Haedar Nashir: Kolaborasi Kunci Kebangkitan Ekonomi Umat

Berita 1 Nov 2021 0 44x
Haedar Nashir

Haedar Nashir

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Sabtu (30/10), Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir kembali menyapa para pemirsa secara live streaming dalam kanal YouTube @Suara Muhammadiyah TV. Kebangkitan ekonomi umat menjadi pilihan topik yang diambil pada episode kali ini.

Haedar menjelaskan, Islam memiliki karakter syumuliyah, yang artinya ajaran Islam mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia yang di dalamnya termasuk pemberdayaan ekonomi umat. Dilihat dari jumlah jamaahnya yang cukup besar di Indonesia, potensi  pengembangan umat islam di Indonesia sangat besar.

“Potensi kita besar sebenarnya. Dengan jumlah penduduk yang besar, berarti sebenarnya keperluan-keperluan hidup kita sehari-hari itu sudah cukup besar untuk sandang, pangan, papan,” ujar Haedar.

Dengan jumlah jamaah yang besar, lanjutnya, masyarakat bisa saling berkolaborasi membangun jaringan koneksi yang kuat untuk bisa menguasai ekonomi umat. “Kunci ingin maju di bidang ekonomi itu berkolaborasi. Bikin usaha-usaha kecil, tapi satu sama lain saling terkoneksi dengan berbagai pihak,” tambahnya.

Baca Juga: Dyah Suminar: Pengusaha Tidak Boleh “Alergi” pada Perubahan Zaman

Menurut Haedar, untuk menyatukan seluruh umat menjadi satu, saat ini masih susah. Banyak faktor penghalang, seperti semangat berjamaahnya kurang, hanya mementingkan golongan, dan tidak mau membangun jaringan dengan golongan lain.

Selain itu, masyarakat Indonesia kebanyakan masih menjadi pelaku konsumen, bukan sebagai produsen. Perilaku konsumtif ini harus diubah menjadi perilaku produktif. Menurut Haedar, ada 2 (dua) cara untuk mengubah perilaku hidup konsumtif menjadi lebih produktif.

Pertama, dimulai dengan membangun budaya berbisnis, berniaga, berekonomi. Budaya ini bisa dimulai dari kecil. Kedua, pendidikan berwirausaha harus dimasukan ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah.

Di akhir sesi, Haedar berpesan kepada seluruh remaja muslim di Indonesia supaya jangan malu untuk bekerja. Meskipun berasal dari keluarga yang berkecukupan, jangan biasakan untuk manja semuanya bergantung kepada orang tua. Begitu juga bagi keluarga yang masih berjuang untuk hidup, jangan malas-malasan. Manfaatkan waktu untuk melakukan kegiatan yang produktif. (miqdad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *