Geliat Dakwah ‘Aisyiyah melalui Strategi Pemberdayaan

Wawasan 20 Mar 2021 0 45x
Pemberdayaan Masyarakat 'Aisyiyah

Pemberdayaan Masyarakat ‘Aisyiyah

Oleh: Nikmah A.

Model-model pembangunan yang dilakukan di beberapa Negara, termasuk Indonesia semula cenderung top down atau pola dari atas ke bawah, yaitu pihak penguasa atau pejabat negara yang memiliki peran penting. Sedangkan pihak yang berada dibawah tidak mempunyai kekuatan untuk menolak. Dalam perkembangannya, model top down ini dirasa kurang efektif karena masyarakat hanya sebagai obyek pembangunan sehingga jika program telah selesai masa berlakunya, maka selesailah sudah programnya karena tidak ada rasa kepemilikan dari masyarakat, misalnya untuk memperluas atau mengembangkannya.

Salah satu contohnya yaitu program air bersih dan sanitasi lingkungan dengan pemberian dana guna membangun sarana air bersih bagi masyarakat. Setelah selesai program, tidak ada greget atau semangat untuk menambah cakupan pengguna air bersih dengan swadaya membuat MCK Komunal, dsb. Contoh lainnya adalah program pemberian ternak dari pemerintah, misalnya bantuan ayam, kambing, bahkan sapi yang diharapkan jika hewan ternak tersebut telah beranak diberikan kepada yang belum menerima. Kenyataannya begitu program selesai atau bahkan masih berjalan, bantuan ternak tersebut malah dijual sehingga ketika dilakukan monitoring program baru merasa bingung. Lucunya lagi, mereka memilih membelikan kembali hewan ternak agar seolah-olah masih ada, meskipun sebenarnya cuma dibelikan.

Pergeseran Metode

Berdasar kondisi di atas, maka model pembangunan saat ini lebih berbasis masyarakat atau bottom up, yaitu perencanaan dari bawah, misalnya PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), Sanimas (Sanitasi Berbasis Masyarakat), atau program sejenis yang berbasis masyarakat, misalnya MAMPU (Maju Perempuan untuk Mengurangi Kemisknian). Program berbasis masyarakat, biasanya diawali dari Need Assesment. Masyarakat diasumsikan sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) yang bisa menentukan atau merumuskan kebutuhannya, mempunyai keterampilan untuk memenuhi kebutuhannya sehingga untuk keberhasilan program diperlukan kehadiran pendamping atau motivator atau fasilitator untuk memudahkan atau mempercepat masyarakat memenuhi kebutuhannya,help people to the help himself  [membantu masyarakat untuk membantu dirinya sendiri].

Pemberdayaan berasal dari kata “daya”, mendapat awalan ‘ber’ menjadi ‘berdaya’ artinya memiliki atau mempunyai daya (kekuatan). Kata pemberdayaan dalam bahasa Inggris adalah empowerment. Menurut Merrian Webster dalam Oxford English Dictionary, kata tersebut mengandung dua pengertian, a) To give ability or enable to yang diterjemahkan sebagai memberi kecakapan, kemampuan, atau memungkinkan,  b) To give power of authority to, yang artinya memberi kekuasaan.

Pemberdayaan ini muncul semenjak adanya kesadaran bahwa manusia memegang peran penting dalam pembangunan (Carlzon dan Macauley) sebagaimana dikutip oleh Wasistiono 1998: 46. Ia mengemukakan bahwa yang dimaksud pemberdayaan adalah membebaskan seseorang dari yang kaku dan memberi kebebasan untuk bertanggungjawab terhadap ide-idenya, keputusan, dan tindakan-tindakan. Sementara Shardlow (1998: 32) mengatakan pada intinya pemberdayaan membahas bagaimana individu kelompok atau komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. Mereka yang wajib didampingi adalah kelompok lemah atau belum beruntung.

Jalan Dakwah ‘Aisyiyah

Di ‘Aisyiyah, pemberdayaan merupakan salah satu model dakwah yang dilakukan di komunitas. Dakwah pemberdayaan di antaranya dapat dilakukan melalui: pertama, Pengajian Ranting dan Cabang.  Pengajian diadakan dengan metode komunikasi dua arah. Selain itu, materi pengajian lebih bervariasi tidak semata terkait ibadah mahdhah tetapi juga menyangkut aspek kehidupan misalnya kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, misalnya bagaimana sikap kita menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Kedua, Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA). BSA merupakan wadah perempuan berkelompok. Melalui BSA, perempuan ditumbuhkan kesadaran sebagai warga negara kritis terkait bidang kesehatan, pendidikan, keterlibatan perempuan dalam perencanaan pembangunan di desa, dan kesejahteraan sosial.

Ketiga, Pemberdayaan ekonomi melalui kelompok Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA). Dari BUEKA ini diharapkan anggota atau simpatisan ‘Aisyiyah bisa mempunyai usaka sendiri atau usaha kelompok yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Kelompok BUEKA yang sudah terbentuk dapat menjadi embrio koperasi, artinya kalau kelompok BUEKA sudah berkembang kemudian bergabung dengan beberapa kelompok BUEKA yang lain dapat mendirikan koperasi ‘Aisyiyah. Manfaatnya anggota bisa mendapatkan bantuan modal dengan cara mudah dan mengurangi jeratan rentenir yang berkeliaran di masyarakat.

Keempat, Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA) yang diadakan bekerjasama antara Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan, Majelis Kader, dan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi keterampilan enterpreneurship, antara lain bagi wali murid TK ABA khususnya dan perempuan muda yang ingin berwirausaha pada umumnya. Warga belajar yang sudah tamat  mengikuti pembelajaran SWA bisa diajak bergabung di ‘Aisyiyah, terutama bagi warga belajar yang belum menjadi anggota ‘Aisyiyah. SWA ini diinisiasi di tingkat Daerah atau kabupaten

Kelima, Pendampingan TKI Purna melalui pelatihan keterampilan produktif dengan harapan agar TKI Purna tidak kembali lagi keluar negeri. Paska pelatihan, TKI Purna dapat langsung membentuk kelompok dan menyusun kegiatan produktif di kelompoknya.

Keberhasilan pemberdayaan di tingkat komunitas atau Ranting akan mendukung tercapainya program besar atau program Nasional ‘Aisyiyah. Oleh karena itu diperlukan sinergitas lintas Majelis di semua tingkatan.

Leave a Reply