. “Sesungguhnya IMM hari ini berada di tengah kebudayaan global, maka kawula muda saat ini mesti memperkuat tradisi itu sendiri karena dengan itu kita bisa menguatkan identitas dan karakter gerakan,” imbuhnya.

Peserta yang hadir dalam halaqah budaya ini ialah seluruh kader IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta, mulai dari bidang umum hingga bidang seni budaya olahraga masing-masing komisariat, yang hadir membawa pandangan yang berbeda-beda.

Muhammad Grandi, kader IMM Fakultas Hukum UMY juga menyuarakan bahwa diadakannya halaqah budaya sendiri menjadi bukti bahwa Muhammadiyah dekat dengan kebudayaan dan kesenian, khususnya di tataran Kota Yogyakarta. Grandi menyampaikan bahwa kader sudah sepantasnya kolaborasi dan mendorong supaya kebudayaan terus maju. “Dalam artian merawat nilai-nilai luhur, tradisi-tradisi yang bagus, terus berinovasi menghadirkan kesadaran budaya dan memunculkan nilai-nilai yang baru,” ujarnya.

Hasil halaqah budaya ini juga dituturkan Sofyan Faisnanto, Ketua Bidang Seni Budaya dan Olahraga IMM AR Fakhruddin saat ini. Ia berharap ke depan dapat menjadi sebuah gagasan gerakan, pemikiran, purana atau dasar aturan dari pelaku atau pegiat budaya Muhammadiyah sehingga timbul upaya untuk penyelamatan dan pengembangan budaya itu sendiri.

“Sebagai kawula muda Muhammadiyah mengadakan halaqah ini meminta kepada puruhita atau orang-orang ahli untuk kembali memberikan ruang dan wejangan, memberikan arti terhadap gerak kebudayaan kita di kalangan mahasiswa serta bagaimana posisi kebudayaan itu menghadapi tantangan saat ini,” pungkas Sofyan. (faiz/sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.