Hari Batik Nasional, PRA Kadipaten Wetan dan Ngasem Gelar Pelatihan Membatik

Berita 4 Okt 2021 0 53x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Sabtu (2/10), Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Kadipaten Wetan dan Ngasem, Kota Yogyakarta, mengadakan pelatihan membatik di Batik Darmo, Kraton Yogyakarta. Kegiatan ini diselenggarakan dengan melibatkan perwakilan ibu-ibu Ranting ‘Aisyiyah Kadipaten Wetan.

Saffana Intani selaku Sekretaris PRA Kadipaten Wetan dan Ngasem, Kraton, Kota Yogyakarta, mengungkapkan, latar belakang kegiatan ini dilaksanakan adalah: pertama, dalam rangka memperingati hari batik nasional; kedua, meningkatkan keterkaitan sejarah Muhammadiyah‘Aisyiyah dengan batik Indonesia; ketiga, menambah keterampilan perempuan berkarya sekaligus untuk mencari peluang untuk tetap produktif di masa pandemi.

“Ini kami sudah merencanakan untuk menindaklanjuti dengan pelatihan batik yang lebih serius. Kemarin kami baru latihan membatik di masker. Ini kami baru berunding untuk mengadakan pelatihan membatik di kain yang lebih panjang seperti jarik (Jawa),” ungkap Saffana.

Baca Juga: Perjuangan Siti Walidah Mengangkat Derajat Perempuan

Mengingat situasi saat ini masih pandemi, Saffana mengatakan, jumlah peserta yang boleh ikut dibatasi, sehingga kegiatan tetap disiplin protokol kesehatan secara ketat. Ia menambahkan, ke depan kalau pesertanya semakin banyak akan dibuat secara bertahap atau bergantian.

Metode membatik yang digunakan adalah batik tulis. Menurutnya, ini adalah pengalaman yang lucu sekaligus menantang, karena para peserta belum terlatih. Kata Saffana, batik yang dihasilkan banyak yang tebal lilinya bahkan ada juga yang kurang lilinnya, sehingga motifnya menjadi blur dan tidak jelas. “Tetapi memang ibu-ibu tidak pantang menyerah, dan tetap tertantang. Ibu-ibu tidak hanya gaptek soal IT, teknologi konvensional pun tak kalah gapteknya,” ujar Saffana.

Sementara itu, Enggarwari selaku Wakil Ketua PRA Kadipaten Wetan dan Ngasem mengatakan, dalam membuat batik diperlukan kesabaran, ketekunan, dan keseriusan. Menurutnya, kalau menjalaninya dengan serius dan mempunyai niat akan cepat menguasai, namun jika tidak serius dan tidak mempunyai niat, maka lama untuk menguasainya.

Mengenai alasan dilakukannya pelatihan membatik ini, menurut Enggarwari, adalah untuk melestarikan warisan budaya luhur, sedangkan tujuannya adalah agar ibu-ibu ‘Aisyiyah punya pengalaman dan bisa menambah pendapatan keluarga. Ia berharap, keberadaan batik ini tidak punah sampai kapanpun. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *