Kalam

Hari Mulia, Ini Dalil Puasa Asyura

Puasa

Secara bahasa, Muharram berarti haram. Artinya suci atau terlarang. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam sistem kalender Islam/Hijriah. Penetapan itu untuk menandai peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah sebagai momen pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Keutamaan bulan Muharram disebut oleh Nabi Muhammad saw. Beliau menjelaskan bahwa Muharram adalah bulan Allah (syahrullah). Disandarkannya Muharram pada lafadz Allah menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.

Selain dimuliakan oleh umat Islam, Muharram juga dimuliakan oleh orang Yahudi dan Nasrani, terutama pada hari Asyura. Salah seorang sahabat berkata, “wahai Rasulullah, hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani (تعظّمه اليهود والنصارى)”.  Nabi saw. lalu bersabda,

فأنا أحقّ بموسى منكم. فصامه وأمر بصيامه

Artinya, “kami (kaum muslimin) lebih berhak menghormati Musa daripada kalian”. Kemudian Nabi Muhammad berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa” (HR. Bukhari).

Sunnah Berpuasa

Salah satu amalan yang disunnahkan pada bulan Muharram adalah puasa pada hari Tasua dan Asyura (9 dan 10 Muharram). Sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, Rasulullah terlebih dahulu memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari kesepuluh Muharram.

Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, Nabi saw. mempersilakan umat Islam untuk berpuasa atau tidak.

Artinya, “dari ‘Aisyah ra: dahulu hari Asyura adalah hari-hari yang dipergunakan orang-orang jahiliyah untuk melakukan puasa. Tatkala datang bulan Ramadan, beliau saw. bersabda: barangsiapa yang ingin berpuasa ‘Asyura hendaklah ia berpuasa, dan bagi yang tidak ingin, maka berbukalah” (HR. Bukhari).

Baca Juga: Amalan Sunnah di Bulan Muharram

Adapun puasa tasua merupakan sunnah hammiyah, suatu amalan sunnah yang belum sempat dilakukan oleh Nabi saw. semasa hidup. Dikisahkan para sahabat waktu itu menyampaikan kepada Nabi bahwa hari Asyura merupakan hari yang dimuliakan oleh umat Yahudi dan Nasrani. Mengetahui itu, Rasulullah saw. lalu berencana untuk berpuasa pada hari kesembilan bulan Muharram pada tahun depan. Akan tetapi, Rasulullah terlebih dahulu wafat.

صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya, “Rasulullah saw. berpuasa pada hari Asyura dan juga memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata: wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw. bersabda: “pada tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram)”. Tahun depan itu pun tak kunjung tiba hingga Rasulullah saw. wafat” (HR. Muslim). (bariqi)

Related posts
Kalam

Dalil Puasa Sunnah Tanggal 9 dan 10 Muharram

Muharram adalah bulan Allah (syahrullah). Disandarkannya Muharram pada lafadz Allah menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. Selain dimuliakan oleh umat Islam, Muharram juga dimuliakan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *