Hijrah dan Syar`i dalam Pandangan Islam Berkemajuan (1)

Kalam 8 Apr 2020 0 214x

Oleh : Lailatis Syarifah, Lc., M.A. (Dosen UIN Sunan Kalijaga, Anggota MPK PP ‘Aisyiyah, Anggota MTT PP Muhmmadiyah)

Saat ini, fenomena hijrah dan syar’i menjadi tren di kalangan generasi muda Indonesia, terutama di kota-kota besar. Istilah hijrah sering mengambil konsep yang menyatakan bahwa menjadi Muslim saja tidaklah cukup, tetapi haruslah menjadi Muslim yang kaffah dalam artian mengamalkan ajaran Islam yang murni sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasul dan para sahabatnya (salaf ash-shâlih). Sedangkan syar`i lebih menekankan pada fashion dan cara berpakaian, terutama pakaian untuk perempuan muslimah. Istilah syar`i kemudian sering disandingkan dengan pakaian seperti gamis, jilbab, dan kerudung, seperti pakaian syar`i, jilbab syar`i, maupun kerudung syar`i.

Berkah dunia digital, fenomena tersebut cepat menjadi viral dan memicu berbagai macam reaksi dari masyarakat. Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi masyarakat Muslim terbesar di Indonesia, juga tidak bisa melepaskan diri dari fenomena ini. Muhammadiyah harus mampu memberikan jawaban bagi umat yang latah dan bingung dalam menghadapi fenomena ini, sekaligus memberi arahan kepada anggotanya yang sebagian besar juga merupakan generasi muda.

Visi Muhammadiyah abad kedua adalah Islam berkemajuan (Dîn al-Hadhârah) dan gerakan pencerahan at-Tanwîr), yaitu Islam yang mengan-dung nilai-nilai berkemajuan untuk mencerahkan umat serta melaksanakan praksis gerakan untuk pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan kehidupan. Visi ini sesuai dengan hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid yang memiliki dua makna yaitu pemurnian dalam akidah dan ibadah, serta dinamisasi dalam muamalah dunyawiyah.

Visi ini juga terinspirasi dari ayat-ayat al-Quran sebagai berikut,

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا (البقرة :119)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus kamu (Muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan juga peringatan (Q.S. al-Baqarah: 119)

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ (البقرة :257)

Artinya: Allah adalah penolong orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (Q.S. al-Baqarah: 257)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء :107)

Artinya: Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta (Q.S. al-Anbiya: 107)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad adalah Islam yang memberikan kabar baik sekaligus peri-ngatan kepada manusia. Islam adalah agama yang mengajak manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Dengan demikian, Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam.

Kegelapan (dzulumât) dimaknai sebagai segala hal yang membuat manusia berada dalam situasi tidak baik dan cahaya (nûr) adalah keadaan yang sebaliknya. Jadi, kebodohan adalah dzulumât, sedangkan ilmu pengetahuan adalah nûr. Kemunduran, keterbela-kangan, ketidakberdayaan juga merupakan dzulumât. Adapun kemajuan, kemandirian, dan kebebasan adalah nûr.

Visi Islam berkemajuan sejatinya merupakan esensi dari ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, pilar-pilarnya pun tidak lepas dari ajaran inti dari Islam yaitu: (1) menegakkan tauhid yang murni; (2) berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah; (3) melembagakan kesalehan sosial; (4) berorientasi kekinian; serta (5) bersikap toleran, moderat, dan suka bekerjasama.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 1 Januari 2020, hlm. 8-9

Sumber Ilustrasi : https://fajar.co.id/2020/01/09/doa-mendatangkan-rezeki-dengan-cepat/

Leave a Reply