Berita

Haedar Nashir Paparkan Tridimensi Hijrah yang Harus Dimiliki Umat Islam

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Mengutip argumen Carol Kersten, Haedar Nashir menyebut bahwa umat Islam saat ini mengidap dua penyakit berbahaya, yakni sikap apologetik dan mentalitas terkurung/terkepung. Dua penyakit itu membuat umat Islam jarang mau melakukan introspeksi atas kekalahan dan kemunduran peradaban Islam, dan sebaliknya terus menyalahkan “pihak lain”.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar Nashir dalam sambutan pengantarnya jelang Pengajian Umum Bulanan PP Muhammadiyah dengan tema “Spirit Hijrah Mewujudkan Cita-Cita Kemerdekaan” yang diselenggarakan pada Jumat (13/8) secara daring.

Haedar menjelaskan bahwa pengambilan tema pengajian umum kali ini tidak dapat dilepaskan dari dua momentum yang beririsan dalam bulan Agustus, yakni tahun baru hijriyah dan peringatan 76 tahun kemerdekaan RI. “Dua momentum ini berada di dalam suatu titik temu napas dan jiwa yang sebenarnya sudah bersenyawa sejak awal,” jelas Haedar.

Baca Juga: Haedar Nashir: Jadikan Tahun Baru Hijriyah Sebagai Momen Hijrah Keuamatan dan Kebangsaan

Menurutnya, peristiwa hijrah bukan semata bermakna perpindahan lokasi Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, tetapi juga proses pencerahan dan mempunyai korelasi makna dengan jihad dan iman. Tiga hal tersebut, jelas Haedar, merupakan dimensi substansial yang harus dimiliki umat Islam.

Dalam konteks keindonesiaan, tridimensi itu terwujud ketika umat Islam melakukan perlawanan terhadap penjajah dan upaya mempertahankan kemerdekaan. “Sejak perjuangan kemerdekaan, bahkan pasca-kemerdekaan, kaum Muslimin berada dalam satu napas yang sama; antara perjuangan keislaman dan kebangsaan, sehingga tidak ada kontradiksi keduanya,” ujarnya.

Mengakhiri pengantarnya, Haedar berharap akan ada upaya transformasi hijrah, nilai, dan cita-cita kemerdekaan bagi umat Islam saat ini. Dalam konteks Muhammadiyah, jelasnya, dengan semangat Negara Pancasila dar al-‘ahd wa asy-syahadah, transformasi itu diwujudkan dengan menghadirkan moderasi Islam yang berkemajuan. Di satu sisi menegakkan perdamaian, persatuan, serta toleransi, dan di sisi yang lain mengejawantahkan nilai syuhada’ ‘ala an-nas dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa. (sb)

Related posts
Berita

Sampaikan Selamat Harlah 1 Abad NU, Haedar Nashir: NU Pilar Strategis Islam Indonesia

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Atas nama PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan selamat Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah dan…
Berita

PP Muhammadiyah dan Metro TV Buka Peluang Kerja Sama Penguatan Karakter Generasi Muda Indonesia

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Rabu (25/1), PP Muhammadiyah menerima silaturahmi dari jajaran pimpinan Metro TV. Pertemuan berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah Cik…
Berita

Muhammadiyah Kecam Aksi Pembakaran Al-Quran di Swedia

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Tindakan Rasmus Paludan yang membakar al-Quran mendapat kecaman keras dari umat Muslim seluruh dunia. Di Indonesia, Sekretaris Umum…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *