PerempuanWawasan

Gerakan Perempuan Masa Kini

PerempuanTangguh

PerempuanTangguhOleh: Choirul Umamah

Keluarga merupakan sebuah investasi, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dan perempuan mempunyai peran yang tidak mudah untuk ikut serta menetukan dan mengendalikan investasi kehidupan tersebut. Walaupun terkadang banyak suara nyaring menyatakan kaum perempuan adalah minoritas dalam aktivitas.

Lebih-lebih saat ini, dengan berkembangnya teknologi, harusnya perempuan jauh bisa menempatkan diri untuk maju, turut serta menjadi pemimpin, baik dilingkup keluarga ataupun masyarakat. Hal ini juga menjadikan peluang untuk merubah citra perempuan yang selama ini dianggap sebagai pelengkap belaka dalam keseharian.

Permasalahan tersebut banyak terjadi karena stigma yang membedakan jenis kelamin. Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial mengatakan, “perbedaan gender akan melahirkan manifestasi ketidakadilan antara lain: terjadi marginalisasi (pemiskinan ekonomi) terhadap kaum perempuan, terjadinya subordinasi pada salah satu jenis kelamin, pelabelan negatif (stereotype), kekerasan (violence), menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama (double burden), pada umumnya yang menjadi korban adalah perempuan dengan adanya tradisi dan keyakinan masyarakat bahwa perempuanlah yang bertugas dan memelihara kerapian rumah, serta tanggung jawab atas terlaksananya keseluruhan pekerjaan tersebut”.

Sejatinya laki-laki dan perempuan adalah sama, karena yang membedakan hanyalah derajat ketakwaannya. Sama-sama mempunyai hak untuk menentukan pilihan, sama-sama mempunyai amanah sebagai manusia untuk menjadi khalifah fil ardh tanpa melihat jenis kelamin atau golongan tertentu.

Dalam Q.S. al-Hujarat ayat 13 Allah berfirman (yang artinya), “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.

Ayat tersebut memberikan pelajaran kepada kita tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan, baik dalam hal ibadah (spiritual) kepada Dzat, maupun dalam aktivitas sosial (kehidupan keseharian). Dalam ayat tersebut juga sekaligus menghapus pandangan yang mengatakan bahwa antara keduanya terdapat perbedaan yang mengalahkan salah satu di antara keduanya.

Baca Juga: Perempuan, Berhenti Jadi Kepiting

Begitu juga laki-laki dan perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama sebagai seorang hamba, bahkan urusan bernegara, syair arab mengatakan “perempuan adalah tiang  negara, bila kaum perempuannya baik (berahlak karimah) maka negaranya baik dan bila perempuannya rusak (amoral) maka rusaklah negara itu.”

Senada denga hal di atas, Soekarno dalam bukunya yang berjudul Sarina, juga menuturkan “bahwa soal perempuan adalah soal masyarakat, sebab kita tidak dapat menyusun negara dan masyarakat jika kita tidak mengerti soal perempuan,” hal itu juga yang melatarbelakangi Soekarno untuk membuka kelas-kelas kursus untuk kaum perempuan waktu itu ketika tiba di Yogyakarta.

Perempuan Berkemajuan

Berbicara tentang perempuan berkemajuan, berarti kita membicarakan ‘Aisyiyah. Dalam konteks ini, ‘Aisyiyah merupakan salah satu organisasi yang terlibat aktif dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I, pada Desember 1928 di Yogyakarta. ‘Aisyiyah menjadi salah satu organisasi pemrakarsa terbentuknya badan federasi organisasi-organisasi perempuan Indonesia. Di mana pada saat itu dua pimpinan ‘Aisyiyah terpilih sebagai pimpinan, yaitu Siti Moendjijah sebagai Wakil Ketua dan Siti Hajinah sebagai anggota.

Organisasi yang bernama ‘Aisyiyah ini merupakan organisasi perempuan yang didirikan sebagai jawaban atas pentingnya perempuan berkiprah di wilayah-wilayah sosial kemasyarakatan. Gerakan perempuan Muhammadiyah yaitu ‘Aisyiyah yang lahir tahun 1917 hadir pada situasi dan kondisi masyarakat yang awam, kurangnya pemahaman agama dan berada dalam zaman penjajahan kala itu.

‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan sejak berdirinya hingga kini memberikan kontribusinya untuk mengangkat harkat derajat perempuan dan masih terus berlanjut. Isu-isu dalam bidang pendidikan, kesehatan ibu dan anak, pendampingan hukum, kesejahteraan sosial, juga pemberdayaan perempuan menjadi salah satu dari fokus gerakan dakwah ‘Aisyiyah.

Namun tidak dapat dimungkiri bahwa hingga kini gerakan perempuan Indonesia masih menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang nyata dan kompleks dari berbagai aspek mulai ekonomi, keagamaan, sosial, budaya, bahkan politik. Dalam rangka menghadapi tantangan yang cukup kompleks tersebut, gerakan perempuan ‘Aisyiyah tampil berkemajuan dengan melakukan revitalisasi untuk mencerahkan, mencerdaskan dan memberdayakan guna terwujudnya perempuan yang berkemajuan.

Dalam Muhammadiyah sendiri, gerakan perempuan menyatu dengan misi dan dinamika gerakan Muhammadiyah yang mempunyai cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Hal ini juga sejalan dengan misi Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai agama yang menjunjung tinggi kemuliaan perempuan dan kemanusiaan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini dan sebagai perwujudan risalah rahmatan lil ‘alamin.

Dari sini penulis beropini bahwa perempuan berkemajuan adalah perempuan yang bisa membawa perubahan yang nyata dan dirasakan oleh mayoritas masyarakat. Bisa merubah kebiasaan lazimnya seorang perempuan biasa dengan berbagai ide dan gagasan, ikut serta memecahkan problematika bangsa, sehingga kebiasan gender yang selama ini terjadi bisa teratasi.

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh para kaum perempuan untuk merubah stigma negatif yang selama ini disematkan kepada perempuan yang katanya “hanya sekadar duduk manis di rumah saja”. Di antara dengan bergabung dengan organisasi-organisasi perempuan dan mengikuti berbagai bentuk pelatihan yang diadakan di dalamnya.

Baca Juga: Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Contoh sederhana dari kegiatan yang bisa dilakukan oleh perempuan berkemajuan saat ini adalah dengan melatih diri semaksimal dan sekreatif mungkin untuk mengubah diri supaya menjadi lebih baik lagi. Dengan cara tersebut, perempuan akan tampil dalam berbagai kegiatan sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimilikinya.

Penulis meyakini bahwa setiap perempuan bisa mewujudkan peran jika ikut bergerak maju, bersama-sama, membangun cendekiawanan dan keilmuan, berinteraksi dan berinovasi dalam kegiatan, terutama bergabung di organisasi-organisasi perempuan, meningkatkan kewirausahaan dengan mengedepankan kesetaraan gender, ditambah dengan mengikuti berbagai seminar pendukung yang diadakan, dengan begitu nantinya pasti akan muncul para srikandi-srikandi harapan bangsa yang akan merubah peradaban dunia mejadi lebih baik.

Perempuan memiliki peran penting dalam membangun karakter suatu bangsa, karena dari rahimnya pula lahir generasi pemimpin, mengurai benang kusut yang lama terjadi, membina generasi, mengurangi kebodohan, dan memperbaiki kebobrokan moral. Dalam diri perempuan terdapat sifat yang sangat dibutuhkan untuk turut membangun dari berbagai sektor.

Harus dipahami oleh semua bahwa sudah saatnya perempuan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata, selain beberapa peran di atas, perempuan meiliki andil yang besar dalam hal mendidik anak-anak di rumah, oleh karenanya sudah semestinya menjadi pembebas dari keterbelakangan ilmu dan kemiskinan.

Banyak sekali tokoh teladan di antara para kaum perempuan yang bisa dijadikan contoh suri tauladan untuk mengembangkan berbagai hal dalam diri perempuan, kuncinya hanya pada kemauan yang bersangkutan. Jika ada keinginan untuk merubah dan berbenah pasti ada jalan.

Kita semua berharap, semoga ke depan, perempuan lebih siap menghadapi tantangan zaman, bersama-sama membangun sinergitas diri menangkal hal-hal yang bisa merendahkan posisi kaum perempuan, sehingga perempuan Indonesia benar-benar menjadi perempuan sejati yang mampu turut serta membela dan membangun bangsa.

Related posts
Berita

GSM PWA Jawa Barat: Memajukan Perempuan, Membangun Peradaban

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Memajukan perempuan artinya memajukan peradabadan. Hal ini sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang gencar digaungkan oleh pemerintah. Dikatakan…
Berita

Madrasah Perempuan Berkemajuan PDA Sukoharjo: Perempuan Harus Mengambil Peran Publik

Sukoharjo, Suara ‘Aisyiyah – Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sukoharjo menggelar Madrasah Perempuan Berkemajuan (MPB), Ahad (4/9) di Gedung Auditorium Djazman Al-Kindi Universitas…
Kebijakan Politik

Peran Politik Perempuan: Belajar dari Seruan Aisyiyah Tahun 1955

Oleh: Hajar Nur S Majalah Suara ‘Aisyiyah, Dzul-Qo’dah 1374, Juni 1955, memuat Seruan Pusat Pimpinan ‘Aisyiyah tentang Pemilihan Umum. Terdapat empat hal…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.