Harmoni Agama dan Seni Budaya

Liputan 14 Jul 2020 0 43x

Ditemui di kediamannya, Budayawan Jogja Charis Zubair menyampaikan, secara universal manusia punya tiga potensi kemanusiaan; pertama, imajinasi. Potensi ini menjadikan manusia memiliki kemampuan untuk berkhayal, berkreasi, berkarya, berkesenian, dan membaca hal-hal yang bersifat simbolik. Kedua, rasionalitas, yakni kemampuan manusia dalam memahami sebab-musabab kehidupan yang bersifat konkret. Ketiga, hati nurani. Potensi untuk memahami bahwa manusia bukanlah semata makhluk jasmani, melainkan juga makhluk rohani, mengantarkan pada suatu upaya untuk memperbaiki moralitas, akhlak, dan sikap terhadap sesama makhluk.

Ketiganya, kata Charis, harus saling mengisi agar terjadi keseimbangan. Misalnya, imajinasi harus disertai dengan ilmu. Sebab jika berhenti sebatas pada khayalan, ia dapat menjadi takhayul. Oleh karena itu, kesenian yang merupakan hasil dari kebudayaan harus diisi dengan rasionalitas, ilmu, serta moralitas. “Kesenian yang luhur dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan imajinasi adalah kesenian yang keindahannya menggetarkan, mengangkat jiwa, memperbaiki akhlak, dan mengangkat keluhuran budi manusia,” ucap Charis.

Mengingat tiga potensi tersebut merupakan anugerah yang diberikan Allah swt., maka ketiganya harus dijadikan perantara agar manusia beriman dan bertakwa pada-Nya. Sehingga kurang tepat jika membenturkan secara konfliktual antara seni dan budaya secara lebih umum dengan agama. Sebab, menurut Charis, selain budaya merupakan cara manusia menjawab persoalan-persoalan alam dan lingkungan, budaya juga merupakan ayat-ayat Tuhan (ayat kauniyah) yang dihamparkan kepada manusia, yang apabila disadari dan dikembangkan akan mengantarkan pada pengakuan atas Kemahabenaran dan Kemahaindahan Allah swt. “Apa yang ada di antara langit dan bumi itu bisa kita kembangkan sebagai ilmu. Tapi ilmu tidak boleh mandeg pada rasionalitas. Harus sampai kepada Kemahabenaran Tuhan”.

Seni Budaya dalam Muhammadiyah-‘Aisyiyah

Tidak benar jika dikatakan bahwa Muhammadiyah-‘Aisyiyah anti terhadap seni dan budaya. Bahkan dapat dibilang, hubungan antara Muhammadiyah-‘Aisyiyah dengan seni dan budaya sangat akrab. Jika dikaji secara historis, banyak di antara pimpinan Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang juga merupakan seniman. Seni, kata Sukriyanto AR selaku Ketua Lembaga Seni Budaya Olahraga PP Muhammadiyah, adalah bagian dari kehidupan Kiai Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Jiwa seni Kiai Dahlan kemudian menurun kepada anaknya, Kiai Siraj Dahlan dan Raden Haji Duri. Djarnawi Hadikusumo dan AR. Fachrudin juga dikenal sebagai seorang seniman.

Meski begitu, Sukriyanto AR menjelaskan, seni dan budaya menjadi kurang hidup di Muhammadiyah-‘Aisyiyah sejak muncul pandangan yang mengatakan seni dan budaya itu bid’ah bahkan haram. Sementara beberapa di antara warga Muhammadiyah-‘Aisyiyah terpengaruh pada pandangan tersebut. Pandangan tersebut didasarkan pada beberapa ayat al-Qur’an dan hadis yang dipahami secara harfiah.

Sukriyanto menegaskan bahwa maksud Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan yang merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah, sama sekali tidak berarti Muhammadiyah anti terhadap seni dan budaya. Senada dengan itu, Charis Zubair juga mengatakan, sikap Muhammadiyah terhadap seni dan budaya itu bukan reaktif, tapi proaktif. Maksudnya, terhadap kesenian atau kebudayaan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, Muhammadiyah tidak menghancurkan atau menghilangkan sama sekali, tetapi mengkritisi dan me-lakukan modifikasi. (Sirajuddin).

Baca selanjutnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3, Maret 2020

Sumber ilustrasi : kliping.co

 

Leave a Reply