Hasil Sidang Tanwir Sekapat, Tunda Muktamar Sampai Tahun 2022

Berita 19 Jul 2020 0 127x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah- Sidang Tanwir Muhammadiyah- ‘Aisyiyah ke III “Hadapi Covid-19 dan Dampaknya : Beri Solusi untuk Negeri” sepakat untuk menuda Muktamar sampai tahun 2022. Hal tersebut dibacakan langsung oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti  (19/07). 

Pertama, Mengesahkan penundaan Muktamar Muhammadiyah Ke-48 dan Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 di Surakarta.

Kedua, Muktamar Muhammadiyah Ke-48 dan Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 di Surakarta dilaksanakan sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah pada tahun 2022 setelah pelaksanaan ibadah haji. 

Ketiga, Apabila pada tahun 2021 keadaan benar-benar aman dari segi kesehatan dan berbagai aspek lainnya maka dapat dibuka kemungkinan pelaksanaan Muktamar tahun 2021 dengan mempertimbangkan maslahat-mudharat, dan kemudahan pelaksanaannya.

Keempat, Segala konsekuensi dari penundaan pelaksanaan Muktamar yang berkaitan dengan regulasi organisasi tetap sah adanya, termasuk di dalamnya perpanjangan masa jabatan pimpinan dari pusat sampai ranting.

Kelima, Sesuai dengan kewenangannya Pimpinan Pusat Muhammadiyah menindaklanjuti hasil-hasil Tanwir terkait dengan perubahan waktu pelaksanaan Muktamar dan pelaksanaan Permusyawaratan di bawah Muktamar serta hal-hal lain yang terkait dengan pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke 48 dan Muktamar ‘Aisyiyah ke-48.

Keenam, Musyawarah Wilayah Sampai dengan Musyawarah Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dengan sendirinya mundur/ditunda yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah/Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Ketujuh, Mengamanatkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mentanfidzkan dan memimpinkan pelaksanaan Keputusan Tanwir Muhammadiyah ke-48 dan Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 tahun 2020 tersebut dengan seksama dan sebagaimana mestinya.

“Alhamdulillah kita telah menyelesaikan permusyawaratan Tanwir ini dengan saksama, lancar dan penuh diskusi yang mendalam. Hal ini sekaligus menunjukkan khazanah pemikiran yang cukup kaya dan luar biasa,” ucap Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah dalam pidato penutupannya. 

Terkait penundaan muktamar, nyatanya peristiwa darurat seperti ini pernah terjadi pada tahun 1985. Saat itu, tengah ada masalah terkait soal UUD Ormas dan penetapan asas unggal pancasila. “Pengalaman itu begitu rupa, 2 tahun lebih PP Muhammadiyah melakukan ikhtiar agar Muktamar tetap dilaksanakan walaupun mundur, dan akhirnya dapat diselesaikan dengan cara yang baik,” ungkap Haedar. 

Maka, pengalaman ini, Haedar berharap kelak menjadi inspirasi dan aspirasi bagi para kader pimpinan Muhammadiyah-’Aisyiyah di seluruh tingkatan. Pun, semakin ‘arif dan bijak dalam menghadapi berbagai situasi. “Mudah-mudahan setelah Tanwir ini, kita menjadi kaya rasa, hati dan satu sistem dalam berperan untuk kemajuan bersama bagi umat kemanusiaan semesta,” tutupnya. (Gustin Juna)

 

 

 

 

Leave a Reply