Hak Anak dalam Pandangan Islam

Hikmah 13 Mar 2020 0 183x

Oleh : Ali Yusuf (Anggota Divisi Fatwa, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Pengasuh Pondok Pesantren Fauzul Muslimin Kotagede Yogyakarta)

Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber ajaran Islam menjelaskan berbagai hal tentang kehidupan, salah satunya adalah anak. Sebagai sebuah amanah dari Allah anak tidak boleh disia-siakan karena baik-buruknya suatu bangsa terletak pada anak sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, tanggung jawab pendidikan anak harus mendapat perhatian besar dari para orang tua, pendidik, dan pemerhati anak untuk mengantarkan mereka menjadi generasi yang berkualitas.

Al-Qur’an telah banyak menjelaskan tentang pentingnya anak, kewajiban memenuhi hak-hak anak, dan memberikan pengembangan kapasitas tumbuh-kembang serta perlindungan terhadap anak. Allah mengajak berpikir kepada kita untuk benar-benar memperhatikan masa depan anak. Jangan sampai anak menjadi generasi yang lemah, baik lemah iman, lemah akal, maupun lemah kreativitasnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah swt. dalam firmannya:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka  anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Q. S. An-Nisa (4): 9).

Menjadikan anak generasi yang berkualitas atau tidak adalah terletak pada peran orang tua, pendidik, dan semua komponen masyarakat. Hal ini diisyaratkan oleh Nabi saw. dalam sabdanya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه (رواه البخارى).

Artinya: ”Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan) berkata, Rasulullah saw. bersabda: TIdaklah seorang manusia dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci) maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi” (H.R. Bukhari).

Istilah Anak dalam al-Qur’an

Anak dalam ensiklopedi hukum Islam diartikan sebagai seorang yang terlahir dari rahim seorang ibu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika dilihat dari usia, anak dalam pandangan Muhammadiyah adalah seorang yang belum berumur 18 tahun, dalam urusan muamalah membutuhkan bimbingan dan peningkatan kapasitas serta perlindungan (Munas Tarjih Muhammadiyah XXX Makassar, 2018: 3).

Al-Qur’an mendefinisikan anak de-ngan istilah yang beragam, term-term tersebut terdapat pada beberapa surat dalam al-Qur’an, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, kata ibn dan derivasinya (seperti banu, abna, dan banun) dise-but al-Qur’an sebanyak 84 kali, contohnya kata ibn pada surat al-Baqarah (2): 87, kata banu pada surat Yunus (10): 90, kata abna pada Ali-Imran (3): 61, dan kata banun pada surat Asy-Syu’ara (26): 88. Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa anak adalah seseorang yang memiliki garis keturunan yang jelas. Penekanan kepada nasab ini juga mengandung arti bahwa orang tua  memiliki tanggung jawab pokok untuk mengemban tugas tersebut.

Kedua, kata dzurriyyah dan derivasi-nya (seperti athfal dan absath) disebut dalam al-Qur’an sebanyak 16 kali, contohnya kata dzurriyyah pada surat al-Baqarah (2): 124, kata athfal pada surat an-Nur (24): 31  dan absath: al-Baqarah (2): 136. Kata dzuriyah tersebut menunjukkan perlunya anak ditumbuhkembangkan karena mereka memiliki potensi untuk menjadi manusia unggul.

Ketiga, kata walad dengan segala bentuk derivasinya terulang dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali, contohnya pada surat Ali-Imran (3): 47, juga de-ngan sebutan lain seperti kata shabiy pada surat Maryam (19): 12, dan kata ghulam pada surat Ali-Imran (3): 40. Kata tersebut mengandung arti bahwa tidak ada diskriminasi antara anak laki-laki dan anak perempuan. Keduanya sama dilahirkan dengan penuh perjuangan dan pengorbanan sehingga tidak layak untuk ditelantarkan.

Hak-hak Anak dalam Islam

Islam sebagai sebuah sistem telah mengatur hak-hak manusia, termasuk hak anak dalam menjalin hubungan vertical (dengan Allah) dan horizontal (antar sesama manusia). Hak dalam
pandangan Islam dimaknai sebagai suatu yang tidak sepantasnya ditinggalkan, suatu kekhususan yang ditetapkan oleh syara sebagai suatu kekuasaan. Hak itu juga mengandung arti sesuatu yang wajib, demikian menurut Ibnul Arabi. (Lihat makna hak, Syauknai, Nailul Atuhar, Beirut: Dar al-Kutub 2004, IV/18).

Setiap anak sejak dilahirkan telah memiliki hak nilai-nilai dasar yang harus terpenuhi dalam hidupnya seperti tauhid, keadilan, dan maslahah. Nilai dasar yang paling utama bagi anak, baik di rumah maupun sekolah adalah nilai-nilai tauhid. Artinya, setiap orang tua dan pendidik wajib mengajarkan dan memahamkan nilai-nilai tauhid kepada anak dalam kehidupan sehari-hari (Q. S. al-Furqan (25): 54 dan Lukman (31): 14-15). 

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 10 Oktober 2019, Rubrik Maret.

Sumber Ilustrasi : https://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2013/09/10/hak-pengasuhan-anak-dalam-islam-demi-kebaikan-anak/

Leave a Reply