Harmonisasi Kehidupan Alam Semesta (1)

Kalam 15 Aug 2020 0 79x

Oleh : Gatot Supangkat Samidjo (Agroteknologi FP dan Program Profesi Insinyur FT UMY, Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah)

Alam semesta seringkali dipahami sebagai alam sekitar kehidupan manusia. Pandangan tersebut kemudian yang melahirkan pemikiran dikotomis (manusia dan alam) dalam kehidupan manusia. Inilah yang membentuk perilaku hubungan manusia terhadap alam. Dikotomisasi cara pandang dan perilaku seperti itu yang  kemudian menimbulkan permasalahan serius dalam kehidupan manusia sendiri. Oleh karena itu, diperlukan upaya perubahan secara radikal (mendasarkan pada akar masalah) terhadap cara pandang manusia terhadap alam. Perubahan cara pandang secara radikal diharapkan mampu mengubah dan membangkitkan kesadaran serta perilaku manusia terhadap alam agar menjadi lebih bijaksana.         

Landasan Filosofis Kehidupan

Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang lingkungan, mari kita pahami riwayat yang tersurat dalam al-Quran  yang berfungsi menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia secara universal apabila kita mampu memetik hikmahnya. Allah dengan tegas berfirman bahwa Ia akan menjadikan (menciptakan) khalifah di bumi. Hal itu kemudian dipertanyakan oleh Malaikat, “Mengapa Engkau (Allah) akan menciptakan khalifah (manusia) yang akan membuat kerusakan?” Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh Allah, “Sesungguhnya Aku lebih tahu apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah: 30). Setelah itu, Allah memberikan kelengkapan manusia yang telah dipilih sebagai khalifah dengan akal dan pikiran sehingga melebihi makhluk Allah lainnya (al-Baqarah: 31 – 34; al-An‘am: 165). 

Inilah landasan filosofis ilahiyah manusia sebagai makhluk hidup yang paling dominan  secara ekologis di ekosistem bumi (alam semesta). Namun, sebenarnya tingkah laku atau perbuatan manusia sebagai khalifah di bumi akan selalu dimonitor oleh Allah (al-A’raaf). Apabila terjadi penyimpangan dari petunjuk yang telah digariskan-Nya, manusia akan menanggung kerugian (Faatir: 39). Selanjutnya, dituntunkan juga bahwa sebagai khalifah, manusia harus berbuat adil dalam berperilaku dan tidak mengumbar hawa nafsu agar terhindar dari mala petaka/azab ( ar-Rahmaan: 8 – 9; Shaad: 26). 

Berdasarkan uraian di atas, sebenarnya telah jelas landasan perilaku manusia dalam kehidupannya, apakah mau merusak atau memelihara dan melestarikan karena semua itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bagaimana bentuk hubungan manusia dengan sesama makhluk Allah secara luas (alam sekitar/lingkungan) tergantung kepada manusia sendiri.

Bentuk Hubungan Manusia dengan Alam

Bentuk hubungan manusia dengan alam dapat dilihat pada Gambar 1. di bawah. Tampak dalam gambar itu, dua bentuk hubungan antara manusia dengan alam, yaitu alam mengatur manusia  (natural man) dan manusia mengatur alam (cultural man). Bentuk pertama akan melahirkan sikap yang mengikuti saja kondisi alam apa adanya, baik kuantitas maupun kualitasnya (fasisme ekologi).  Di sisi lain, bentuk kedua akan melahirkan sikap dan perilaku terhadap alam tergantung keinginan manusia sendiri (populis ekologi). Bentuk kedua hu-bungan tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya sehingga diperlukan kombinasi keduanya agar melahirkan sikap dan perilaku ramah lingkungan (eco friendly).

Secara teologis,  ada tiga bentuk hubungan manusia dengan alam.

Baca selanjutnya di Harmonisasi Kehidupan Alam Semesta (2)

Leave a Reply