Harmonisasi Kehidupan Alam Semesta (2)

Kalam 15 Aug 2020 0 84x

Lanjutan dari Harmonisasi Kehidupan Alam Semesta (1)

Secara teologis,  ada tiga bentuk hubungan manusia dengan alam. Pertama, hubungan keimanan dan peribadatan. Alam semesta berfungsi sebagai sarana bagi manusia untuk mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah (beriman kepada Allah) karena alam semesta adalah tanda atau ayat-ayat Allah. Manusia dilarang memperhamba alam dan dilarang menyembah kecuali hanya kepada Allah yang Menciptakan Alam.

Kedua, hubungan pemanfaatan yang berkelanjutan. Alam dengan segala sumber dayanya diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Pemanfaatan sumber daya alam untuk menunjang kehidupan ini harus dilakukan secara wajar, tidak boleh berlebihan atau boros. Demikian pula tidak diperkenankan pemanfaatan sumber daya alam yang hanya untuk memenuhi kebutuhan bagi generasi saat ini, sementara hak-hak pemanfaatan bagi generasi mendatang terabaikan. Manusia dilarang pula melakukan penyalahgunaan pemanfaatan dan atau perubahan alam dan sumber daya alam  untuk kepentingan tertentu, sehingga hak pemanfaatannya bagi semua kehidupan menjadi berkurang atau hilang.

Ketiga, hubungan pemeliharaan untuk semua makhluk. Manusia mempunyai kewajiban memelihara alam untuk keberlanjutan kehidupan, tidak hanya bagi manusia saja, akan tetapi bagi semua makhluk hidup yang lainnya. Tindakan manusia dalam pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan dan mengabaikan asas pemeliharaan dan konservasi, sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi dan kerusakan lingkungan merupakan perbuatan yang dilarang (haram) dan akan mendapatkan hukuman. Sebaliknya, manusia yang mampu menjalankan peran pemeliharaan dan konservasi alam dengan baik, baginya tersedia balasan ganjaran dari Allah swt.

Manusia dalam hubungannya dengan Allah, berhubungan pula dengan alam sebagai sesama makhluk ciptaan Allah. Dalam berhubungan dengan Allah ini, manusia memerlukan alam sebagai sarana untuk mengenal dan memahami Allah (yakni: alam adalah ayat-ayat kauniah Allah). Manusia juga memerlukan alam (misalnya: pangan, papan, sandang, alat transportasi dan sebagainya) sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah.

Kita perlu lebih dahulu memahami fungsi dasar dari alam (lingkungan). Fungsi alam yakni pemenuhan kebutuhan dan pelayanan. Alam dengan segala sumber dayanya telah diciptakan Allah untuk melayani kebutuhan manusia, dan Allah telah menundukkan alam kepada manusia (QS: 2: 29; 31: 20; dan 45:12). Ketundukan alam terhadap manusia atas perintah Allah ini, tidak bermakna bahwa manusia bebas melakukan apa saja terhadap alam (sebagaimana paham antroposentris dan materialis), tanpa harus  mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Yang Menciptakan Alam. 

Ketundukan alam ini sebenarnya mengandung pesan bahwa Tuhan Allah swt. berperan dalam proses kejadian alam dan segala sesuatu yang terjadi di alam ini. Alam ditundukkan kepada manusia, juga menyiratkan pesan bahwa manusia memang menjadi pemimpin (khalifah) bagi alam (bumi), dan kepemimpinannya ini juga atas kehendak dan campur tangan Allah swt. Fungsi dan peran  ini merupakan landasan ideal untuk melahirkan atau mengembangkan asas legal perlunya perlindungan dan tindakan konservasi sumberdaya alam/lingkungan.

Fungsi  alam dengan segala sumber daya alamnya, bukan hanya untuk melayani atau memenuhi kebutuhan manusia saja, akan tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup lainnya. Hukum-hukum (agama) Islam yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam yang dikembangkan berdasarkan konsep ini dengan demikian harus secara eksplisit dan tegas menyatakan bahwa segala sumber daya ciptaan dan atau anugerah Tuhan diperuntukkan bagi semua makhluk hidup, bukan hanya untuk manusia. 

Oleh karena itu, semua makhluk hidup yakni manusia, hewan maupun tumbuhan,  mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkan karunia Tuhan berupa sumber daya alam. Manusia diperkenankan memanfaatkan sumber daya alam untuk mempertahankan hidup dan melanjutkan kehidupannya serta untuk kemashlahatan umum, akan tetapi tidak boleh berlebihan (israf), berbuat aniaya (dzalim) dan berbuat kerusakan (fasad). Pesan ini berkali-kali disebut oleh Allah swt. dalam al-Quran. Untuk itu, perlu kita pahami bagaimana pula terjadinya kerusakan lingkungan dan siapa saja yang andil dalam proses-nya.

Baca selanjutnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2020

Leave a Reply