Haedar Nashir Paparkan Tridimensi Hijrah yang Harus Dimiliki Umat Islam

Berita 14 Agu 2021 0 60x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Mengutip argumen Carol Kersten, Haedar Nashir menyebut bahwa umat Islam saat ini mengidap dua penyakit berbahaya, yakni sikap apologetik dan mentalitas terkurung/terkepung. Dua penyakit itu membuat umat Islam jarang mau melakukan introspeksi atas kekalahan dan kemunduran peradaban Islam, dan sebaliknya terus menyalahkan “pihak lain”.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar Nashir dalam sambutan pengantarnya jelang Pengajian Umum Bulanan PP Muhammadiyah dengan tema “Spirit Hijrah Mewujudkan Cita-Cita Kemerdekaan” yang diselenggarakan pada Jumat (13/8) secara daring.

Haedar menjelaskan bahwa pengambilan tema pengajian umum kali ini tidak dapat dilepaskan dari dua momentum yang beririsan dalam bulan Agustus, yakni tahun baru hijriyah dan peringatan 76 tahun kemerdekaan RI. “Dua momentum ini berada di dalam suatu titik temu napas dan jiwa yang sebenarnya sudah bersenyawa sejak awal,” jelas Haedar.

Baca Juga: Haedar Nashir: Jadikan Tahun Baru Hijriyah Sebagai Momen Hijrah Keuamatan dan Kebangsaan

Menurutnya, peristiwa hijrah bukan semata bermakna perpindahan lokasi Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, tetapi juga proses pencerahan dan mempunyai korelasi makna dengan jihad dan iman. Tiga hal tersebut, jelas Haedar, merupakan dimensi substansial yang harus dimiliki umat Islam.

Dalam konteks keindonesiaan, tridimensi itu terwujud ketika umat Islam melakukan perlawanan terhadap penjajah dan upaya mempertahankan kemerdekaan. “Sejak perjuangan kemerdekaan, bahkan pasca-kemerdekaan, kaum Muslimin berada dalam satu napas yang sama; antara perjuangan keislaman dan kebangsaan, sehingga tidak ada kontradiksi keduanya,” ujarnya.

Mengakhiri pengantarnya, Haedar berharap akan ada upaya transformasi hijrah, nilai, dan cita-cita kemerdekaan bagi umat Islam saat ini. Dalam konteks Muhammadiyah, jelasnya, dengan semangat Negara Pancasila dar al-‘ahd wa asy-syahadah, transformasi itu diwujudkan dengan menghadirkan moderasi Islam yang berkemajuan. Di satu sisi menegakkan perdamaian, persatuan, serta toleransi, dan di sisi yang lain mengejawantahkan nilai syuhada’ ‘ala an-nas dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *