Berita

Hening Parlan Ajak Umat Islam Gencarkan Eco Jihad

Riau, Suara ‘Aisyiyah Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana ‘Aisyiyah dari tingkat pusat sampai ke daerah pekerjaannya tidak lepas dari urusan lingkungan dan bencana. Demikian ini disampaikan Hening Parlan saat menjadi narasumber webinar bertajuk “Rehabilitasi dan Fakta Mangrove sebagai Perisai dan Penyangga Kehidupan” yang diselenggarakan oleh Fakultas Biologi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) bekerja sama dengan LLHPB PWA Riau, Selasa (15/2).

Lingkungan dan bencana, kata dia, menjadi peringatan sekaligus pekerjaan yang tidak pernah berhenti karena generasi terus berganti. “Kalau kita bicara tentang lingkungan dan bencana, artinya kita bicara tentang generasi yang akan datang,” tuturnya.

Hening menyajika data dari Peta Mangrove Nasional (PNM) 2021 meliputi: pertama, terdapat perubahan luasan yang cukup signifikan luas eksisting mangrove dari Peta Mangrove Nasional/PMN 2013-2019 sebesar 3,311,245 Ha, dan hasil pemutakhiran PMN di tahun 2021 menjadi seluas 3.364.080 Ha.

Kedua, hasil pemutakhiran PMN tahun 2021 adalah luasan potensi habitat mangrove sebesar 756.183 Ha. Potensi habitat mangrove adalah bagian dari ekosistem mangrove yang secara karakteristik lahannya sesuai untuk habitat mangrove, namun kondisi saat ini tidak terdapat vegetasi mangrove. Berbagai macam kondisi penutupan lahan ekosistem mangrove saat sekarang yang diindentifikasi dalam pemutakhiran PMN tahun 2021 ini adalah mangrove terabrasi, area terabrasi, lahan terbuka, tambak dan tanah timbul.

“Jadi ini tidak terdapat dalam vegetasi. Berbagai kondisi teridentifikasi berada di lokasi abrasi, ada yang terbuka, ada yang tambak dan ada yang di tanah timbul. Jika kita telusuri lagi data pemutakhiran ini, sebenarnya dia bicara tentang semua yang bisa ditanami, yang itu pernah rusak, yang itu pernah ada sehingga semua terdata. Butuh kerja-kerja mewujudkan ini menjadi muncul lagi di permukaan, maka hati-hati mengatakan bahwa mangrove kita masih lestari,” terang Hening.

Menurut Koordinator Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP ‘Aisyiyah ini, ada 5 (lima) poin untuk menjawab pertanyaan mengapa hutan mangrove itu penting? Kelima poin tersebut adalah: (a) menyimpan karbon 50 kali lebih banyak dibanding hutan tropis dataran tinggi; (b) meredam gelombang besar termasuk tsunami; (c) hutan mangrove dapat melindungi bangunan tanaman pertanian dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam; (d) tempat habitat bagi 100 lebih jenis ikan yang hidup di area mangrove, dan; (e) membantu proses pengendapan lumpur yang berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur.

“Agar ketika kita lihat mangrove, tidak gemas untuk menebangnya. Ada yang berpendapat lebih baik ditembok saja di pinggir laut daripada menanam mangrove. Ini salah, karena alam treatmen-nya harus dengan alam yang paling kuat,” tandasnya.

Baca Juga: Gelar Webinar, LLHPB PWA Riau dan Mahasiswa UMRI Siap Tanam Mangrove

Dia menjelaskan, pada tahun 2011, ada lebih dari 2000 ilmuwan yang berkumpul untuk memberikan konstruksi atau rangkuman terhadap situasi bumi. Para ilmuwan tersebut bersepakat bahwa, sekarang ini situasi bumi berada pada titik merah.

Jika tidak ada langkah yang sangat luar biasa terhadap segala hal yang menyebabkan tingginya kerusakan bumi, maka suhu bumi akan meningkat 1,1 derajat dan bencana akan sangat banyak terjadi.

“Di kurun waktu 20 sampai 30 tahun terakhir, ada langkah-langkah penting yang harus dilakukan oleh semua orang di dunia, melakukan kegiatan mengurangi panas dan karbon agar tidak terlalu mempengaruhi meningkatnya suhu bumi,” kata Hening.

Oleh karena itu, menurut Hening, Eco Jihad menjadi keharusan bagi umat Islam. Merupakan sebuah langkah yang harus segera di dengungkan, dilafaskan dalam ucapan dan hati lalu dilakukan dalam semua tata kelola, baik dalam komunitas, pemerintahan maupun pihak swasta.

“Mengapa Eco Jihad? Karena dampak perubahan iklim bukan tidak lagi bisa di tangani dengan biasa-biasa saja, namun ada keterdesakan untuk melakukan dengan segera. Ramadhan adalah bulan suci di mana kita semua lebih berdialog dengan mata batin kita untuk berkatarsis dan menemukan makna dan cara yang paling tepat pada hal-hal penting disekitar kita. Ini menjadi momen yang tepat untuk melakuan revolusi pada pengelolaan lingkungan,” terangnya.

Menjelang Ramadhan, Hening mewanti-wanti agar ketika belanja kebutuhan Ramadhan sesuai dengan kebutuhan. Karena Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam menjadi negara pembuang makanan terbesar di dunia. Hal ini tentu mubazir dan berdampak buruk bagi lingkungan. (Iwan Abdul Gani/sb)

Related posts
Berita

Gelar Webinar, LLHPB PWA Riau dan Mahasiswa UMRI Siap Tanam Mangrove

Siak, Suara ‘Aisyiyah – Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem alamiah yang unik dengan nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Pemanfaatan ekosistem…
Berita

Lazismu DIY Tanam 1000 Mangrove

Bantul, Suara ‘Aisyiyah – Menjalankan program lingkungan, Lazismu DIY melakukan aksi peduli alam dengan menanam 1000 pohon mangrove di wilayah konservasi mangrove…
Berita

Green ‘Aisyiyah: Upaya Menyelamatkan Bumi dari Perubahan Iklim

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dalam rangka merespons bencana yang merupakan dampak perubahan iklim, Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.