Hening Parlan: Program LLHPB Harus Berkelanjutan

Berita 26 Mar 2021 0 43x
Berita Aisyiyah

Pemaparan Program LLHPB

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan diskusi bertajuk “Peran ‘Aisyiyah dalam Isu Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana” pada Kamis (26/3). Kegiatan yang diselenggarakan secara daring ini menghadirkan Hening Parlan selaku Kepala Divisi Lingkungan Hidup di Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Dalam kesempatan tersebut, Hening menyampaikan bahwa perhatian ‘Aisyiyah terhadap lingkungan hidup sudah berlangsung lama, terutama terkait upaya-upaya penanggulangan bencana. Meski begitu, secara formal, lembaga yang membidangi isu lingkungan hidup baru diresmikan pada tahun 2015 dalam forum Muktamar ke-47 di Makassar.

Pemberian nama Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) bukan tanpa alasan. Menurut Hening, persoalan lingkungan hidup dan penanggulanan bencana tidak dapat dipisahkan mengingat banyak sekali peristiwa bencana yang diakibatkan oleh faktor cuaca (hidrometeorologi), seperti banjir, longsor, badai, dan sebagainya.

Ketika persoalan lingkungan dan penanggulangan bencana dipisah dalam sebuah lembaga yang berbeda, jelas Hening, maka akan terjadi kesulitan dan kerumitan dalam pembagian tugasnya, misalnya tugas mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan sebagainya. Oleh karenanya, Hening menganggap langkah ‘Aisyiyah ketika menggabungkan keduanya sebagai pilihan yang tepat dan strategis.

Memasuki tahun keenam sejak diresmikan, LLHPB telah melakukan banyak kegiatan, baik yang berupa seminar, pelatihan, maupun aksi-aksi di lapangan. “Terkait dengan lingkungan, misalnya, ‘Aisyiyah telah melakukan kegiatan yang sifatnya awareness (penyadaran), penanaman pohon, pengolahan sampah, air, asbestos, dan sebagainya,” jelas Hening.

Sebagai sebuah lembaga yang punya konsentrasi seputar isu lingkungan hidup dan kebencanaan, Hening sadar bahwa LLHPB memang masih terhitung lembaga baru. Oleh karenanya, peningkatan kapasitas, upaya koordinasi dan konsolidasi anggota menjadi sangat penting. Lebih lanjut, menurutnya, sukses atau tidaknya program yang sudah dirancang bukan diukur dari besar dana yang diterima atau kegiatan yang sudah dikerjakan, melainkan seberapa besar program tersebut punya nilai engagement (keterikatan) dan kepemilikannya di ‘Aisyiyah, baik secara kelembagaan maupun komunitas.

Atas dasar itu, Hening menganjurkan agar LLHPB merancang program yang tidak sekadar jalan lalu ditinggalkan, tapi kegiatan yang berkelanjutan. “Ibarat seorang Ibu yang merawat dan menjaga anaknya dengan baik dan tulus,” ujar Hening. (SB)

Leave a Reply